Wartawan Boikot Launching Persib

Persib

Selasa, 25 Februari 2020 | 21:11 WIB

200225234621-warta.JPG

Darma Legi

LAUNCHING Persib Bandung yang berlangsung di Hotel Harris, Jln. Peta, Kota Bandung, Selasa (25/2/2020) malam, diwarnai aksi boikot oleh Forum Wartawan Persib (FWP). Aksi boikot ini merupakan bentuk protes terkait regulasi peliputan oleh pihak PT Persib Bandung Bermartabat (PBB).

Aksi boikot dilakukan tepat di pintu masuk acara launching Persib tahun 2020 dengan memulangkan ID Card yang menjadi akses untuk memasuki tempat acara. Acara launching terlihat lebih eksklusif mengingat ada beberapa Bobotoh juga yang tidak bisa masuk kedalam tempat acara.

Pada mulanya PT PBB mengundang para jurnalis untuk meliput kegiatan launching tim serta jersey anyar Persib musim 2020. Namun satu hari sebelum launching, PT PBB mengeluarkan aturan yang dinilai sangat membatasi kreativitas para jurnalis dalam meliput.

Saat itu salah satu Media Officer Persib mengatakan, "Teman-teman, dengan alasan eksklusifitas launching PERSIB 2020 mohon maaf, akses peliputan di dalam ruangan launching hanya foto, tulis dan radio. Teman-teman dari tv (vidio) tidak bisa ambil gambar acara tersebut baik live ataupun record. Teman-teman TV masih bisa mendapatkannya di YouTube channel PERSIB. Nuhun pengertiannya," katanya.

Setelah ditentang oleh FWP, pihak PT PBB pun akhirnya meralat pernyataannya pada Selasa (25/2/2020) pagi melalui group WhatsApp. "Sory dah buat gaduh grup ini. Sore nanti temen-temen tv sama dengan yg tulis, radio, foto bisa mengakses launching dan memberitakannya. Dengan harapan kerjasamanya untuk tidak live juga di sosial media. Updatetan pagi ini. Semoga membuat hati kembali cerah g mendung seperti lagit pagi ini," ralatnya.

Namun sayangnya FWP telah mengambil sikap atas ketidak konsistenan PT PBB. Seperti yang dikatakan oleh Perwakilan FWP, Endra Kusumah, bahwa PT PBB telah menghalangi kebebasan pers.

"Aksi ini dilakukan oleh forum pewarta persib sebagai bentuk kekecewaan terhadap tingkah laku, kebebasan pers yang dihalangi PT PBB sendiri. Ini sebenarnya awalnya karena ada pembatasan dari PT PBB yang tidak memberikan keleluasaan terhadap kita untuk berkreasi,"jelasnya.

Ia berharap dengan aksi boikot akan lahir satu kebijakan yang lebih baik dari PT PBB terkait aturan yang sering menghambat kreativitas para jurnalis.

"Sekarang ada launching, kita ada tuntutan untuk meliput juga. Tapi karena ini sebagai kebijakan dan kesepakatan, kita memilih sikap untuk berpegang teguh pada kebersamaan dan selanjutnya kita ingin ada hal yang lebih baik kedepannya," katanya.

Endra pun menegaskan ada bentuk pelarangan dari PT PBB. "Sebelumnya ada pelarangan. Jadi ada undangan email pada rekan-rekan. Dalam email tersebut tidak tercantum boleh diliput atau engganya. Namun setelah tadi malam jam 9an ada pemberitahuan dilarang meliput terutama dari saya yang di TV. Tidak boleh tanpa alasan yang jelas, jadi kita yang di TV pun bingung," jelasnya.

Sehingga PT PBB dinilai telah melakukan pengekangan terhadap para wartawan khususnya kepada FWP. "Kita tidak dikasih kebebasan untuk meliput dan mengambil gambar, dari anak cetak dan foto pun sama. Tidak bisa ambil foto, radio pun sama. Ini adalah pengekangan untuk kita berekspresi," tegasnya

Diluar itu, Endra mengatakan jika pihak wartawan sempat juga dibatasi oleh PT PBB. Misalnya pada momen latihan, dimana para wartawan hanya diperbolehkan mengambil gambar 15 menit sebelum dan sesudah latihan. Termasuk dalam menentukan nara sumber.

"Kalau 15 menit buat kita yang ambil gambar cuma yang naliin sepatu aja. Setelah beres susah juga. Ini kan jadi ga jelas. Sementara kita narsum dikasih satu pelatih dan satu pemain. Kalau pemain enjoy ya enak. Kalau dikasih pemain yang ga enjoy gimana? Jadi itu susah juga," katanya.

Ia menilai sejauh ini Persib merupakan milik masyarakat. "Saya mau ada kebijakan untuk rekan-rekan yang memang meliput persib. Karena bagaimana pun Persib ini milik publik dan pemberitaan perlu. Bukan hanya untuk pelarangan tanpa kejelasan," katanya.

Membahas mengenai aturan di klub lain, dia mengatakan beberapa tim Liga 1 masih membutuhkan dukungan media. Meskipun ada pembatasan. Pembatasan tersebut hanya untuk kebutuhan tim.

"Kalau tim lain yang ga punya nama mungkin butuh dukungan dari media. Kayak Persib punya media sendiri, mereka akan beda. Karena ya ga butuh. Kita ga perlu (media), saya ga butuh media," tegasnya.

Untuk itu Endra bersama FWP akan menunggu kejelasan dari pihak PT PBB. Ia berharap kesepakatan kedepan dapat dilakukan dalam perjanjian hitam di atas putih. "Kita akan nunggu. Sekarang kita ga akan ke dalem. Kita hanya ingin ada kejelasan dan kepastian. Karena ini sudah akut. Kejelasan gimana. Bukan hanya larang larang, tapi ada kejelasan (perjanjian hitam putih)," pungkasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR