Dari Barca Hingga Muenchen

Tak Pernah Lolos Kutukan Musim Keempat, Guardiola Nyatakan Setia di Etihad The Citizens Deg-degan..

Soccer

Jumat, 21 Februari 2020 | 10:36 WIB

200221103455-tak-p.jpg

dailymail

Diiming-imingi cek kosong oleh Juventus plus keleluasaan  membentuk “tim impian”, menyusul larangan dua musim tampil di Liga Champions yang dijatuhkan UEFA, Pep Guardiola memilih setia dengan Manchester City. Ini artinya ia akan melanjutkan sisa musim keempat bersama The Citizens hingga tahun kelima.

Masalahnya tahun keempat sejauh ini selalu menjadi persoalan bagi pelatih berpaspor Spanyol tersebut saat menangani klub. Ya, Pep tak pernah lolos dari musim keempat dengan catatan sukses. Setidaknya demikian yang publik ingat dimulai dari kiprah spektakulernya bersama Barcelona hingga Bayern Munich.    

Empat tahun bersama El Barca, Pep memulai dengan kesuksesan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tapi ini berakhir dengan kepergian ke Bundesliga setelah digagalkan tim  besutan Jose Mourinho, Real Madrid dalam perebutan titel La Liga.

Pep Guardiola memilih setia (kali ini).

Sabat alias menepi satu tahun untuk mental charging, Pep berikutnya menukangi Muenchen selama tiga tahun. Hasilnya ia menuai pujian berkat dominasi klub yang diarsitekinya. Tapi catatan mentereng ini terhenti menyusul hattrick kegagalan di Liga Champions. Plus satu tahun sabat, Pep hengkang dari Bundesliga di tahun keempat pasca Barca.

Memulai kembali kepelatihan di Premier League, Guardiola menjadikan City tim Inggris pertama yang mencatatkan  poin 100 saat memenangi trofi juara di musim perdana. Tapi kini City tertinggal dua digit dari calon juara Liverpool.

Dua gelaran Liga Champions mendatang pun harus direlakan setelah skorsing  UEFA akibat pelanggaran aturan finansial. Kontrak Guardiola bersama Manchester Biru baru akan berakhir pada 2021 tapi berlanjut atau tidak sepertinya publik harus menunggu terlebih dulu ending Pep di tahun keempat bersama City.

Berikut catatan kutukan musim keempat Pep seperti yang dikompilasi Sportsmail :

REKOR MANAJERIAL PEP GUARDIOLA

Barcelona B 

Divisi IV Spanyol: 2007-08

Barcelona

La Liga: 2008–09, 2009–10, 2010–11

Copa del Rey: 2008–09, 2011–12

Super Cup: 2009, 2010, 2011

UEFA Champions League: 2008–09, 2010–11

UEFA Super Cup: 2009, 2011

FIFA Club World Cup: 2009, 2011

Bayern Munich

Bundesliga: 2013–14, 2014–15, 2015–16

German Cup: 2013–14, 2015–16

UEFA Super Cup: 2013

FIFA Club World Cup: 2013

Manchester City

Premier League: 2017–18, 2018–19

FA Cup: 2018–19

EFL Cup: 2017–18, 2018–19 Community Shield: 2018, 2019

BARCELONA (2008-12)

Barcelona bukan kekuatan utama sepak bola Eropa ketika nama Pep Guardiola mengambil alih pada tahun 2008. Setelah lima tahun di bawah Frank Rijkaard, muncul pertanyaan apakah Pep pantas menempati posisi pelatih meski publik tahu persis Pep sebelumnya kapten bersama Barca dan ikut pula menjadi “tandem”  Johan Cruyff.

Populer tak serta merta membuat Barcelonista memberi dukungan. Pasalnya pengalaman manajemen senior Pep kala itu dinilai masih nol. Tapi ia  membuktikan dirinya pantas dengan membangun klub sepak bola tim terbaik yang pernah ada.

Bersama Lionel Messi mencatatkan torehan emas El Barca.

Ya, ia memiliki Lionel Messi yang berada di puncak tapi Barca lebih dari sekadar Messi. Strategi tiki-taka dari Xavi dan Iniesta, pressing kuat  memenangi penguasaan bola dengan cepat; performa fisik top dari pemain bermental kapten seperti Carles Puyol dan Sergio Busquets ikut menjadi faktor sukses Pep. Di musim pertamanya, ia mempersembahkan gelar La Liga, Copa del Rey dan Liga Champions dengan mengalahkan Manchester United.

Barca mengoleksi enam trofi di musim 2009 saja termasuk  Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa dan Klub Piala Dunia di paruh pertama 2009-10. Gelar La Liga berhasil dipertahankan musim ini dan musim 2010-11 Messi and Co. mencatatkan hattrick gelar utama sepak bola Spanyol. Puncaknya  penampilan memukau di Wembley kala mengalahkan Manchester United 3-1 di final Liga Champions.

Namun intensitas keberhasilan Guardiola ini bukannya tanpa “cabaran”. Ia  tanpa ampun menjadi objek eksploitasi kritik dan komentar dari kubu pesaing  di Madrid, tepatnya sang pelatih Jose Mourinho. Hubungan antara dua klub top Spanyol ini bahkan mencapai titik rendah ketika Mou menyasar asisten Pep, Tito Vilanova.

Di luar itu bisik-bisik dari  Nou Camp menyebut rezim Guardiola membuat pasukan Barca termasuk Messi terkuras baik fisik maupun mental. Pep mengatur semua hingga apa yang harus dimakan dan diminum skuadnya.

Barcelona dua kali juara Champions dalam tiga musim bersama Gaurdiola.

Menjelang hengkang, Pep memang memenangkan Copa del Rey, Piala Super Spanyol, Piala Dunia Klub dan Piala Super Eropa tetapi gelar utama lepas. Mourinho dan Madrid mengamankan titel La Liga dan Chelsea menyingkirkan Barca dari Liga Champions setelah bermain imbang 2-2 di Nou Camp.

Pep pun mengibarkan bendera putih. “Hari saat aku tak lagi melihat spirit  yang sama di mata para pemain, aku tahu itu saatnya aku pergi,” ujarnya. Pernyataan ini dilontarkan di musim keempat.

Cinta Barcelona.

SABAT plus BAYERN MUNICH 2012-16

Tahun pertama siklus empat tahunan berikutnya dihabiskan Pep bersama  istrinya di New York. Ia menepi dari sepak bola dan menolak tawaran Chelsea dan makan malam dengan Sir Alex Ferguson. Tapi Pep mengakhiri masa puasanya dengan keputusan menukangi Bayern Munich. Ia  bergabung di awal musim 2013-14 dengan klub yang baru saja memenangi Treble, termasuk Liga Champions. Pendeknya: no (lesser) pressure.

Tekanan mempertahankan gelar dan rentetan juara bersama Barca tak lantas membuat Pep menjadikan gelar sebagai fokus utama. Ia membawa gaya baru dalam persepakbolaan Bavaria. Ia berhasil melakukannya berkat duo pemain sayap kelas dunia Arjen Robben dan Franck Ribery. Belum termasuk sejumlah pemain inti pemain timnas Jerman termasuk penjaga gawang nomor satu Manuel Neuer.

Guardiola datang, Bayern Munich juara Bundesliga tiga kali tapi..

Bayern di tangannya memenangi Bundesliga di musim pertama dengan selisih 19 poin dari runner-up dan 94 gol dalam 34 pertandingan. Meski juara di musim 2014-15 dan 2015-16 namun keunggulan poin Robben dkk. dari pesaing utama menurun menjadi 10 poin. Di Muenchen salah satu kontrak paling berhasil yang dilakukannya kala merekrut striker Robert Lewandowski yang kini menjadi legenda klub.

Tetapi pressure  membawa pulang Liga Champions dari klub yang sebelumnya diarsiteki Jupp Heynckes itu mulai membuat Muenchen oleng.  Klub bermoto Mia San Mia itu digulung Real Madrid dengan  agregat 5-0 di semifinal 2014. Mereka berhasil menembus 4 Besar musim 2015 tetapi kalah dari Barcelona.

Di saat yang sama Manchester City melalui mantan eksekutif Barca yang juga karib Pep Guardiola, Ferran Soriano dan Txiki Begiristain yang bertanggung jawab di Etihad  secara teratur mengirim “pengintai” ke markas Muenchen   untuk menyaksikan laga klub asuhan Pep sebagai strategi membujuk Pep hengkang dengan memastikan klub barunya nanti memiliki permainan filosofi Pep.

Guardiola dan Muenchen hanya bertahan tiga musim setelah satu tahun sabat.

Tahun 2015-16 atau musim ketiga Pep di Muenchen kabar kemungkinan dirinya hijrah ke Liga Inggris mulai menghiasi media. Karakter Pep yang tak mudah diganggu gugat pun mulai “menyinggung” sejumlah orang dalam klub. Dokter legendaris Muenchen, Hans Muller-Wohlfhart pun memilih mundur. Ia menilai Pep sepenuhnya mengabaikan perangkat medis klub. Dengan kata lain semua berjalan dengan aturan Pep atau tidak sama sekali.

Dan musim ketiga belum berakhir, publik sudah tahu Pep akan bergabund dengan Manchester City musim berikutnya. Tak ada airmata haru. Pep dianggap gagal setelah tiga berturut-turut Muenchen gagal juara Liga Champions. Terakhir mereka tersingkir di semifinal setelah gol Antoine Griezmann di Allianz Arena memberikan kemenangan tandang bagi Atletico Madrid.

MANCHESTER CITY 2016-2020?

Guardiola tiba di Manchester bersamaan dengan Jose Mourinho. Tidak butuh waktu lama bagi City untuk meninggalkan United dalam raihan poin di musim pertama yang masih terbilang transisi bagi Pep di The Etihad. Tanpa Ilkay Gundogan yang cedera serius, City “hanya” memenangkan Piala Liga pada 2016-17.

Namun musim berikutnya City membawa pulang gelar Liga Premier dengan rekor 100 poin dan mempertahankannya dengan 98 poin satu musim kemudian. Mereka juga mengoleksi tambahan trofi Piala FA dan Piala Liga untuk treble. DI lapangan penampilan skuad City pun membuat pencinta bola terkesan berkat performa kiper Ederson hingga  barisan penyerang Kevin De Bruyne, Raheem Sterling, Leroy Sane dan Sergio Aguero.

From Guardiola with Premier League di musim kedua bersama publik Etihad.

Namun seperti di Muenchen kiprah Pep belum dinyatakan sempurna hingga gelar Champions direngkuh. Sesuatu yang tak menjadi mudah menyusul belum tergantikannya kapten Vincent Kompany dan cedera Aymeric Laporte. Sementara rekrutan baru dengan banderol cukup mahal seperti Benjamin Mendy dan Joao Cancelo dianggap gagal memenuhi eksptektasi.

Sempat mengeluhkan padatnya jadwal pertandingan yang disebutnya bisa “membunuh  pemain” Pep tak juga mendapat kemudahan tambahan dengan belum jelasnya perpanjangan Sane. Ia kabarnya mulai tertarik dengan Juventus.

Guardiola membawa City ke puncak Premier League musim lalu tapi tidak untuk musim ini (obviously.)

Ditambah larangan tampil di Liga Champions selama musim, tak sedikit yang memperkirakan Pep bakal “mengaktivasi” klausul pelepasan musim panas ini sebelum kontrak resmi tahun 2021 berakhir. Tapi kepada media baru-baru ini Pep memberi jawaban soal kiprahnya di   City.

Memasuki musim kelima yang menjadi teritori baru setelah dua kali kutukan musim keempat, Pep mengatakan, “Aku akan bertahan bersama klub ini bahkan jika kami terlempar ke Divisi II sekalipun..”

Well.. you hear THAT?

Let’s see!

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR