Tolak Karantina Kota Suci Syiah

Terekam Limbung Saat Konferensi Pers, Wakil Menteri Kesehatan Iran Mengaku Positif Corona

Dunia

Rabu, 26 Februari 2020 | 15:06 WIB

200226150648-terek.jpg

dailymail

Wakil menteri kesehatan Iran dinyatakan positif corona di tengah memburuknya sebaran wabah. Iraj Harirchi dibawa ke pusat karantina hanya sehari setelah terekam kamera “limbung” dan berkeringat saat menghadiri  konferensi pers di mana ia bersikeras corona tidak seburuk yang ditakuti.

Penetrasi sebaran virus yang kini dialami petinggi kementerian kesehatan menjadi indikator jika upaya Teheran menahan sebaran corona tidak seperti yang diklaim pemerintah.

Dikutip dari DailyMail, Rabu (16/2/2020) sejak pertama kali mengonfirmasi kasus corona, rezim berkuasa Iran menolak menutup kota suci Qom yang berada di pusat krisis. Tindakan ini dilakukan bahkan ketika sejumlah peziarah disebut ikut menyebarkan virus di Timur Tengah. Kini Iran menghadapi krisis  masker dan peralatan pengujian.

Iraj Harirchi saat konferensi pers kemarin.

Unwell.]

Seka keringat dan beberapa kali minum.

Iran resmi mengumumkan 95 kasus corona dengan 16 kematian. Namun ada kekhawatiran jumlah total riil di lapangan bisa lebih tinggi. Secara global, dua persen dari kasus corona  mengakibatkan kematian. Tapi angka-angka di Iran menunjukkan tingkat kematian yang sangat tinggi, yaitu 15 persen. Tren global menunjukkan 15 kematian dari sekitar 750 kasus terinfeksi.

Ketakutan lebih lanjut muncul setelah seorang anggota parlemen awal pekan ini menyebut 50 orang kemungkinan  meninggal akibat corona di kota Qom saja. Jika benar, ribuan kasus infeksi diindikasikan terjadi di satu lokasi saja. Sejauh ini tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut.

Berapa angka kasus corona Iran yang sesungguhnya?

Sebelumnya Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mendesak pemimpin Iran untuk mengatakan fakta sebenarnya terkait  virus corona dan bekerja sama dengan lembaga kesehatan. Sementara kepala misi Organisasi Kesehatan Dunia untuk Cina, Bruce Aylward memperingatkan dunia saat ini “tidak siap” mengendalikan wabah corona dan  mendesak para pemimpin untuk mengikuti contoh penanganan di Beijing Cina.

"Kita harus siap mengelola ini pada skala yang lebih besar.. dan harus dilakukan dengan cepat," ujar Bruce Aylward kepada wartawan di Jenewa. Ia  bersikeras semua negara harus bersiap menghadapi corona kapan saja.

Mulai kekurangan masket dan test kit.

Sementara itu, Qom tempat virus pertama diyakini mulai menyebar Iran menjadi tujuan utama peziarah Syiah dari sekitar Timur Tengah. Sekitar 20 juta peziarah mengunjungi Qom setiap tahun dan Iran akan kesulitan menutup perbatasan yang dinilai “keropos” terutama dengan tetangga termasuk Afghanistan dan Pakistan.  Sejumlah pemerintah Timur Tengah telah memberlakukan larangan perjalanan setelah virus menyebar ke seluruh wilayah.

Tetapi meskipun krisis semakin berkembang, Iran menolak seruan untuk mengarantina Qom  dengan mengatakan warga “cukup tahu” untuk menghindari penyebaran virus. Di luar itu Iran menghadapi kekurangan pasokan medis bahkan sebelum virus corona pecah di Qom.

Kekurangan kelengkapan medis muncul setelah Donald Trump menarik diri dari  kesepakatan nuklir 2015 dan menerapkan kembali sanksi yang melumpuhkan  Iran pada 2018 lalu. Kepanikan pun merebak akibat kurangnya masker sementara para pakar kesehatan masih belum yakin bagaimana virus menyebar.

Tolak karantina Qom.

Disinfektan digunakan untuk angkutan umum.

Petugas kesehatan juga menghadapi kekurangan alat uji pasien.  Artinya  kasus corona bisa tidak diketahui selama berhari-hari sekaligus memungkinkan wabah menyebar lebih lanjut. Ada juga klaim apotek menghadapi kekurangan gel pembersih tangan yang dapat membantu mengatasi wabah di Qom dan di seluruh negeri.

Washington telah mengizinkan  barang-barang kemanusiaan termasuk obat-obatan dan peralatan medis dari sanksi hukum atas Iran. Tetapi pembelian pasokan semacam ini terhalang oleh keengganan bank-bank yang khawatir melakukan bisnis apa pun dengan Iran. Mereka tak ingin ikut dikenai sanksi.

Anggota parlemen Qom Ahmad Amirabadi Farahani pada sidang parlemen di Teheran kemarin mengatakan 50 orang tewas di kota suci tersebut. "Saya pikir kinerja administrasi dalam mengendalikan virus belum berhasil," katanya.

Militer Pakistan siaga di perbatasan Iran.

Dari 50 kematian di Qom di antaranya terjadi pada 13 Februari, sedangkan Iran pertama kali esmi melaporkan kasus virus pada 19 Februari. Dia juga mengklaim 250 warga dikarantina. Qom berjarak sekitar 75 mil selatan Teheran.

"Tidak ada perawat yang memiliki akses untuk perlindungan diri," kata Farahani. Ia menambahkan  beberapa spesialis perawatan kesehatan telah meninggalkan kota. “Sejauh ini, saya belum melihat tindakan khusus untuk menghadapi corona dari pemerintah.”

Sementara itu Menteri Kesehatan Harirchi menolak klaim Farahamo. Ia bersikeras jumlah kematian akibat corona masih 12. "Tidak ada yang memenuhi syarat untuk membahas berita semacam itu sama sekali," katanya.

Sebaran global corona.

Haririchi juga menyebut anggota parlemen tidak memiliki akses pada data statistik coronavirus. Namun pernyataan Farahani kadung memicu klaim Iran menutupi  skala krisis corona yang sesungguhnya.

Iran juga menghadapi kemarahan  warga atas upaya menutupi kasus corona bulan lalu. Ini menyusul pengakuan tanggung jawab atas insiden jatuhnya jet penumpang oleh Pengawal Revolusi Iran saat terlibat pertikaian dengan Washington setelah kematian Qassem Soleimani.

Wabah corona memicu kecaman baru terhadap rezim berkuasa dari pengguna media sosial Iran dalam beberapa hari terakhir. "Ketidakpercayaan publik yang luas terkait angka resmi kasus lebih berbahaya daripada coronavirus sendiri," ujar jurnalis Siavash Fallahpour.

Tak hanya masker, sarung tangan pun kini digunakan.

Dan Harirchi dinilai kehilangan kredibilitas saat hari ini dinyatakan  positif terserang virus corona. Ia mengaku mengarantina diri di rumah dan berjanji pihak berwenang akan mengendalikan virus.

Kemarin Harirchi terlihat sangat tidak nyaman dan nyaris limbung dengan beberapa kali menyeka dahi saat konferensi pers. Menteri kesehatan Iran Saeed Namaki membela pemerintah dengan mengatakan penanganan Iran terhadap wabah sudah transparan meskipun ada angka-angka yang bertentangan.

Namaki juga mengatakan pihaknya “hampir yakin” virus menyebar  dari Cina melalui Qom di Iran tengah. Di antara mereka yang meninggal dikatahui  pedagang yang secara teratur menggunakan penerbangan tidak langsung ke Cina dalam beberapa pekan terakhir.

Peziarah Syiah di kota suci Qom.

Namaki pun mengungkap keputusan untuk tidak mengarantina Qom salah satunya karena karantina merupakan metode lama. "Kami masih tidak setuju karantina  karena kami percaya orang-orang cukup berbudaya untuk menahan diri dari bepergian di kota yang terinfeksi."

Bahram Sarmast, gubernur Qom mengatakan mengarantina kota tidak akan menjadi solusi yang tepat. Menteri Kesehatan  hanya memberikan peringatan  dengan mengatakan pemerintah tidak merekomendasikan perjalanan ke Qom atau kota-kota suci Syiah lainnya.

Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia pekan lalu mengatakan virus corona  terbukti berakibat fatal pada sekitar dua persen dari kasus yang terinfeksi. Tetapi angka di Iran menunjukkan 15 dari 95 pasien virus telah meninggal atau setara 15 persen dari total yang terinfeksi.

Editor: Mia Fahrani

  • BERITA TERKAIT

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR