Pemerintah Putuskan untuk Evakuasi WNI dari Diamond Princess dan World Dream

Nasional

Senin, 24 Februari 2020 | 12:19 WIB

200224121029-pemer.jpg

bizlaw.id

MENTERI Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan pemerintah akan mengevakuasi seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di kapal pesiar Diamond Princess dan World Dream. Dua kapal ini terjebak dalam epidemi virus corona jenis baru (Covid-19) sejak awal Februari.

"Keputusan tentang rencana evakuasi WNI di kapal pesiar World Dream dan Diamond Princess sesuai dengan arahan Presiden. Jadi akan tangani satu persatu biar lebih cermat, dengan segala kehati-hatian," kata Muhadjir di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (24/2/2020).

Terdapat 78 orang WNI di kapal pesiar Diamond Princess. Dalam perjalanan, kapal tersebut berlabuh di pelabuhan Yokohama untuk menjalani masa karantina penyebaran Covid-19. Terdapat empat WNI terkonfirmasi terpapar virus tersebut dan sedang menjalani perawatan di Jepang.

Sebanyak 188 WNI bekerja di kapal pesiar World Dream yang hingga saat ini masih berada di perairan internasional dekat Bintan karena ditolak bersandar di seluruh negara termasuk Indonesia. Hasil pemeriksaan kesehatan ekstensif berikut suhu tubuh itu menunjukkan bahwa seluruh kru WNI terbebas dari Covid-19, demikian pula seluruh penumpang kapal yang telah meninggalkan kapal pada pelayaran terakhir pada 9 Februari 2020 dari Hong Kong.

"Sementara yang kita putuskan untuk mengevakuasi anak buah kapal WNI dari World Dream ke Kapal Suharso sudah melaut, kemudian dipindahkan. Kapal Suharso akan diobservasi sesuai dengan prosedur yang ditetapkan TNI," ungkap Muhadjir.

Saat ini KRI Dr Soeharso-990 yang merupakan kapal rumah sakit milik TNI AL telah siap untuk diberangkatkan dari dermaga Komando Armada Dua (Koarmada 2) Surabaya, Jawa Timur.

"Lokasi sudah ditetapkan dan disiapkan, yaitu di Kepulauan. Ada pulau yang tidak berpenghuni, di Sebaru 1," kata Muhadjir.

Pulau Sebaru 1 berada di kawasan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. "Pokoknya ada tempat yang kita anggap aman karena ada pulau yang tidak ada penghuninya, kita tinggal pakai saja," kata Muhadjir.

Hingga saat ini pemerintah masih bernegosiasi dengan pemerintah Jepang terkait waktu evakuasi.

"Nanti kita tangani satu persatu, yang sekarang ini yang sudah mengapung-ngapung harus segera kita tangani dan selesaikan dan kalau sekarang masih ada pemerintah Jepang dan masih negosiasi dengan pemerintah Jepang. Bagaimana supaya warga negara di sana bisa ditangani," kata Muhadjir.

Ia pun menegaskan bahwa penanganan di Diamond Princess harus ditangani dengan hati-hati

"Sudah ada standar. Intinya kita harus tangani satu persatu, dan tadi (arahan) Presiden, kita harus membentuk kemungkinan terjadinya episentrum baru dan kita harus menyelamatkan WNI kita dan Alhamdulillah masih dalam keadaan zero dan harus kita syukuri dan kita jaga," kata Muhadjir.

Pada Rabu (20/2), seiring dengan berakhirnya masa karantina selama 14 hari, Jepang memperbolehkan penumpang kapal Diamond Princess yang tak terinfeksi untuk meninggalkan kapal. Ratusan orang mulai turun dari kapal tersebut.

Proses ini diperkirakan berlangsung beberapa hari. Total ada sekitar 3.700 orang di kapal, namun yang terinfeksi tidak diperbolehkan meninggalkan kapal. Total ada 620 kasus infeksi virus Covid-19 di Diamond Princess.

Beberapa negara telah atau merencanakan mengevakuasi warga mereka dari kapal itu. Amerika Serikat telah memulangkan 300 orang lebih warganya dari Diamond Princess.

Hingga Senin pagi terkonfirmasi 79.00 orang yang terinfeksi Covid-19 dan 2.469 meninggal serta 23.510 dinyatakan sembuh. Kasus di China mencapai 76.942 kasus, di kapal Diamond Princess mencapai 691 kasus, di Korea Selatan 602 kasus, di Italia 155 kasus serta kasus di 29 negara lainnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR