Bekerja di Tengah Wabah Corona, Sopir Ambulans Ini Tak Dilengkapi APD

Bandung Raya

Rabu, 25 Maret 2020 | 15:45 WIB

200325154547-beker.jpg

Engkos Kosasih

SEJAK tahun 2005, Joni (68) menjadi sopir ambulans sekaligus relawan kemanusiaan. Sepanjang hari atau selama 24 jam, ia harus siaga di rumahnya di Desa Tanggulun, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, bersiap jiga sewaktu-waktu ada panggilan.

Mobil ambulans disiagakannya dan diparkir di garasi halaman Masjid Agung Majalaya, Kecamatan Majalaya. Jaraknya sekitar 1 km dari rumahnya. Meski saat ini wabah virus corona (Covid-19) masih mengancam, bukan halangan bagi Joni untuk tetap melaksanakan rutinitasnya sebagai relawan pelayanan kesehatan masyarakat.

Tidak pernah ada yang membayar serupiah pun atas jasanya. Ia pun bekerja dengan ikhlas dan tulus. Namun di tengah rutinitasnya sebagai driver ambulans, Joni mengaku khawatir karena ancaman virus corona di Indonesia, khususnya di Kabupaten Bandung. Apalagi Kabupaten Bandung ditetapkan zona merah wilayah yang terpapar virus corona.

"Dalam kondisi saat ini, kekhawatiran tetap ada. Apalagi setiap hari ada saja warga yang meminta bantuan untuk membawa pasien ke rumah sakit maupun membawa jenazah. Kita kan tidak tahu apakah pasien atau jenazah yang kita bawa itu penyakit apa? Yang tahu penyakit diderita pasien atau jenazah yang meninggal itu kan hanya tim medis atau dokter," kata Joni kepada galamedianews.com di Majalaya, Rabu (25/3/2020).

"Kita hanya tahu, bahwa pasien yang meninggal itu karena penyakit jantung. Tapi kan benar tidaknya kita juga tidak tahu. Nah, yang dikhawatirkan saya adalah ketika membawa pasien yang terpapar virus corona. Itu yang dikhawatirkan. Apalagi namanya virus corona menular," sambung Joni.

Mengantisipasi ancaman penyebaran virus corona, Joni menyebut mobil ambulans yang digunakan selalu disemprot disinfektan. Namun untuk alat pelindung diri, Joni belum memilikinya.

"Saya berharap ada bantuan alat pelindung diri untuk pengamanan disaat membawa pasien. Pentingnya alat pelindung diri karena saya sebagai relawan tak bernaung pada sebuah lembaga, ini murni inisiatif saya. Walau begitu saya berharap ada donatur untuk pengadaan alat pelindung diri dalam menghadapi wabah penyebaran virus corona," terangnya.

Joni mengakui, sejauh ini bekerja apa adanya. Meski demikian, ia pun wajib tahu apa yang dialami pasien ketika menderita sakit. "Supaya saya waspada. Apalagi saat ini sedang ramai-ramainya pemberitaan wabah virus corona. Jadi saya sebagai driver ambulans harus aman dari ancaman virus corona," ucapnya.

Bahkan ia baru-baru ini membawa jenazah dari sebuah tempat ke Purwakarta. "Saya sendiri enggak tahu, jenazah itu sakit apa sebelumnya. Menghadapi kondisi saat ini, saya harus memiliki alat pelindung diri guna keselamatan diri saat membatu pasien atau ketika ada warga yang meninggal," ucapnya.

Lebih lanjut Joni menambahkan, pentingnya ada alat pelindung diri itu, selain untuk menyelamatkan diri sendiri, termasuk keluarga dan orang lain dari ancaman wabah virus Corona. "Mengingat penyebaran wabah virus corona tak mengenal siapa-siapa," ucapnya.

Bahkan dalam menghadapi situasi yang belum aman ini, Joni pun sempat disuruh berhenti oleh keluarganya dari aktivitas rutinnya sebagai relawan driver ambulans. Apalagi usianya sudah di atas 50 tahun, usia yang disebut sangat rentan terpapar virus corona. Namun karena sudah panggilan jiwa, Joni memilih terus bekerja seperti biasa.

"Melayani masyarakat sebuah kewajiban. Apalagi orang sakit. Yang penting saya harus lebih waspada saja," pungkasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR