Perlu 18 Bulan Proses Produksi, Ilmuwan Rekayasa Genetika Amerika Klaim Siap Uji Coba Vaksin Corona

Dunia

Jumat, 21 Februari 2020 | 13:54 WIB

200221135352-perlu.jpg

dailymail

Sejumlah ilmuwan Greffex, perusahaan rekayasa genetika yang berbasis di Houston, Amerika Serikat mengklaim telah menciptakan vaksin virus corona. Kepada Houston Business Journal, pihak perusahaan menyebut hasil pengembangan vaksin siap untuk pengujian terhadap hewan dan selanjutnya menunggu keputusan regulator farmasi Negeri Paman Sam.

Dikutip dari DailyMail, Jumat (21/2/2020) sebelum peneliti di University of Texas di Austin mengumumkan senyawa yang mereka yakini dapat berfungsi sebagai vaksin, ilmuwan lain di berbagai belahan dunia juga berlomba melakukan hal yang sama, meskipun dengan pendekatan berbeda.

Mengembangkan vaksin, bagaimanapun, hanya langkah pertama sebelum benar-benar didistribusikan. Sejauh ini proses pengujian hingga produksi bisa memakan waktu antara 18 bulan hingga dua tahun. Greffex sendiri belum mengumumkan timeline.

Greffex mengatakan demi keselamatan para ilmuwan tidak menggunakan virus corona baik hidup ataupun yang tidak aktif dalam pembuatan vaksin. Sebagian besar vaksin mengandung virus hidup yang dilemahkan atau bentuk patogen yang tidak aktif.

Virus corona sendiri masih sangat kurang dipahami dan menyebar dengan begitu cepat sehingga ilmuwan di Greffex tidak ingin mengambil risiko paparan yang dapat memicu penyakit yang mengancam jiwa tersebut.

Tim rekayasa genetika Greffex mengembangkan vaksin mereka dengan “rujukan” adenovirus. Salah satu penyebab paling umum infeksi pernapasan yang juga pemicu 2-5 persen pilek dan banyak digunakan dalam pembuatan vaksin.

Perusahaan lain mengembangkan vaksin yang sebelumnya dikembangkan selama wabah SARS tetapi ditinggalkan begitu virus reda dalam enam bulan. Para ilmuwan di University of Texas, Austin membuat ulang molekul yang membentuk protein pada permukaan corona (SARS-CoV-2) untuk membuat peta struktur tiga dimensi.

Senyawa yang mereka buat diyakini dapat berfungsi sebagai vaksin dan  memicu respons kekebalan terhadap virus. Seperti tim UT Austin dan kolaborator di Moderna Therapeutics, Greffex percaya  proses produksi mereka termasuk yang tercepat.

“Tantangan dalam membuat vaksin adalah dapatkah kita mengukur vaksin yang telah dibuat dalam skala penggunaan dosis. Lalu dapatkah kita menguji vaksin dengan cepat dan efisien serta menerapkannya pada pasien,” ujar CEO Greffex John Price kepada KHOU.

Ia melanjutkan pihaknya memiliki keunggulan dibanging perusahaan lain dalam tiga poin yang disebutkannya. Klaim vaksin Greffex muncul setelah National Institutes of Health (NIH) memberikan hibah $ 18,9 juta atau Rp 336 miliar
untuk mengembangkan dasar formula dan rancangan vaksin dengan tambahan  bahan khusus.

Sesuai proses kandidat vaksin diuji pada hewan, kemudian uji klinis fase 1 pada manusia dimulai, diikuti dua fase uji coba manusia lainnya, dan mendapat persetujuan Food and Drug Administration (FDA). Pengembangan sempurna vaksin dapat memakan waktu hingga satu dekade. Dan dengan semua detail pengujian dan analisis produksi vaksin perlu waktu 18 bulan hingga satu tahun.



Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR