Video di Medsos Ajari Dua Pemuda Meracik Tembakau Gorila

Halo Polisi

Jumat, 28 Februari 2020 | 19:10 WIB

200228191033-video.jpg

medcom.id

ilustrasi

DUA orang pemuda, SN (22) dan AM (23) terpaksa harus berurusan dengan polisi. Keduanya ditangkap Satuan Reserse Narkoba Polresta Bandung karena menjadi pengedar narkotika jenis ganja sintetis atau yang dikenal juga dengan sebutan tembakau gorila.

Kedua warga Ciparay, Kab. Bandung itu ternyata tak hanya mengedarkan. Mereka juga diduga membuat dan meracik sendiri tembakau gorila tersebut.

Kapolresta Bandung, Kombes Pol. Hendra Kurniawan didampingi Kasat Narkoba AKP Jaya Sofyan mengatakan, kedua tersangka ditangkap setelah polisi mendapatkan laporan dari masyarakat.

"Saat ditangkap mereka kedapatan menyimpan tembakau gorila yang diduga siap edar," ujarnya di Mapolresta Bandung, Jumat (28/2/2020).

Hendra menambahkan, para tersangka sebenarnya tidak memiliki kemampuan untuk meracik tembakau gorila. Namun mereka mempelajarinya dari tayangan video di media sosial dan internet.

Menurut Hendra, kedua tersangka mendapatkan komposisi racikan yang pas dan menyerupai ganja setelah tiga kali melakukan percobaan. Setelah itu mereka memproduksinya dalam jumlah yang cukup untuk diedarkan.

"Tembakau yang digunakan untuk racikan sebenarnya tembakau jenis biasa. Namun setelah ditambah dengan berbagai bahan kimia, menjadi ganja sintetis," kata Hendra seperti ditulis wartawan "PR", Handri Handriansyah.

Hendra menegaskan, hasil pemeriksaan laboratorium pun menguatkan dugaan tersebut. Di dalam tembakau racikan tersebut memang terdapat sejumlah bahan kimia berbahaya.

Selain mengamankan tersangka, polisi juga menyita barang bukti berupa peralatan dan bahan untuk meracik tembakau gorila. Sementara tembakau gorila hasil racikan yang diamankan mencapai satu kilogram.

"Kalau dinominalkan, tembakau gorila racikan tersebut bisa bernilai Rp 100 juta. Soalnya mereka berencana menjual seharga Rp 100.000 per gram. Kami masih menyelidiki lebih lanjut, ke mana mereka berencana mengedarkan tembakau ini," tutur Hendra.

Sementara itu, Jaya mengatakan, bahan kimia dan tembakau yang digunakan sebagai bahan, semuanya merupakan produk lokal. Bahan kimianya pun terbilang mudah didapatkan karena biasa digunakan oleh masyarakat untuk membuat makanan.

"Kalau pakai bahan impor, satu kilogram hasil racikannya bisa dijual sampai Rp 700 juta. Namun walaupun lokal, kualitas racikan para tersangka ini mirip dengan yang impor," imbuhnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR