Pembunuh Mahasiswa di Bandung Divonis 19 Tahun Bui, Keluarga Tak Terima dan Keluarkan Sumpah Serapah

Meja Hijau

Selasa, 10 Maret 2020 | 13:58 WIB

200310135900-pembu.jpg

Lucky M. Lukman

WARGA Cimuncang, Kota Bandung, Zaini Hadi Abdullah (21) dijatuhi hukuman selama 19 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bandung. Ia terbukti secara sah bersalah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penganiayaan yang berujung pada hilangnya nyawa korban Zulfan Farihun Faza (19), warga Sumedang yang menjadi mahasiswa sebuah PTS di Kota Bandung.

"Mengadili, menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan yang berujung pada hilangnya nyawa sebagaimana diatur pasal 338 KUHPidana dan pasal 351 KUHPidana. Menjatuhkan hukuman selama 19 tahun penjara," ujar Ketua Majelis Hakim, Wasdi Permana, membacakan amar putusannya, di PN Bandung, Jln. L.L.R.E Martadinata, Selasa (10/3/2020).

Vonis yang diterima terdakwa sama dengan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Bandung. Terdakwa pun menerimanya. Namun, vonis itu mendapat reaksi dari keluarga korban yang hadir di persidangan.

Keluarga korban yang hadir di persidangan, lansung histeris. Bahkan, kakak perempuan korban yang mengenakan kerudung hitam langsung mencoba merangsek ke kursi terdakwa dan mencoba mendekati terdakwa.

Aparat kepolisian dari Polsek Bandung Wetan yang sudah sigap langsung menahan dan mencoba menenangkan keluarga korban. Kendati begitu, cacian dan makian pun terlontar dari kakak korban.

Tak puas memberikan cacian di ruang sidang, keluarga korban terus mencoba mengejar terdakwa hingga ruang tunggu tahanan. Sumpah serapah pun keluar dari keluarga korban. Bahkan ibu korban sampai menangis histeris dan terkulai lemas. Mereka akhirnya ditenangkan di ruangan oleh polisi.

Dalam persidangan itu, Ketua Majelis Hakim Wasdi Permana menyatakan hal memberatkan bagi terdakwa sebelum membacakan putusan. Perbuatan terdakwa, kata hakim, mengakibatkan orang lain kehilangan nyawa dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Sementara hal yang meringankan, terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya dan berlaku sopan selama persidangan.

Seperti diketahui, aksi yang dilakukan Zaini bersama temannya, Murfid Muhamad Rizaldi (DPO) juga telah membuat rekan korban Zulfan, Yoga Kurniawan mengalami luka serius sehingga mengalami cacat. Peristiwa yang merenggut nyawa Zulfan dan melukai Yoga terjadi pada 4 September 2019 sekitar pukul 03.00 WIB di kawasan Jln. Surapati, Kota Bandung.

Saat itu, Zulfan dan Yoga mengendarai sepeda motor dan hendak pulang ke rumahnya di Sumedang. Sebelum tiba di lokasi kejadian, keduanya sempat berpapasan dengan terdakwa dan temannya di perempatan Jln. Sulanjana-Dago. Kedua terdakwa baru saja keluar dari diskotik dan dalam keadaan mabuk.

Terdakwa berteriak-teriak dengan kata kasar dan mengemudikan mobil dengan seenaknya. Korban kemudian memperingatkan terdakwa dengan kalimat "Jangan ribut!". Setelah itu, korban pun tancap gas. Merasa tersinggung dan emosi, terdakwa Zaini dan Murfid dengan mengggunakan mobil kemudian mengejar korban.

Tiba di Jln. Surapati, mobil yang dikemudikan terdakwa dalam kecepatan tinggi dan menabrak sepeda motor korban dari belakang. Korban Zulfan dan Yoga pun jatuh terpental, dengan posisi di tengah dan pinggir jalan. Tanpa menunggu lama, terdakwa dan rekannya turun dari mobil serta langsung menginjak-injak korban Zulfan.

Tak cuma itu, terdakwa juga memukuli korban Zulfan dengan velg/dop ban mobil berulang kali. Perlakuan yang sama dilayangkan ke korban Yoga. Akibatnya, korban Zulfan dan Yoga mengalami luka serius. Saat peristiwa berlangsung, warga sekitar mengetahuinya dan langsung mengamankan terdakwa. Sementara Murfid berhasil melarikan diri.

Korban Zulfan dan Yoga kemudian dibawa ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan, Zulfan menghembuskan nafas terakhirnya. Sementara Yoga, mengalami luka serius dibagian kepala, wajah, dan luka lainnya yang tidak mungkin sembuh kembali.

Ayah dari korban Zulfan, Dedi Supardi merasa tidak puas dengan vonis itu. Menurutnya, vonis itu belum memberikan rasa keadilan terhadap korban. Terlebih bagi keluarga korban Yoga yang mencerita cacat seumur hidup.

"Vonis ini tidak memuaskan bagi kami yang harus kehilangan anak akibat perbuatan terdakwa. Bagi keluarga Yoga juga seperti itu. Kasihan, apalagi Yoga menderita cacat di usianya yang masih muda," kata Dedi.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR