Tertahan di Arab Saudi, Jemaah Umrah Asal Indonesia Terlantar dan Bertahan di Hotel

Haji

Selasa, 24 Maret 2020 | 17:35 WIB

200324173504-terta.jpg

dok

Suasana Masjidil Haram, Mekah setelah mewabahnya virus Corona.

ARAB Saudi memberlakukan lockdown dengan menutup rapat akses dan meminta warganya tetap berada di rumahnya. Jemaah umrah Indonesia yang telantar juga hanya berada di hotel sebab sanksi kalau keluar hotel mencapai 10.000 Riyal Saudi atau sekitar Rp 40 juta.

"Aturan lockdown di seluruh Arah Saudi sangat ketat sehingga masyarakat termasuk jemaah umrah Indonesia yang telantar gak berani keluar hotel," kata Pengurus Silaturahmi Haji dan Umrah Indonesia (SAHI), Abdul Jabar, saat dihubungi, Selasa (24/3/2020).

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 44 jemaah umrah asal Indonesia sejak 16 Maret lalu tertahan di Arab Saudi akibat penutupan ibadah umrah. Mereka tak bisa pulang ke tanah air dan hanya bisa berdiam diri di hotel dengan kondisi psikologis yang benar-benar "down".

Kepada wartawan "PR", Sarnapi, lebih jauh Abdul Jabar menyatakan, meski biaya tinggal di hotel dan makanan dibayar pihak biro perjalanan umrah, kondisi jemaah sudah stres bahkan depresi.

"Kami menunggu pulang ke tanah air tanpa adanya kepastian. Staf Kedubes maupun Komjen yang datang cuma bilang sabar dan tunggu," katanya.

Sementara itu, Sekretaris Forum Komunikasi Penyelenggara Umrah dan Haji (FKS Patuh) Jabar, Rachmat Wildan mengatakan, dari hasil koordinasi dengan Kemenag pusat disarankan agar
jemaah yag tertahan/stranded di Arab Saudi dari 9 PPIU/Provider untuk segera menghubungi perwakilan Indonesia di Arab Saudi.

"Semoga proses penanganan untuk dipulangkan ke Indonesia segera terwujud," ujarnya.

Rachmat menyampaikan, bagi PPIU/Provider yang masih memiliki jemaah dengan visa umrah yang tertahan di Arab Saudi, bisa segera melaporkan kepada kantor perwakilan TUH_KJRI Jeddah (+966 55 502 9226) atau Direktorat Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama (CP: 08111662566).

Dari sembilan biro perjalanan umrah yang jemaahnya masih tertahan, kata Wildan, sebagian berasal dari Jawa Barat.
"Yakni, Kota Bandung, Indramayu dan Kota Bekasi. Namun bisa jadi jemaahnya berasal dari kabupaten/kota di Jawa Barat maupun luar Jawa Barat," katanya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR