Identik Bakar Uang, 70% Startup Indonesia Berguguran Pada Tahun Pertama

Bandung Raya

Jumat, 21 Februari 2020 | 10:18 WIB

200221101904-ident.jpg

Ai Rika Rachmawati/PR

IDENTIK  dengan bakar uang, sebanyak 70% startup di Indonesia gulung tikar pada tahun pertama. Kondisi itu terjadi karena umumnya sumber daya manusia (SDM) startup belum memiliki pengalaman dan skill mumpuni di dunia bisnis.

Berdasarkan data startuprangking.com, per 21 Februari 2020 jumlah startup di Indonesia mencapai 2.188. Indonesia berada di peringkat kelima, setelah Amerika Serikat, India, Inggris, dan Kanada.

"Umumnya startup sekarang memiliki wawasan, produk bagus, tapi minus pengalaman," ungkap Business Unit Head Wilayah Jawa Barat (Jabar) PT Link Net, Tbk. (First Media), Donny Armando Razalie, pada First Academy Conference, di Hotel Aryaduta, Jln. Sumatera, Bandung, Kamis (20/2/2020).
Menurutnya, banyak startup yang hanya mengandalkan produk dan suntikan dana besar. Namun bisnis itu harus dibangun bata demi bata. Tidak bisa hanya mengandalkan produk bagus dan suntikan dana besar lantas menuai sukses menjadi perusahaan besar.

"Untuk menjadi bisnis bagus, SDM startup harus memiliki pengalaman, ilmu manajemen dan ilmu bisnis yang mumpuni," ujarnya seperti dilaporkanwartawati PR, Ai Rika Rachmawati.  

Perusahaan besar saat ini pun, kata Donny, pada awal kemunculannya merupakan startup. Mereka bisa bertahan dan terus bertumbuh karena menjalankan bisnisnya dengan baik secara bertahap.

Sedangkan Marketing Communication Expert dan Founder Creator Charmain 7 Ruang, Aris Budi Hartanto mengatakan, saat ini yang dikejar startup umumnya adalah valuasi dan bubble. Padahal, menurut dia, sejak dulu bisnis tidak pernah berubah.

"Bisnis adalah menciptakan revenue dengan memberi kemanfaatan," tuturnya.

Ia menilai, tindakan bakar-bakar uang yang dilakukan banyak startup saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Ia menilai, sudah banyak startup yang kelelahan mengejar sukses dengan cara tersebut.

"Ini tidak bagus untuk perkembangan startup, membuat banyak produk dan talenta bagus berguguran karena cara bisnis yang salah," tuturnya.

Ia mengatakan, umumnya saat memulai startup para founder yang selama ini fokus di bidang sesuai keahliannya, harus keluar dari kompetensi dan sibuk berbisnis. Akibatnya, mereka banyak yang terjebak tren dan akhirnya gila-gilaan membakar uang.

"Inilah yang mendorong lahirnya First Academy, untuk membantu startup dan UMKM khususnya, serta para profesional, untuk melihat peluang dan mengukur diri serta mengisi kelemahan mereka," tuturnya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR