Longsor yang Rusak TPT di Cijolang Limbangan, Sudah Dua Kali Terjadi

Daerah

Jumat, 21 Februari 2020 | 13:16 WIB

200221132010-longs.jpg

Agus Somantri

Tembok Penahan Tanah (TPT) di Jalan Raya Limbangan, tepatnya di Kampung Cijolang, Desa Cijolang, Kecamatan Limbangan,Kabupaten Garut yang longsor, Jumat (21/2/2020).

TEMBOK Penahan Tanah (TPT) di pinggir Jalan Raya Limbangan, tepatnya di Kampung Cijolang, Desa Cijolang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut longsor, Jumat (21/2/2020). Longsor terjadi setelah sebelumnya terjadi gempa yang mengguncang Tasikmalaya dengan magnitudo 4,9 Jumat pagi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Tubagus Agus Sofyan, mengatakan, longsor terjadi sekitar pukul 07.30 WIB. Sebelum longsor, TPT itu sempat mengalami retakan.

"Longsor TPT terjadi di Perum Pondok Indah Palasari Cijolang, Kampung Cijolang, RT 01 RW 01, Desa Cijolang, Kecamatan Limbangan. Setelah TPT retak, lalu ambrol ke pinggir jalan," ujarnya, Jumat (21/2/2020).

Menurut Tubagus, TPT yang roboh tinggi sekitar 12 meter dan panjang 50 meter. Akses Jalan Raya Limbangan sempat terhambat karena material longsor berserakan ke jalan.

"Sudah cek lokasi longsor dan koordinasi juga dengan pengembang. Soalnya TPT itu dibangun karena ada perumahan di atasnya," ucapnya.

Sementara Camat Limbangan, Arief Rumdana menyebutkan, tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa ini. Material longsor juga tidak mengganggu bahu jalan.

"Namun demikian, dikhawatirkan apabila terjadi hujan deras akan berakibat kepada penutupan jalan oleh tanah yang terbawa arus air hujan," katanya.

Karena itu, terang Arief, saat ini pihaknya berusaha untuk segera mendatangkan alat berat ke lokasi kejadian.

Alih Fungsi Lahan

Hilal Saepul (26), warga Kampung Pulosari, Desa Cijolang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut menuturkan, seingatnya, TPT di daerah tersebut sudah dua kali dibangun oleh pihak pengembang perumahan.

"Kalau tidak salah, sebelumnya juga memang sempat terjadi longsoran namun tidak terlalu besar seperti yang sekarang. Mungkin sudah tidak bisa menahan air," ucapnya.

Menurut Hilal, dulu sebelum dibangun perumahan, di daerah tersebut masih banyak pohon-pohon penahan air ketika hujan. Selain itu, juga ada jalur air hujan yang kalau kering suka dipakai main anak-anak sekolah.

"Di atas itu kan bukan hanya perumahan, ada juga SMPN 3 Limbangan sama SMKN 6 Garut," ujarnya.

Namun setelah dibangun perumahan, lanjut Hilal, pohon yang ada di kemiringan di titik longsoran itu semuanya ditebang. Kemudian dibangun tembok penahan tanah (TPT).

Hilal menilai, seharusnya hal itu (longsor) tidak perlu terjadi jika tidak ada alih fungsi lahan seperti sekarang. Terlebih, kontur tanah di daerah tersebut yang licin karena merupakan tanah merah yang sangat rentan.

"Kalau pohon yang sudah ada sejak dulu tidak di tebang, seharusnya ini tidak akan terjadi," katanya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR