Puluhan Warga Korban Longsor di Talegong Garut Masih Mengungsi

Daerah

Kamis, 20 Februari 2020 | 20:37 WIB

200220203810-puluh.jpg

Bupati Garut, Rudy Gunawan, saat meninjau para pengungsi yang terdampak longsor di Kampung Legok Bintinu, Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, Kamis (20/2/2020).

PULUHAN warga yang terdampak bencana tanah longsor di Kampung Legok Bintinu, Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut masih mengungsi dan belum berani kembali kerumahnya. Hingga saat ini mereka masih memilih untuk tinggal di rumah tetangga atau kerabatnya yang lebih aman. 

Bencana tanah longsor yang terjadi di wilayah mereka dan menimbulkan satu korban jiwa pada Senin (17/2/2020) dinihari lalu, masih menyisakan trauma, terutama bagi korban terdampak. Mereka khawatir akan terjadi longsor susulan. Pasalnya tanah di wilayah itu masih terus bergerak dan sesekali terjadi longsor kecil. 

Nasih (35), salah seorang warga yang mengungsi mengatakan, saat terjadi tanah longsor dirinya sedang tidur. Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras. Ketika dilihat, terjadi tanah longsor. Ia menyebut, lokasi terjadinya longsor hanya berjarak sekitar 10 meter dari rumahnya.

"Saya sangat kaget, dan langsung berlari ke rumah orang tua. Takut tinggal di rumah," ujarnya, Kamis (20/2/2020).

Menurut Nasih, saat ini dirinya tinggal di rumah Ketua RW setempat bersama-sama dengan warga lainnya yang mengungsi. Sedangkan, anaknya yang masih sekolah di kelas III SD tinggal bersama neneknya. Untuk kembali ke rumahnya, Nasih mengaku belum berani dan masih takut.

"Kalau siang, sesekali saya ke rumah untuk lihat kondisinya. Kalau malam kembali ke rumah Pak RW. Belum berani pulang ke rumah, takut ada longsor susulan," ucapnya.

Hal senada diungkapkan Agus (36), salah seorang pengungsi lainnya. Menurut Agus, meskipun rumahnya hanya terancam bencana tanah longsor dan tidak terdampak langsung, namun dirinya memilih untuk mengungsi bersama warga lainnya karena takut rumahnya ikut terkena longsor bila terjadi longsor susulan.

"Tanahnya masih terus bergerak. Takutnya terjadi longsor susulan, makanya lebih aman mengungsi dulu," ucapnya. 

Agus menyebutkan, saat ini untuk sementara ia juga tinggal di rumah Ketua RW setempat bersama dengan warga lainnya. Bila malam tiba, ia tidur dengan keadaan seadanya. Meski mengungsi, terang Agus, namun ia masih terus mengontrol rumahnya pada siang hari, sebab di rumahnya terdapat hewan ternak yang harus diawasi.

"Kalau siang hari masih suka ke rumah lihat hewan ternak. Tapi untuk tidur disana (rumah) masih belum berani. Masih kebayang terus kejadian waktu longsor. Masih trauma, maunya sih pindah," katanya.

Agus menuturkan ketika terjadi bencana tanah longsor. Saat itu ia bersama istri dan anaknya tengah tertidur pulas karena malam sudah larut. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh kencang yang membangunkan tidurnya. Ketika dilihat, di depan rumahnya terjadi longsor. Ia pun segera membangunkan isteri dan anaknya dan bergegas menyelamatkan diri. 

Menurut Agus, kejadian tanah longsor tersebut merupakan yang pertama kali terjadi semenjak dirinya tinggal di wilayah tersebut sejak 2005 lalu. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya akan terjadi tanah longsor.

Agus pun mengaku belum tahu sampai kapan akan mengungsi di rumah tetangganya yang juga merupakan Ketua RW di tempatnya tersebut. Ia mengaku sudah jenuh karena di rumah tempatnya mengungsi tak sebebas di rumahnya sendiri.   

"Kerjaan juga jadi terganggu. Kalau biasanya saya bawa mobil, cuma dengan kondisi sekarang ini tidak bisa," ucapnya.

Kepala Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, Yeyet, mengatakan pemerintah desa berencana untuk merelokasi rumah warga yang terdampak longsor. Namun menurutnya, untuk relokasi harus melalui beberapa tahapan. Pihaknya pun akan menemui Bupati Garut untuk membicarakan rencana relokasi tersebut. 

Yeyet menyebutkan, jika lokasi terjadinya bencana longsor sudah tidak layak untuk ditinggali karena bisa membahayakan. Pihaknya sudah mencari lokasi yang dinilai aman untuk relokasi.

"Kalau tidak direlokasi pemerintah kabupaten, saya juga siap. Memang dana desa tidak diperbolehkan beli tanah. Tapi bikin rumah siaga bencana bisa," ujarnya.

Yeyet menuturkan, berdasarkan data Pemerintah Desa Sukamaju, hingga hari ini, Kamis (20/2/2020) terdapat sebanyak 73 warga di Kampung Legok Bintanu yang masih mengungsi. Rumah mereka terdampak bencana tanah longsor yang terjadi pada Senin (17/2/2020) dinihari lalu.

Longsor menyebabkan sedikitnya 24 rumah warga dan satu masjid di Kampung itu terdampak. 24 bangunan diantaranya masuk dalam zona merah yang terancam longsor.

"Dari 24 bangunan itu ada 14 rumah masuk zona merah. Sudah tak bisa ditinggali. Makanya harus segera direlokasi," katanya.

Akan Direlokasi

Sementara itu, Bupati Garut, Rudy Gunawan yang langsung meninjau lokasi terdampak longsor di Kampung Legok Bintinu, Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong, Kamis (20/2/2020), mengatakan akan merelokasi warga yang terdampak longsor.   

Menurut Rudy, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat terkait rencana relokasi warga yang terdampak longsor tersebut.

Ia menyebut, terdapat dua lokasi yang ditawarkan Pemerintah Desa Sukamaju untuk tempat relokasi. Namun menurutnya, kedua lokasi tersebut akan diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan keamananya.

"Kita akan minta geologi (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) untuk mengecek lokasi. Kalau bebas gempa atau geralan tanah, kita beli apraisal," katanya.

Rudy juga menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut untuk mengawal proses pengecekan lokasi. Ia meminta, dalam waktu satu pekan sudah ada kepastian terkait tempat relokasi untuk para pengungsi. 

Setelah tempat relokasi didapatkan, Rudy menargetkan, untuk pembelian tanah dapat selesai dalam waktu satu bulan. Selanjutnya Pemkab Garut akan mengirimkan tim untuk proses pembangunannya. Rudy pun berharap, warga dapat terlibat gotong royong dalam pembangunannya. 

"Tidak usah pakai pemborong. Nanti dinas dengan warga bergotong royong," ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rudy juga menyarankan agar warga yang terdampak untuk sementara tinggal dulu di rumah kerabat atau ketua rukun warga (RW) setempat. 

"Pihak RW telah menyediakan rumahnya untuk dijadikan tempat pengungsian. Pemkab Garut siap menanggung kebutuhan logistik untuk pengungsi," katanya.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR