Lembaga Riset: Jumlah Kasus Aktual Corona Indonesia Bisa Lima Kali Lipat

Bandung Raya

Sabtu, 28 Maret 2020 | 10:44 WIB

200328104445-lemba.jpg

dok

ilustrasi

LEMBAGA Riset Telematika asal Bandung, Sharing Vision memprediksi jumlah kasus positif Corona di Indonesia saat ini bisa mencapai lima kali lipat dari angka yang dirilis pemerintah.

Dalam rilis yang diterima galamedianews, Sabtu (28/3/2020), Sharing Vision menyebut, angka confirmed case pemerintah pada 22 Maret 2020 sebanyak 514 diprediksi sebenarnya kasus aktual 2.279 kasus, 23 Maret 2020 (579 confirmed/2.706 aktual), 24 Maret 2020 (686 confirmed/3.208 aktual), serta 25 Maret 2020 (790 confirmed/3.799 aktual).

Temuan ini diperoleh setelah dilakukan simulasi model dinamika penyebaran virus dengan persamaan diferensi orde 30, nonlinier dengan umpan balik positif yang telah digunakan dalam memodelkan fenomena wabah Corona di Indonesia.

Simulasi dipimpin Tim Data Scientist Sharing Vision dipimpin Senior Data Scientist, Dr. Budi Sulistyo, bekerja sama salah seorang Dosen STEI ITB Kelompok Keahlian Kendali dan Komputer, Dr. Dimitri Mahayana, mulai pekan pertama isolasi diri nasional, Senin (16/3/2020).

“Delay ini adalah jeda waktu sejak saat dilakukannya tes terhadap seseorang, suspect, yang kemudian dinyatakan positif, hingga konfirmasi resmi pemerintah yang memasukkan orang tersebut ke dalam akumulasi total terjangkit. Semakin panjang delay aktual, maka semakin besar gap confirmed case yang diumumkan dengan kondisi actual,” katanya.

Menurutnya, sekitar 40% – 50% terjangkit aktual ini diduga adalah terjangkit yang hanya menampakkan gejala sangat ringan atau bahkan tanpa gejala sehingga sulit dideteksi. Sebagian lainnya yang terjangkit dan telah masuk daftar ODP dan PDP.

Di luar itu, kata dia, adalah terjangkit yang mengalami gejala ringan hingga menengah yang belum datang untuk berkonsultasi ke rumah sakit.

“Selain itu, deteksi terjangkit positif yang berlanjut isolasi diasumsikan hanya dapat menjaring 40% terjangkit setelah fase inkubasi (fase pertama yakni 7 hari pertama, red). Ini karena dalam masa inkubasi peluang keberhasilan deteksi sangat rendah terhadap seseorang yang aktualnya telah terjangkit,” katanya.

Budi mengungkapkan, asumsi-asumsi tersebut ditentukan agar menentukan paremeter sistem sedemikian rupa, sehingga keluaran simulasi bisa selaras data global. Yakni data dunia yang menunjukkan kenaikan kasus positif dengan kelipatan 1,23 kali hanya dalam dalam dua hari (274.696 kasus positif per 20 Maret menjadi 336.934 kasus positif per 22 Maret).

Ada sejumlah asumsi pemodelan yang digunakan. Salah satunya, bertambahnya jumlah terjangkit dalam suatu populasi dapat disebabkan dua hal, yaitu (i) tertular oleh orang yang telah terjangkit sebelumnya dari populsi yang sama, atau (ii) tertular oleh orang dari luar populasi. Kasus (i) dalam model akan menghasilkan pelipatgandaan. Kasus kedua dinyatakan sebagai imported_case atau tambahan kasus baru dari luar.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR