Didakwa Terima Suap Rp 3,6 M, Bupati Indramayu Nonaktif Terancam 20 Tahun Bui

Meja Hijau

Senin, 9 Maret 2020 | 12:30 WIB

200309123527-didak.jpg

Lucky M. Lukman

BUPATI Indramayu nonaktif, Supendi, mulai menjalani persidangan dalam perkara dugaan suap yang menjeratnya. Persidangan digelar di Pengadilan Tipikor Bandung, Jln. L.L.R.E Martadinata, Kota Bandung, Senin (9/3/2020).

Sidang mengagendakan pembacaan surat dakwaan dari Penuntut Umum KPK, dengan dipimpin Ketua Majelis Hakim Sihar Hamonangan Purba.

Dalam dakwaannya, Penuntut Umum KPK menyebut terdakwa Supendi diduga telah menerima suap dari pengusaha kontraktor Indramayu Carsa ES sebesar Rp 3,6 miliar untuk pengurusan proyek di lingkungan Pemkab Indramayu. 

"Dari Carsa ES, terdakwa diduga menerima uang sebesar Rp 3.616.250.000. Selain itu diduga ada pemberian dari kontraktor lainnya," kata Penuntut Umum KPK, Kiki Ahmad Yani.

Dalam praktiknya, kata Penuntut Umum KPK, terdakwa bersama mantan Kadis PUPR Indramayu Omarsyah dan Kabid Jalan PUPR Indramayu Wempi Triyoso menetapkan paket pekerjaan infrastruktur. Namun untuk lelang, sejak awal sudah dilakukan pengaturan atau floating dan sudah ditetapkan perusahaan mana yang akan menang.

"Dalam hal ini lelang yang dilakukan hanya formalitas. Terdakwa bersama Omarsyah dan Wempi Triyoso sudah mengatur siapa pemenangnya. Agar kontraktor menang, atas petunjuk terdakwa lelang diatur oleh Omarsyah dan Wempi, dengan dibantu panitia pengadaan agar kontraktor Carsa bisa menang di LPSE," ungkap Penuntut Umum KPK.

Agar Carsa menang lelang, terdakwa bersama Omarsyah dan Wempi Triyoso meminta uang sekitar 5-10 persen dari nilai proyek. Terdakwa mengarahkan Carsa untuk berkomunikaai dengan Omarsyah dan Wempi.

"Sementara untuk proyek di bawah Rp 200 juta, dilakukan penunjukkan langsung dan mengarah ke Carsa," sambungnya.

Atas perbuatannya, terdakwa dijerat pasal alternatif, Pasal 12 huruf a, Pasal 12 huruf b dan Pasal 11 UU Tipikor. Terdakwa terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR