Diantara, Menampung Perspektif Jelang Pasar Seni ITB 2020

Seni & Budaya

Sabtu, 7 Maret 2020 | 12:09 WIB

200307120959-diant.jpg

ist

MENYAMBUT acara puncak pada 20 September mendatang, Pasar Seni ITB 2020 menggelar tiga acara pendukung. Salah satunya yaitu Diantara yang digelar di Museum Konferensi Asia Afrika pada 22 Februari lalu.

Diantara merupakan sebuah olahan tahap yang terdapat dalam design thinking yaitu data collecting. Rangkaian acara Diantara terbagi menjadi data collecting, instalasi ruang publik, dan performance art.

Dalam rilis yang diterima galamedianews, Data collecting dilakukan bersama para mahasiswa ITB dengan output  lima video dengan topik teknologi, infrastruktur, energi, humaniora, dan lingkungan yang bisa diakses melalui youtube Pasar Seni.

Instalasi ruang publik dihasilkan sebagai respon dari data collecting Diantara dalam bentuk huruf braille raksasa yang terletak di kolam Indonesia Tenggelam ITB. Huruf Braille raksasa tersebut memiliki pesan bahwa untuk memahami sesuatu, seorang manusia mungkin harus memutarbalikkan cara perpikirnya terlebih dahulu.


Performance art adalah bentuk translasi topik-topik yang bersifat ilmiah (Teknologi, Infrastruktur, Energi, Humaniora, dan Lingkungan) dan hasilnya menjadi bentuk konklusi baru yang bukan sebuah jurnal.

Sejumlah narasumber yang hadir pada acara tersebut di antaranya Enda Nasution, Feri Sulianta,  Adrianto Santoso (Pusat Studi Urban Design PSUD), Yanuar Pratama Firdaus (Aaksen Responsible Architecture), Ardhana Riswarie, Amanda Mita, Mohamad Bijaksana Junerosano, Rendy Aditya Wachid (Founder Parongpong), serta Dr. Eng. Jenny Rizkiana (Dosen Teknik Kimia ITB), dan Triharsa Adicahya (PT. Aldebaran Rekayasa Cipta/Baran Energy

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR