Tabur Bunga Ritus Masyarakat Cireundeu Peringati Tragedi TPA Leuwigajah

Seni & Budaya

Jumat, 21 Februari 2020 | 13:39 WIB

200221134154-tabur.jpg

TABUR bunga digelar warga Kampung Adat Cireundeu, Jumat (21/2/2020), dalam rangka memperingati tragedi longsor ribuan kubik sampah di tempat penampungan akhir (TPA) Leuwigajah, 15 tahun silam atau tanggal 21 Februari 2005.

Ritus tabur bunga dilakukan dibekas lokasi longsor sampah. Meski sempat diguyur hujan, namun tidak mengurangi kekhidmatan upacara adat tersebut. Sejumlah tokoh kampung adat hadir dalam kegiatan tersebut.

Sebelum melakukan ritual tabur bunga, terlebih dahulu digelar doa bersama yang diikuti warga Kampung Adat Cireundeu, serta puluhan anak SD, dan mahasiswa di dekat kantor RW.

Usai memanjatkan doa, sejumlah tokoh adat Kampung Cireundeu dengan memakai pakaian pangsi hitam-hitam lengkap dengan ikat kepala, berjalan kaki menuju bekas lokasi TPA Leuwigajah.

Ritual menabur beragam jenis bunga itu diiringi musik karinding yang dimainkan tokoh adat, dan dimainkan di atas tebing dengan ketinggian sekitar 60 meter. Suara alat musik dari bambu itu dimainkan dengan cara dijepit bibir dan ditepuk dengan jemari telapak tangan kanan.

Sehingga suara yang dihasilkan bernada tinggi, melengking dan berpadu dengan hembusan angin, serta rintik hujan.

Bunga yang disimpan di keranjang anyaman rotan itu kemudian ditaburkan oleh tokoh adat, dan warga setempat ke bawah tebing. Sehingga bunga yang ditaburkan itu berterbangan, karena terbawa angin kebawah tebing yang cukup tinggi itu.

Pegunungan serta hamparan tumbuhan yang hijau terlihat dan membuat suasana terasa sejuk.

Ais Pangaping atau Sesepuh Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi meng­ungkapkan tradisi ini sebagai peringatan kepada umat manusia agar kejadian serupa tidak terulang. "Sampah perlu dikelola dengan baik agar tidak mencelakai masyarakat. Musibah ini jadi bagian dari sejarah peradaban manusia,” katanya.

Seperti diketahui, tragedi itu cukup mengerikan, sebab menelan korban jiwa 157 orang. Puluhan rumah tertimbun yaitu di Kampung Cilimus dan Kampung Gunung Aki, Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung serta Kampung Pojok, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Peristiwa itu terjadi dini hari saat warga terlelap tidur. Hujan mengguyur seantero kampung Leuwigajah dua hari berturut-turut. Akibatnya ribuan kubik sampah yang memang sudah menggunung tak bisa lagi menahan beban air, hingga akhirnya runtuh alias longsor.

Sampah menyeruak, mengalir bak air sungai, cukup deras lalu menimbun puluhan rumah yang ada di sekitarnya. Ratusan orang hilang tertimbun, lalu jenazahnya berhasil ditemukan hingga mencapai 157 orang.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR