Kemenag Siapkan Mitigasi Jika Pelaksanaan Ibadah Haji Dibatalkan

Haji

Sabtu, 28 Maret 2020 | 17:34 WIB

200328172957-kemen.jpg

AFP

Suasana Masjidil Haram, Mekah setelah mewabahnya virus Corona.

MENTERI Agama Fachrul Razi menyampaikan, sampai saat ini, Kementerian Agama terus memantau perkembangan kebijakan Arab Saudi terkait penyelenggaraan haji 1441 H/2020. Bersamaan itu, Kemenag juga menyiapkan dua skema penyelenggaraan haji tahun ini yakni tetap diselenggarakan atau dibatalkan.

"Kemenag terus mengikuti dan memantau perkembangan kebijakan Pemerintah Arab Saudi terkait penyelenggaraan haji, termasuk perkembangan pembatasan ibadah yang dilakukan Arab Saudi di dua kota suci, Mekah dan Madinah. Kita juga menyiapkan mitigasi kalau pelaksanaan ibadah haji dibatalkan oleh Pemerintah Arab Saudi," ujar Menag di Jakarta, dalam keterangan resminya, Sabtu (28/3/2020).

Menurut Menag, sampai saat ini persiapan pelayanan di Arab Saudi terkait pengadaan pelayanan akomodasi, transportasi darat dan katering terus berjalan. Namun, sesuai surat dari Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, pembayaran uang muka belum dilakukan. Termasuk untuk penerbangan.

"Proses pengadaan layanan juga terus berjalan hingga kontrak, namun belum ada pembayaran uang muka," kata Menag.

Begitu juga di dalam negeri, pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) juga masih berproses. Sampai Jumat kemarin (27/3/2020) tercatat sudah 83.337 jemaah calon haji regulier yang melakukan pelunasan. Untuk tahap awal, pelunasan ini akan berlangsung hingga 30 April 2020.

"Jika ternyata haji tahun ini dibatalkan, dana yang disetorkan saat pelunasan, dapat dikembalikan lagi ke jemaah," ujar Menag seperti ditulis wartawan "PR", Sarnapi.

Sedangkan untuk mengantisipasi penyebaran virus Covid-19, Kemenag sementara menunda pelaksanaan bimbingan manasik haji secara konvensional yang melibatkan kerumunan massa. Kemenag tengah memfinalkan beberapa skenario pelaksanaan manasik, antara lain distribusi buku manasik ke jamaah agar bisa dijadikan bahan bacaan, memanfaatkan media televisi dan radio untuk proses pembelajaran, menggunakan sarana pembelajaran daring, atau edukasi dan sosialisasi melalui media sosial

"Skema ini sedang difinalkan. Semoga bisa direalisasikan dalam waktu dekat ini," jelas Menag.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR