Eropa Panik Timur Tengah Siaga, Italia Karantina 12 Kota Pakar Khawatir Corona Menuju Titik Kritis

Dunia

Senin, 24 Februari 2020 | 10:46 WIB

200224104554-eropa.jpg

dailymail

Para ahli memperingatkan virus corona saat ini telah mencapai batas menuju titik kritis menyusul ledakan kasus di sejumlah negara dalam beberapa hari terakhir, termasuk tiga kematian di Italia dan empat lainnya terinfeksi di Inggris. Fakta ini memicu kepanikan di Eropa.

Terakhir Austria menghentikan semua perjalanan kereta dari dan menuju Italia yang juga memerintahkan 50.000 warga di 12 kota untuk tidak keluar rumah setelah 150 orang diketahui terinfeksi.

Karnaval Venice terpaksa dibatalkan.

Dikutip dari DailyMail, Senin (24/2/2020) direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut  Italia mengonfirmasi kematian pertama akibat virus corona Jumat kemarin.

Kenaikan tajam kasus corona yang  terjadi di Iran dan Korea Selatan menjadikan  jumlah orang yang terinfeksi secara global melonjak hingga 79.166 hari ini termasuk 2.470 kematian. Meski Uni Eropa menyerukan untuk  “tidak perlu panik”, sejumlah pakar kesehatan memperingatkan dalam 24 jam terakhir dunia menuju titik krisis corona.

Austria tutup jalur kereta dari dan menuju Italia.

Bella Hadid batal tampil di Milan Fashion Week.

Paul Hunter, profesor kedokteran dari Universitas East Anglia mengatakan, klaim penurunan jumlah penderita  corona di Cina yang dimulai sejak  Desember tak sebanding dengan perkembangan kasus global akhir pekan ini yang sangat memprihatinkan.

Italia misalnya memerintahkan 50.000 warga tidak keluar rumah selain membatalkan Karnaval Venesia dan menunda pertandingan sepak bola Liga Serie A sebagai upaya menahan sebaran corona.

Sebelumnya Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menyatakan “siaga penuh” setelah 161 kasus baru corona dilaporkan awal pekan ini dan satu kematian lagi sehingga total warga Negergi Ginseng yang terinfeksi menjadi 763 orang dan tujuh orang tewas.

Sebaran corona di Italia.

Jumlah kematian yang yang naik menjadi delapan di Iran juga mendorong larangan perjalanan dari negara-negara tetangga. Dr. Robin Thompson, peneliti junior epidemiologi matematika dari University of Oxford kepada The Guardian mengatakan, “Ini tahap penting wabah corona. Isolasi cepat bahkan untuk kasus ringan di daerah yang terkena dampak juga krusial untuk pencegahan transmisi antar-manusia di Eropa.  Pedoman kesehatan ini harus  dipatuhi."

Pada hari Minggu, Presiden Cina Xi Jinping mengakui epidemi corona sebagai  “darurat kesehatan terbesar” dalam sejarah Negeri Tirai Bambu. Mengkuti langkah Cina, Italia dan Iran kini mulai menerapkan langkah yang sebelumnya hanya dilakukan di Cina di mana puluhan juta warga “dikarantina” di provinsi Hubei, pusat penyebaran wabah.

“Ini krisis bagi kami dan ujian besar," ujar Xi melalui pidato  yang disiarkan televisi pemerintah. Dalam pengakuan yang jarang terjadi saat  pertemuan koordinasi perang melawan virus corona, Xi menambahkan Cina harus belajar dari setiap kekurangan selama penanganan.

Siaga corona di jalanan Italia.

"Perang corona" di Korea Selatan.

Sejauh ini WHO memuji Beijing terkait penanganan epidemi corona, tapi kritik tetap mengarah pada Cina yang dinilai membungkam peringatan dini dari seorang dokter yang kemudian meninggal karena virus yang sama.

Sementara itu infeksi corona di Korea Selatan hampir tiga kali lipat akhir pekan ini dan menjadikannya negara dengan jumlah infeksi corona tertinggi di luar Cina, selain kasus kapal pesiar Diamond Princess.

Sekitar setengah dari kasus di Korea Selatan terkait dengan sekte Gereja Shincheonji Yesus di kota Daegu di mana ribuan anggotanya dikarantina. Kepanikan virus corona juga merambah catwalk setelah beberapa peragaan busana di Milan Fashion Week dibatalkan atau digelar secara tertutup dan yang lainnya memanfaatkan live streaming.

Petugas medis membawa pasien corona di Italia. 

Sebagian besar kasus corona di Italia terkonsentrasi di Codogno, sekitar 43 mil dari Milan. Negara  tetangga Slovenia pun meminta wisatawan yang kembali dari resor ski Italia untuk mewaspadai gejala corona. Italia menjadi negara Eropa pertama yang melaporkan kasus kematian akibat corona  pada hari Jumat.

Dua kematian lainnya dilaporkan menyusul hingga Perdana Menteri Giuseppe Conte meminta warga mematuhi semua saran dari otoritas kesehatan. Peningkatan kasus dalam dua hari terakhir di Eropa ini diakuia juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia, Tarik Jasarevic.

Tak itu saja, yang juga mengkhawatirkan tidak semua kasus yang dilaporkan memiliki kaitan epidemiologi yang jelas seperti riwayat perjalanan ke Cina atau kontak dengan kasus yang dikonfirmasi.

Sejumlah pesumo menuju venue even dengan bermasker.

Jasarevic menambahkan, "Pada tahap ini, kita perlu fokus pada membatasi penularan dari manusia ke manusia lebih lanjut." Mencegah sebaran Iran memerintahkan penutupan sekolah, universitas, dan pusat kebudayaan di 14 provinsi setelah delapan kematian akibat corona atau paling banyak di luar Asia Timur.

Wabah corona di Iran mulai ramai awal pekan lalu dengan jumlah warga terinfeksi menjadi 43. Lonjakan ini mendorong Iran melakukan pembatasan perjalanan regional. Perdana Menteri Armenia Nikol Pachinian juga mengatakan pihaknya menutup perbatasannya dengan Iran dan menangguhkan penerbangan. Seperti pemerintah Italia, dia juga meminta warga untuk tidak panik.

Namun Prof. Hunter dari East Anglia mengatakan situasi di Iran memiliki implikasi besar bagi Timur Tengah. "Iran tidak memiliki sumber daya dan fasilitas yang secara memadai mampu mengidentifikasi kasus dan mengelolanya dengan optimal jika jumlah kasusnya besar," katanya.

Para pendukung Lazio ikut terdampak krisis corona di Italia.

Pakistan dan Turki pun mengumumkan penutupan penyeberangan darat dengan Iran sementara Afghanistan menunda semua perjalanan ke Negeri Seribu Mullah tersebut. Di Cina wabah corona sejauh ini terkonsentrasi di Wuhan, tempat virus diyakini berasal tepatnya pasar hewan.

Saat ini dilaporkan tingkat infeksi Cina telah melambat, tapi metode perhitungan yang beberapa kali berubah memicu keraguan akurasi data. Ada juga kekhawatiran Cina masih kesulitan mendeteksi virus.

Gigi dan Bella Hadid meninggalkan Italia bersama sang ibu, Yolanda.

Dan Jepang kemarin mengonfirmasi seorang penumpang wanita yang awalnya dinyatakan negatif dan diperbolehkan meninggalkan kapal pesiar Diamond Princess ternyata positif terinfeksi.

Demikian pula di Israel, pihak berwenang mengonfirmasi warga negara Israel kedua yang kembali dari kapal yang sama dinyatakan positif. Mereka termasuk di antara 11 warga Israel yang diizinkan meninggalkan kapal dan pulang setelah awalnya dinyatakan negatif.

Ambulans membawa pasien corona di Korea Selatan.

Kritik dialamatkan pada pemerintah Jepang menyusul penanganan kasus corona di kapal pesiar yang dikarantina di Yokohama. Minggu kemarin penumpang ketiga dikonfirmasi kementerian kesehatan Jepang meninggal. Empat warga Inggris yang kembali dari Diamond Princess pada hari Sabtu juga dinyatakan positif.

Terakhir sebuah klip postingan sejumlah kru India Diamond Princess mengungkapkan ketakutan dan kepasrahan. Beberapa begitu frustrasi hingga meyakini pada akhirnya semua penumbang akabn terinfeksi jika evakuasi tidak dilakukan bagi mereka yang negatif virus corona.


Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR