Ada Sapi Ketawa untuk Mendata Populasi Anjing di Kota Solo

Nasional

Senin, 24 Februari 2020 | 18:15 WIB

200224181700-ada-s.jpg

Tok Suwarto

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo ketika meluncurkan aplikasi SAPI KETAWA yang merupakan inovasi Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan, untuk mendata satwa, khususnya anjing.

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Solo melakukan Pengendalian Penyakit Hewan Menular Strategis dan Zoonosis (PHMSZ), khususnya penyakit rabies, melalui pendataan populasi satwa anjing berbasis teknologi informasi (TI). Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Pemkot Solo berinovasi menciptakan aplikasi pendataan satwa, yang disebut Sistem Aplikasi Kesehatan Hewan atau disingkat "Sapi Ketawa". 

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, ketika launching aplikasi inovasi yang diciptakan DPKPP tersebut, Senin (24/2/2020), menjelaskan, melalui aplikasi SAPI KETAWA Pemkot Solo berharap dapat menyediakan database satwa, khususnya anjing yang ditengarai menularkan penyakit rabies. Berdasarkan basis data tersebut, Pemkot Solo dapat mengetahui persebaran anjing dan  membantu memudahkan perumusan kebijakan dalam pengendalian PHMSZ anjing di Kota Solo.  

"Hal yang melatarbelakangi adanya aplikasi ini, karena banyaknya populasi dan mutasi anjing di Kota Solo. Pengendalian penyakit hewan menular strategis dan zoonosis, khususnya rabies, dilakukan melalui pendataan anjing dengan menggunakan sistem aplikasi berbasis TI yang disingkat Sapi Ketawa itu," katanya. 

Pada tahap awal tahun 2019 lalu, Pemkot Solo melakukan pendataan di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Banjarsari dan Kecamatan Jebres, dengan hasil 836 ekor anjing yang terdata. Tahap selanjutnya tahun 2020, pendataan akan dilaksanakan di tiga kecamatan, yaitu Serangan, Pasar kliwon dan Laweyan. 

Dalam pendataan satwa anjing menggunakan aplikasi Sapi Ketawa, para pemilik anjing yang belum terdaftar diminta mengakses website https://dispertankpp.surakarta.go.id/sapiketawa. Setelah anjingnya terdata, para pemilik satwa akan mendapatkan kartu identitas hewan dan pin berupa kalung dengan alamat web berbarcode. Pihak DPKPP menyatakan, sistem pendataan satwa menggunakan aplikasi Sapi Ketawa akan dikembangkan untuk mendata satwa lain, yaitu kucing dan ternak.

Sedangkan prioritas utama penggunaan aplikasi tersebut diterapkan untuk pendataan satwa anjing, karena populasi dan mutasi anjing di Kota Solo selama ini sulit terpantau. Bahkan, di Kota Solo banyak anjing yang didatangkan dari luar daerah dan dagingnya dijual di warung-warung "sate guk-guk". 

 

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR