Di Tengah Ancaman Virus Corona, Petugas Kebersihan Tetap Bekerja Seperti Biasa

Bandung Raya

Rabu, 25 Maret 2020 | 13:33 WIB

200325133406-di-te.jpg

Engkos Kosasih

DI tengah ancaman penyebaran penularan wabah virus corona (Covid-19), sejumlah petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung tetap melaksanakan rutinitasnya sebagai pejuang kebersihan lingkungan, Rabu (25/3/2020). Mereka merupakan garda terdepan sebagai pejuang lingkungan untuk kemaslahatan umat. 

Mereka mengaku tak bisa berhenti sebagai pelayan masyarakat, khususnya dalam pengangkutan sampah yang dihasilkan sampah pasar maupun rumah tangga. 

Tengok saja kerja keras mereka saat membersihkan tumpukan sampah yang menggunung di tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di Pasar Stasiun (Pasar Bingung Majalaya) Desa Majalaya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung. 

Pada Rabu siang itu, sejumlah petugas kebersihan dari DLH Kabupaten Babdung, tanpa dilengkapi dengan alat pelindung diri atau masker, mereka terlihat mengangkat atau menaikkan tumpukan sampah pasar yang bercampur dengan sampah rumah tangga ke atas bak truk di Pasar Stadion Majalaya. 

Sampah tersebut untuk siap-siap dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) di Kabupaten Bandung Barat. Pasalnya, Kabupaten Bandung belum memiliki TPA, setelah TPA Babakan Ciparay ditutup sejak beberapa tahun silam.

Sopir Truk Sampah dari DLH Kabupaten Bandung Sinaga mengaku, sebagai pekerja lapangan ia tak bisa berhenti atau menunda pekerjaan mengangkut sampah yang dihasilkan sampah pasar maupun sampah rumah tangga. Walaupun saat ini tengah dihebohkan ancaman penyebaran wabah virus corona. 

"Yang penting kita waspada dan berusaha untuk tetap menjaga kesehatan. Soalnya sebagai pekerja lapangan, saya sebagai sopir truk angkutan sampah tak bisa berhenti dalam penanggulangan sampah di Kabupaten Bandung. Sebab berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga yang harus tetap terpenuhi.  Yang penting kita tetap menjaga kesehatan, supaya tetap aman saat mengangkut sampah," kata Sinaga kepada galamedianews.com saat mengangkut sampah di Pasar Stasion Majalaya. 

Sinaga bersama petugas kebersihan lainnya tetap mengangkut sampah setiap harinya, mengingat jika sampah sehari saja di Kabupaten Bandung tak diangkut  bisa dibayangkan terjadi penumpukannya. 

Meski demikian, ia mengatakan, di saat sampah itu diangkut dan dibuang ke TPA, sampah pun kembali menumpuk. "Jangan dianggap enteng persoalan sampah. Permasalahan di Kabupaten  Bandung sampah. Sampah jangan dianggap remeh. Kesadaran masyarakat kurang. Masyarakat  langsung buang begitu saja dan tak tanggungjawab," tutur Sinaga.

Ia berharap dalam penanggulangan sampah perlu ada kepedulian dan kesadaran masyarakat. Masyarakat juga harus paham dampak dari pembuangan sampah di mana saja.

"Masyarakat harus tanggungjawab terhadap sampah yang dihasilkannya. Apalagi saat ini pemerintah sudah memprogramkan, adanya bank sampah, lubang cerdas organik untuk mengurangi sampah rumah tangga. Jadi sampah yang dibuang ke TPA itu berupa sampah residu atau bahan berbahaya dan beracun. Dengan adanya program pemerintah itu, warga tak buang sampah sembarangan.  Tapi itu juga kembali kepada masyarakat, apakah masyarakatnya mau atau tidak dalam penanggulangan atau pengelolaan sampah rumah tangga," ujarnya.

Ia berharap untuk mengurangi sampah itu, satu rumah memiliki dua lubang cerdas organik. "Supaya masyarakat tak buang sampah ke mana saja," ungkapnya. 

Sementara itu, Kepala UPT Pengangkutan Sampah Wilayah Ciparay DLH Kabupaten Bandung, Noor Rochman mengatakan sampai saat ini, nasib petugas kebersihan di lingkungan DLH Kabupaten Bandung bekerja seperti biasa, meski di tengah ancaman penyebaran virus corona. 

"Nasib petugas kebersihan jalan terus. Pelayanan jalan terus, khususnya dalam pengangkutan sampah," kata Noor Rochman.

Sebagai petugas kebersihan, Noor Rochman mengatakan, berhubungan langsung dengan masyarakat, khususnya dalam pengangkutan sampah. 

"Selama ini tidak pernah berhenti. Kalau kita berhenti mengangkut dan membersihkan sampah bahaya terhadap lingkungan. Apalagi dalam kondisi ancaman penyebaran wabah virus corona," katanya. 

Meski dalam ancaman virus mematikan tersebut, katanya, para petugas kebersihan tersebut tak dibekali peralatan, di antaranya antiseptik. Kalau pun mereka dibekali masker untuk pelindung diri, jarang dipakai. 

"Memang kalau bakteri itu pasti banyak di tumpukan sampah. Tapi kalau virus corona, jangan sampai ada. Mudah-mudahan, para petugas kebersihan yang sehari-harinya mengangkut dan membersihkan sampah setelah mencuci tangan pakai sabun hilang bakteri yang menempel di tangan dan tubuhnya," paparnya. 

Noor Rochman mengatakan, sampah yang menumpuk di TPS Pasar Stasion Majalaya itu, pihak pengelola pasar minta diangkut dua kali atau dua truk dalam seminggu. Namun dalam proses pengangkutan sampah itu kewalahan karena sampah yang menumpuk di TPS tersebut lebih didominasi sampah rumah tangga. 

"Itu akibat tidak adanya sarana dan prasarana untuk pengelolaan sampah di setiap RT, RW maupun desa yang dekat dengan lokasi TPS. Padahal, TPS ini khusus untuk sampah pasar. Coba saja lihat, sampah yang menumpuk ini bisa lebih dari lima truk," ungkapnya. 

Ia berharap pihak desa dan kecamatan wajib mengelola sampah rumah tangga. "Jangan sampai semuanya abai," katanya. 

Sama halnya yang dikatakan Toni, perwakilan UPT Pasar Majalaya. Ia menyebutkan, sampah yang menumpuk dan terus menggunung di TPS Pasar Stasion Majalaya itu karena permasalahannya sampah pasar bercampur dengan sampah rumah tangga. "Banyak warga dari luar pasar yang membuang sampah ke TPS Pasar Stasion Majalaya," katanya.

Ia pun sempat menjaga warga untuk tidak membuang sampah ke TPS tersebut. Bahkan ada warga yang buang sampah asal Ciraab yang jauh dari lokasi pasar. Bahkan warga asal Kondang, Babakan dan Saparako Majalaya yang membuang sampah ke TPS tersebut. 

"Susah dicegah sampah rumah tangga yang membuang sampah ke TPS ini. Malam tadi ada beberapa warga yang disuruh membawa kembali sampahnya, ketika akan membuang sampah ke TPS," pungkasnya. 

 

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR