Kembali Terulang, Media Bisa Menempuh Jalur Hukum Terhadap PT PBB

Persib

Rabu, 26 Februari 2020 | 09:37 WIB

200226094016-kemba.jpg

PEMERHATI hukum olahraga sekaligus mantan wartawan Persib, Eko Noer Kristiyanto turut angkat bicara terkait dengan adanya aksi boikot yang dilakukan wartawan pada saat Launching Persib Bandung 2020, Selasa (25/2/2020). Menurutnya, PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB) bukan hanya sekali ini memperlakukan media dengan tidak sewajarnya.

Melihat ke belakang, lanjut Eko, pada sekira 2 tahun lalu, PT PBB pernah mencabut identitas peliputan untuk media online yang sudah terverifikasi. Hal itu dikarenakan PT PBB saat itu tidak berkenan atas pemberitaan di media tersebut.

Padahal, menurut Eko, jika tidak berkenan dengan pemberitaan maka bisa saja memberikan hak jawab. Bukan dengan cara yang dinilai kekanak-kanakan seperti itu.

"PT PBB ini dalam memperlakukan media nggak baik itu bukan sekarang aja. Saya masih ingat sekitar 2 tahun lalu, PT PBB itu mencabut ID peliputan untuk Vivanews gara-gara tidak berkenan tentang salah satu pemberitaannya. Saya mikir PT PBB ini cara mikirnya gimana," jelasnya yang dikutip saat On Air di Radio PRFM 107,5 News Channel, Selasa (25/2/2020).

Ia pun mengaku heran, sekelas PT PBB memperlakukan media dengan kurang baik. Padahal, dari sisi historis, perjalanan Persib hingga saat ini pun tak lepas dari peran media dalam memberitakan tim kebanggaan Jawa Barat itu.

"Kadang-kadang agak aneh aja selevel PT PBB memperlakukan media itu nggak bener. Kedua, dari historis termasuk mungkin dari grup PR atau dari apa bahwa mau nggak mau Persib punya daya tarik media juga membutuhkannya, tapi perjalanan Persib, Persib diberitakannya itu juga karena peranan media. Jadi malam ini terlihat wataknya," kata Eko.

Jika dibandingkan dengan masa lalu saat Eko masih menjadi wartawan Persib, Eko menyebut daya tawar media sangat tinggi. Hal itu juga dipengaruhi oleh adanya kanal baru yang saat ini digunakan oleh manajemen tim Persib.

"Kalau dulu itu daya tawar media sangat tinggi, apalagi se-angkatan saya itu saya masih didampingi senior senior dan jangan lupakan juga dulu itu belum ada YouTube. Kan alasan mereka (Persib-red) itu menjaga eksklusivitas siarin di YouTube kalau dulu nggak," papar Eko.

Menurutnya, media bisa menempuh jalur hukum karena ini sudah menyangkut dengan tugas media yakni melakukan tugas peliputan. Tapi dikatakan Eko, hal itu menjadi pilihan setiap

"PT PBB ini sedang menghalang-halangi tugas media saja. Karena saya melihat dari berbagai argumen walaupun sudah milik coorporate, kita ini punya nilai historis, nilai emosional jadi masih bisa disebut domain publik," paparnya.

"Kalau saya masih di lapangan mah saya itu orang yang suka membuat rumit keadaan. Jadi bisa saya tempuh cara ini cara itu. Saya tidak tahu kalau sekarang. Jangan-jangan teman-teman media yang demo itu tidak ingin meliput ngambek udah aja gitu tidak ingin memperpanjang. Tapi ya itu pilihan," ungkap Eko.

Ia pun merasa miris ketika ada penggemar Persib Bandung yang tidak bisa menonton secara langsung proses launching tim Persib Bandung. Jika dibandingkan tim lain, Persib dinilai belum bisa maksinal dalam memperlakukan penggemarnya.

"Tim lain walaupun sudah berbentuk PT atau Coorporate mereka itu bisa memperlakukan fans-nya. Tadi saya memposting foto anak kecil yang terhalang oleh kaca jadi dia tidak bisa menonton. Karena memang tidak diundang, tidak punya akses itu yang sedih banget. Persib malam ini menunjukan watak yang sebenarnya," ujarnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR