Ada Empat Hal yang Sebabkan Bahasa Ibu Musnah

Seni & Budaya

Jumat, 21 Februari 2020 | 22:17 WIB

200221222220-ada-e.jpg

PENYEBAB musnahnya atau hilangnya bahasa ibu (daerah) di suatu tempat atau negara akibat empat hal. Hal itu dikatakan oleh salah seorang tokoh Sunda yang juga penulis, Taufikurohman disela sela peringatan hari bahasa ibu di gedung YPK Bandung, Jumat (21/2/2020).

Keempat penyebab musnahnya bahasa ibu itu pertama akibat kanibalisasi bahasa, seperti bahasa daerah yang digeser oleh bahasa asing oleh penuturnya. Kedua akibat bencana alam. "Dulu Indonesia memikiki bahasa Tambora, namun akibat penuturnya hilang karena letusan gunung Tambora, maka hilang pula bahasa daerah Tambora," jelasnya.

Ketiga akibat perkawinan silang. Indonesia banyak memiliki suku bangsa dan bahasa. "Di saat mereka berjodoh dan nikah kemudian punya anak, si oranhtua lebih senang mengajatkan bahasa Indonesia (nasional) daripada bahasa daerahnya masing-masing," tambahnya.

Ketiga akibat tidak diipelihara. Di Indonesia, banyak bahasa derah yang hilang setiap tahunnya karena bahasanya tidak dipelihar oleh penututlrnya.

"Unesco sudah menetapkan, bahasa derah (ibu) akan dinyatakan musnah apabila jumlah penuturnya kurang dari 100 ribu orang. Untuk bahasa Sunda, saya mah yakin masih terpelihata, karena jumlah penuturnya di atas sekitar 30 juta orang," ujarnya.

Namun kata Taufik, sekarang muncul fenomena di kalangan pemimpin maupun pejabat publik lainnya. Di saat mereka berpidato sering kali menggunakan bahasa daerah paling banyak dua kalimat, setelah itu dilanjutkan oleh bahasa Indonesia.

"Saya melihat pemimoin dan pejabat dii Jawa Barat tidak memguasai bahkan tidak pernau belajar bahasa daerah saat berpidato. Seharusnya sebagai seorang pemimpin atau pejabat publik memberikam contoh kepada warganya melalui bahasa daerah yang dikuasainya," tambahnya.

Taufik pun tak mempermasalahkan kalangan generasi muda menggunakan bahasa derah (Sunda) yang kasar. Menurut Taufik, bahasa Sunda sangat beaar dipengaruhi oleh Mataram, sehingga ada undak unduk bahasa, yakni ada bahasa yang lemes dan bahasa yang kasar.

"Saya yakin bahasa Sunda akan kembali lagi pada masa kemunculannya, yakni ada bahasa yang loma dan yang kasar. Kalau generasi muda yang lebih banyak memggunakan bahasa yang kasar, biarkan saja karena di dalam hatinya ada filter. Contoh kata anjing yang sudah menjadi kata awala, sisipan dan akhiran. Oleh kalangan muda mulai dilemeskan menjadi kata anjir, anjrit, anjis dan sebagainya. Yang penting mereka tidak meninggalakn bahasa ibunya," terangnya.

Sementara itu salah seorang anggota DPRD Jabar, Bucki Wibawa menyebutkan, keluarga memegang peranan penting terhadap perkembangan bahasa daerah di lingkungam terkecil, keluarga. Jika kalangam orangtua di rumah selalu memgajarkan bahasa nasional Indonesia, jangan berharap bahasa daerah bisa dilirik apalagi bertahan.

"Perlu komitmen kuat dari kalangan orangtua untuk mempertahankan budaya (bahasa daerah) kepada anak- anaknya. Salah satu upaya mengenalkan budaya tradisional adalah dengan bahasa daerah. Jadi orangtua dam keluarga memegang peranan penting akan keberlangsungan bahasa daerah," terangnya.

Bucky pun meminta seluruh warga Indonesia harus merasa penting dengan peringatan bahasa ibu internasional. Katena bahasa adalah ciri dari suatu bangsa. Jika bahasanya hilang, maka bangsa tersebut ikut juga hilang.

"Saya jadi teringat dengan pesan dari suku Haka di Taiwan yang menulis 'jangam pernah melupakan bahasa (bahasa ibu), sekalipun tanah leluhur sudah terjual. Pesan ini memiliki makna yang cukup besar pada kita. Apalagi diperingatan hari bahasa ibu internasional tahun ini," katanya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR