Di Tengah Wabah Corona, Pemkab Sumedang Dinilai Abai Terhadap Pasukan Kuning

Daerah

Kamis, 26 Maret 2020 | 17:12 WIB

200326171257-di-te.jpg

Ade Hadeli

PEMERINTAH Kabupaten Sumedang dinilai abai dalam memerhatikan kesehatan petugas kebersihan atau pasukan kuning. Saat ini, jumlah pasukan kuning di Sumedang mencapai 250 orang.

Di tengah ancaman wabah corona, mereka tetap berjibaku dan bergumul dengan sampah yang baunya menyengat serta menyesakkan dada. Dalam situasi itu, mereka pun harus bertelanjang tangan dan hidung selama menjalankan tugas mulianya itu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutahan (DLHK) Kab. Sumedang, Yosep Suhayat tidak menampik keadaan yang dialami oleh pasukan kuning. Namun, kata Yosep, bukan berarti pihaknya tidak memerjuangkan fasilitas kesehatan atau alat perlindungan diri (APD) buat mereka.

Sebab katanya, sejak tanggal 4 Maret 2020 silam, dia sudah melayangkan Nota Dinas kepada Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir. Dalam nota dinas tersebut disampaikan, dengan merebaknya wabah corona, maka pemakaian akan masker oleh masyarakat akan meningkat.

Situasi itu akan berbanding lurus dengan sampah masker (habis pakai) yang dibuang ke tempat sampah. Lantas sampah masker itu akan dipungut oleh petugas kebersihan.

"Ini yang sangat rentan bagi petugas kebersihan. Karena masker habis pakai yang dibuang itu, telah terkontaminasi dengan berbagai macam penyakit. Sehingga jika tidak ada proteksi bagi petugas kebersihan, maka hal itu bisa mengancam kesehatan mereka. Karena itu, per 4 Maret lalu, kami sudah membuat Nota Dinas, untuk memohon APD bagi 250 petugas kebersihan," ujar Yosep, Kamis (26/3/2020).

Karena Nota Dinas itu tidak bersambut positif, maka untuk kedua kalinya, pihaknya melayangkan nota dinas susulan sekaligus menindaklanjuti disposisi atas nota dinas Nomor : 660.1/400/DLHK/2020, untuk melakukan pergeseran anggaran DPA (daftar penggunaan anggaran) pengadaan sarana prasarana persampahan pembelian excapator, untuk pengadaan sarana dan prasaran kesiapsiagaan petugas kebersihan (pasukan kuning dan satgas kebersihan). "Namun lagi-lagi, hal itu tidak disetujui," tandasnya.

Dengan situasi itu, pihaknya hanya dapat mengelus dada. Apalagi sejak diberlakukan social distancing, terjadi peningkatan volume sampah rumah tangga yang cukup siginifikan. Hal itu diduga, adanya peningkatan konsumsi masyarakat yang relatif tinggi, selama diam di rumah.

Sejalan dengan itu, tugas pasukan kuning semakin berat, karena mereka harus mengangkut sampah lebih banyak dari biasanya. Dilain sisi, mereka tidak dilengkapi APD. Bahkan hanya untuk sekedar masker sekalipun.

"Idealnya, mereka dilengkapi APD. Setidaknya masker yang memadai. Lantas setelah pulang mengambil sampah, mereka disemprot dengan disinfektan serta mencuci tangan dengan hand sanitizer dan sejenisnya. Tapi kenyataan yang ada, mereka begitu saja pulang ke rumahnya, sambil membawa 'oleh-oleh' sumber penyakit. Ini tentunya sangat miris bagi kami," ucapnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR