Pemkab Garut Segera Relokasi Warga Korban Longsor di Talegong

Daerah

Jumat, 21 Februari 2020 | 20:14 WIB

200221201822-pemka.jpg

Agus Somantri

Satu rumah warga mengalami keretakan pada bagian dinding dan lantainya karena tanah di bawah rumah permanen itu bergeser akibat pergerakan tanah yang terus terjadi, Jumat (21/2/2020). Rumah tersebut tepat berada di sisi tebing yang mengalami longsor.

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Garut siap merelokasi warga yang terdampak bencana tanah longsor di Kampung Legok Bintinu, Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut. Sedikitnya, terdapat 24 rumah dan satu masjid yang terdampak akibat bencana yang terjadi pada Senin (17/2/2020) lalu itu.    

Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, mengatakan, kondisi tanah di lokasi terjadinya bencana longsor itu sudah tidak dapat ditinggali. Pasalnya konstruksi tanah di daerah tersebut berubah setelah longsor terjadi, sehingga dapat mengancam keselamatan warga yang tinggal di wilayah tersebut.

"Kalau saya lihat, kondisi tanah yang ada di lokasi sudah tidak memungkinkan untuk ditinggali. Karena tanah ini masih bergerak, ini akan terus longsor," ujarnya saat mengunjungi lokasi longsor di Kampung Legok Bintinu, Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, Jumat (21/2/2020).

Menurut Helmi, di sekitar lokasi kejadian longsor itu terdapat sedikitnya 24 rumah warga dan satu masjid yang terdampak. Ia menyebutkan, Pemkab Garut akan segera merelokasi bangunan yang terdampak tersebut ke tempat yang lebih aman.

Helmi menyebutkan, saat ini Pemkab Garut sudah mulai melakukan kajian untuk merelokasi warga. Sementara pemerintah desa setempat telah menyiapkan tanah untuk tempat relokasi, di mana warga sudah menyetujuinya. Diakui Helmi, pihaknya ingin agar relokasi dapat berlangsung cepat supaya warga yang terdampak tidak perlu lagi mengungsi.

"Tanahnya sudah ada, sudah saya lihat. Kepala desa setuju dan yang punya juga sudah siap dijual. Tinggal eksekusi secepatnya," ucapnya.

Diungkapkan Helmi, meskipun proses relokasi memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun, pihaknya menargetkan dalam waktu dua bulan kedepan bangunan untuk relokasi harus sudah dapat digunakan warga.

"Jika tanah sudah dibeli, harus langsung dibangun. Saya perkirakan satu-dua bulan kedepan proses pembangunan bisa diselesaikan," katanya.
Helmi juga mengajak warga sekitar untuk membantu proses pembangunan rumah relokasi. Ia menilai, proses pembangunan akan lebih cepat kalau dilakukan secara bergotong-royong.

"Jadi saya minta semua ikut gotong royong, nanti kita (pemkab) ikut bantu. Termasuk pembangunan masjid yang terdampak," katanya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Iman Purnama Ridho, mengatakan, pihaknya akan segera menindaklanjuti instruksi relokasi dengan mengundang Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk mengecek kondisi tempat relokasi.

Ia menyebut, terdapat 24 kepala keluarga (KK) atau 73 jiwa yang terdampak dan mesti direlokasi. Jika di lokasi yang akan dijadikan tempat relokasi memiliki potensi bencana serupa, terangnya, maka BPBD akan kembali berkoordinasi dengan Pemkab Garut dan tokoh masyarakat Desa Sukamaju untuk mencari tempat lain.

"Namun kalau dinyatakan aman, yang lain menurunkan harga taksiran tanah. Baru kita koordinasi dengan dinas terkait," ujarnya.
Iman pun menyarankan warga yang rumahnya terancam agar tidak memaksakan diri untuk kembali ke rumahnya. Sebab, kondisi di lokasi longsor itu masih terjadi pergerakan tanah dan longsor kecil.

Sebelumnya, bencana tanah longsor yang terjadi di Kampung Legok Bintinu, Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong pada Senin (17/2/2020) dinihari lalu menyebabkan satu orang warga meninggal karena tertimbun material longsoran. Puluhan warga yang terdampak pun terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman karena rumah mereka terancam longsor susulan.  

Berdasarkan data Pemerintah Desa Sukamaju, hingga Jumat (21/2/2020) hari ini, terdapat sebanyak 73 orang warga yang masih mengungsi di rumah kerabat atau tetangga yang dinilai aman.

Kepala Desa Sukamaju, Yeyet, mengatakan, longsor menyebabkan sedikitnya 24 rumah warga dan satu masjid di Kampungnya tersebut terdampak. 14 bangunan diantaranya masuk dalam zona merah yang terancam longsor. "Dari 24 bangunan itu ada 14 rumah masuk zona merah. Sudah tak bisa ditinggali. Makanya harus segera direlokasi," katanya.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR