Kasus Penularan Lokal Nihil, Cina Larang WNA Masuk

Dunia

Sabtu, 28 Maret 2020 | 13:41 WIB

200328134208-kasus.jpg

KASUS penularan lokal COVID-19 di Cina pada Jumat (27/3/2020) telah nihil. Ada sedikit kasus baru ditemukan, tetapi sebagian besar berasal dari penularan luar negeri.

Untuk itu, Mulai Sabtu (28/3/2020), Cina sementara melarang warga negara asing dengan visa dan izin tinggal yang masih berlaku masuk kembali ke negara itu.

Kebijakan baru itu dibuat setelah pemerintah di Beijing khawatir terhadap risiko penularan virus dari luar. Pasalnya, Pemerintah Cina telah mengendalikan penularan virus di dalam negeri lewat kebijakan karantina dan penutupan perbatasan.

Beijing turut meminta maskapai mengurangi jadwal penerbangan internasional mulai Minggu (29/3/2020).

Sebuah kolom tanggapan pada koran People's Daily, media milik Partai Komunis Cina, pada Sabtu menunjukkan kekhawatiran warga terhadap risiko penularan COVID-19 dari luar negeri.

"Saat ini, kita harus waspada dan hati-hati dan jangan terlalu santai menikmati masa setelah epidemi, karena itu dapat menggagalkan seluruh pencapaian kita," demikian isi tanggapan tersebut.

Komisi Kesehatan Nasional Cina pada Sabtu melaporkan 54 kasus baru ditemukan di wilayah daratan dan seluruhnya berasal dari luar negeri (kasus impor). Ada sekitar 55 kasus baru pada hari sebelumnya (26/3), satu di antaranya merupakan penularan lokal.

Jumlah pasien COVID-19 di Cina daratan pun mencapai 81.394 jiwa dengan total korban jiwa sebanyak 3.295 orang, terang komisi itu.

Sementara itu, otoritas di Provinsi Hubei, Cina, melaporkan tidak ada kasus baru, dan tiga pasien COVID-19 meninggal dunia. Hubei, yang menjadi pusat wabah, melaporkan 67.801 pasien positif COVID dan 3.117 korban meninggal dunia.

Saat ini, ada sekitar 60 juta jiwa yang tinggal di Hubei.

Presiden Cina Xi Jinping telah berbicara dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan mengatakan Cina bersedia membantu AS menanggulangi penyebaran virus.

Jumlah kasus positif COVID-19 di AS pada Jumat bertambah sampai 16.000 jiwa sehingga total pasien hampir mencapai 102.000, angka tertinggi dibandingkan dengan negara-negara lain.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR