Menko PMK Ajak Masyarakat Kurangi Makanan Berlemak

Nasional

Minggu, 23 Februari 2020 | 13:40 WIB

200223132214-menko.jpg

mnctrijaya.com

Muhadjir Effendy

PENYAKIT kanker merupakan salah satu penayakit yang tergolong sebagai penyakit paling mematikan di dunia. Data dari Global Cancer Observasy (Globocan) menyebutkan bahwa di tahun 2018, terdapat 18,1 juta kasus baru kanker dengan angka kematian sebesar 9,6 juta.

Di Indonesia sendiri, angka kejadian penyakit kanker menempati urutan ke 8 di Asia Tenggara dan urutan 23 di Asia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,8 per 1.000 penduduk, angka tersebut lebih tinggi dibanding 2013 dengan prevalensi 1,4 per 1.000 penduduk.

Riset ini juga menemukan, prevalensi tertinggi ada di Yogyakarta sebanyak 4,86 per 1.000 penduduk, disusul Sumatera Barat 2,47, dan Gorontalo 2,44. Tentunya hal tersebut bukan lah prestasi yang membanggakan. Angka penderita kanker di Indonesia harusnya bisa ditekan seminimal mungkin.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyampaikan masyarakat harus waspada dengan penyakit kanker. Menjaga pola hidup sehat menurut Muhadjir adalah kunci utama untuk menghindari penyakit kanker.

Mulai dari olahraga teratur, minum air putih teratur, tidak merokok, dan mengurangi konsumsi makanan berlemak adalah kiat-kiat yang disarankan oleh Menko Muhadjir dalam menjaga pola hidup sehat.

Menurut Muhadjir hal terpenting yang bisa dilakukan adalah menjaga pikiran agar tidak stress dan mampu terus berpikir positif.

"Kalau itu bisa kita lakukan akan sehat panjang umur dan pikiran akan selalu jernih," ucap Muhadjir usai berpartispasi dalam kegiatan Run for Hope di Plaza Semanggi, Jakarta, seperti ditulis wartawan "PR", Dhita Seftiawan, Minggu (23/2/2020).

Peran aktif masyarakat dalam menjaga kesehatan sangat diperlukan. Selain itu masyarakat perlu memberikan penguatan kepada para penderita kanker agar terus semangat dalam menjalani hari.

"Tentu saja kita harus punya empati untuk ikut merasakan membayangkan bagaimana mereka harus berjuang habis-habisan untuk melawan kanker itu," katanya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR