Penghasilan Sopir Angkot di KBB Menurun 60% Sejak Corona Mewabah

Bandung Raya

Minggu, 29 Maret 2020 | 13:23 WIB

200329131648-pengh.jpg

Dicky Mawardi

SEJAK corona mewabah, pendapatan angkutan umum di Kabupaten Bandung Barat turun hingga 60 persen. Libur sekolah, banyak pegawai diliburkan dan imbauan untuk tetap di rumah secara otomatis mengurangi orang bepergian.

Demikian diungkapkan Ketua Organda Kabupaten Bandung Barat Asep Dedi Setiawan kepada galamedianews.com, Ahad (29/3/2020).

Kondisi ini jika berlangsung lama akan semakin memperburuk masyarakat transportasi. "Orang mau bepergian jadi takut, lebih baik diam di rumah. Lain halnya bagi pemilik angkum dan para awaknya harus tetap mencari nafkah di jalanan. Sehari tak jalan, darimana biaya hidup sehari-hari. Sementara kondisi saat ini, seolah kita hanya jualan jok kosong," kata Asep yang akrab dipanggil Ucok ini.

Di sisi lain, lanjut Asep, pemilik atau pengusaha angkum juga dikejar cicilan kredit kendaraan. Dengan pendapatan yang menurun drastis semakin menyulitkan untuk membayar cicilan kredit.

"Cicilan yang harus dibayar pemilik angkum berkisar antara Rp 2 juta-Rp 3 jutaan per bulan. Dengan jangka waktu kredit 3-4 tahun. Sekarang bisa dapat Rp 100.000 saja susahnya minta ampun bagaimana bisa membayar cicilan kredit," ungkapnya.

Ia menyarankan kepada pemerintah pusat agar memberikan keringanan atau penangguhan cicilan kepada pengusaha angkum. Jika kondisi ini tidak segera berlalu akan banyak pengusaha angkum yang tidak bisa membayar cicilan kendaraan.

"Kalau sudah menunggak cicilan risiko yang dihadapi pengusaha, kendaraannya ditarik pihak leasing. Itu artinya pendapatan mereka jadi hilang dan imbasnya pada awak angkum ," tandasnya.

Ia berharap pemerintah pusat bisa menerapkan kebijakan seperti kepada tukang ojek, sopir taksi, maupun nelayan yang saat ini memiliki cicilan kredit diberikan kelonggaran selama setahun.

"Kami pun ingin diberlakukan sama. Bukankah kami juga sama-sama mencari nafkah di jalan, bahkan kami sudah lebih dahulu menjadi alat transportasi umum," tuturnya.

Ia menambahkan, di tengah merosotnya pendapatan keadaan sebaliknya terjadi pada harga spare part kendaraan bermotor yang ikut melonjak. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika memicu terjadinya kenaikan harga.

"Sekarang mah kalau tidak bisa kebeli spare part, ya enggak narik," ucapnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR