Soal Nasib Olimpiade Tokyo 2020, Indonesia Tunggu Keputusan IOC

Sport

Senin, 23 Maret 2020 | 17:54 WIB

200323175219-soal-.jpg

dok

PEMERINTAH dan Komite Olimpiade (NOC) Indonesia, tetap berpegangan teguh dengan keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) terkait pelaksaan Olimpiade Tokyo 2020. Walaupun sudah ada beberapa federasi olahraga maupun NOC negara lain yang mengusulkan penundaan, pemerintah tidak ingin semerta-merta hanya ikut meminta penundaan juga.

"Pemerintah tetap berpegangan pada yang diputuskan oleh IOC, tentu setelah mendapatkan masukan oleh NOC Indoensia, kami komunikasi terus dengan ketum NOC Indonesia tentang sikap kita yang paling baik seperti apa. Tapi sampai dengan hari ini, kita belum bisa menyatakan akan mendukung penundaan," tutur Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudi Amali dalam video yang dikirimkan kepada wartawan "PR", Wina Setyawatie, Senin (23/3/2020).

Begitu juga dengan Presiden NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari. Menurutnya, pihaknya sangat berhati-hati dalam berspekulasi, sebab saat ini Indonesia punya kepentingan yang lebih besar lagi untuk Olimpiade 2032.

"Jadi ya sementara kita tunggu aja apapun keputusannya. Kita tinggal ikutin, karena kan tidak akan jauh beda juga, sebab yang diutamakan itu pasti keselamatan atlet," tegasnya.

Selama belum ada putusan jelas, persiapan atlet menurutnya tetap berjalan. Pelatnas berlangsung tapi dengan intensitas yang tidak maksimal.

"Intensitas latihan fokusnya hanya untuk jaga kondisi mereka. Karena yang diutamakan adalah bagaimana pelatih dan atlet dalam kondisi yang fit, menjaga kebugaran mereka," lanjut Zainudin.

Hal yang masih dikhawatirkan oleh Indonesia, adalah pembagian sisa kuota olimpiade. Mengingat banyak kejuaraan kualifikasi yang ditunda karena Covid-19 ini.

"Banyak kejuaraan yang dibatalkan, jadi yang awalnya bisa mengumpulkan poin yang cukup, kini tidak bisa bertambah. Itu tentu akan berpengaruh kepada kesiapan tim, apalagi yang masih mengejar tiket olimpik," imbuhnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR