Pergerakan Tanah Ancam Puluhan Rumah Warga di Tasikmalaya

Daerah

Selasa, 25 Februari 2020 | 20:29 WIB

200225211213-perge.jpg

Septian Danardi

DUA desa di Kecamatan Bojong Gambir, Kabupaten Tasikmalaya, mengalami pergerakan tanah. Kejadian itu sebagai dampak dari curah hujan yang intensitasnya tinggi dalam kurun waktu selama 8 jam tidak berhenti mengguyur kawasan Bojong Gambir, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (25/2/2020).

Selain puluhan rumah warga terancam, sebuah jembatan yang menghubungkan dua desa tersebut juga terancam roboh. Terlebih jika tebing penyangga mengalami longsor karena kontur tanah yang labil.

Warga terdampak, Oo Sarodin (49) mengatakan, pergerakan tanah terjadi diduga akibat kontur tanah yang labil. Ditambah hujan deras yang mengguyur selama 8 jam lebih bisa menjadikan faktor terjadinya pergeseran tanah.

Akibatnya, rumah milik Oo mengalami retak-retak dan terancam roboh, jika pergeseran dan retakan tanah terus melebar. Dikatakannya, dirinya tinggal di rumahnya ada 6 jiwa.
Sehingga untuk antisipasi terjadinya sesuatu hal yang tidak diinginkan, dirinya bersama keluarganya mengungsi sementara ke rumah saudaranya yang jauh dari lokasi retakan tanah.

"Kami harap pemerintah segera meninjau lokasi untuk memastikan pergeseran tanah itu. Sehingga warga bisa menghindari jika retakan itu membahayakan," katanya.

Hal senada juga dikatakan warga terdampak lainnya, Aas (29). Ia merasa khawatir rumah tinggalnya tergerus akibat pergeseran tanah. Apalagi jika malam hari dan hujan terus menerus mengguyur.

"Kami tinggal sekeluarga ada tiga jiwa, sementara ini menginap di rumah orang tuanya, karena khawatir retakan akan terus terjadi dan membahayakan keselamatan keluarga," katanya.

Sementara keterangan Danramil 1221/Taraju Kapten Czi Rohadi, hujan sepanjang hari menjadi salah satu terjadinya pergeseran tanah juga kontur tanah yang labil. Puluhan rumah penduduk di Desa Purwaraharja dan Desa Ciroyom, terancam. Jembatan penghubung dua desa ini juga teracam longsor.

Bersama Tim BPBD Kabupaten Tasikmalaya, kata Rohadi, pihaknya melakukan patroli dan melakukan peninjaun kondisi pergerakan tanah itu.

"Retakan tanah baru kali ini terjadi dan dikhawatirkan akan terus meluas. Retakan tanah tersebut mengancam jembatan penghubung dua desa dan pemukiman warga," katanya.

Menurutnya, kondisi tanah di Kecamatan Bojong Gambir dan di Kecamatan Taraju memang masuk ke dalam zona bahaya longsor. Karena tekstur dan kontur tanah labil dan rawan terjadi longsor. Ditambah dengan cuaca ekstrem saat ini perlu diwaspadai akan terjadi bencana longsor dan pergeseran tanah

Dari data pengecekkan ke lokasi tersebut, ada sebanyak 20 unit rumah yang terdampak pergerakan tanah. Selain puluhan rumah warga yang terdampak, kata Rohadi, 1 jembatan penghubung antara Desa Ciroyom dan Purwaraharja terancam roboh atau putus.

Pihaknya berharap, warga agar segera melaporkan kepada aparat setempat jika terjadi pergerakan tanah susulan dan selalu waspada.

"Warga agar ada yang bergantian untuk ronda malam di sekitar lokasi pergerakan tanah. Agar bahaya retakan bisa diantisipasi," katanya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR