Dampak Proyek Kereta Cepat: Petani Kehilangan Pendapatan, Anaknya Berhenti Sekolah

Daerah

Rabu, 19 Februari 2020 | 19:40 WIB

200219194018-dampa.jpg

Hilmi Abdul Halim/"PR"

SEKITAR sepuluh hektare sawah di Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta terganggu oleh proyek Kereta Cepat Indonesia-Cina (KCIC). Sebagian lahan digunakan untuk tempat pembuangan tanah galian proyek hingga menutup saluran irigasi.

Salah seorang pemilik sawah yang terdampak, Iwan (60) mengatakan, proyek tersebut berlangsung sejak pertengahan 2019 lalu. "Sudah tiga kali musim tanam warga tidak bisa bertani dan tidak mendapatkan kejelasan ganti ruginya seperti apa," katanya, Rabu (19/2/2020).

Sebagian warga menyesalkan tindakan perusahaan yang langsung menggunakan lahan mereka. Padahal, Iwan mengaku belum menyepakati bentuk dan nilai pembayaran atas lahan yang digunakan itu.

Pembicaraan tersebut justru baru dilakukan setelah lahan mereka dipakai. "Mereka (pihak perusahaan) menawarkan sewa lahan seharga Rp 50 ribu per meter untuk setahun. Kami keberatan karena lahannya tidak bisa digarap lagi setelah ini. Kami minta jual saja, satu juta rupiah per meternya," ungkap Iwan seperti ditulis wartawan "PR", Hilmi Abdul Halim.

Akibat kehilangan mata pencaharian, warga pemilik lahan tersebut merasa menderita. Mereka mengaku tidak memiliki pemasukan tetap yang layak seperti dulu. Bahkan, salah seorang anak mereka terpaksa putus sekolah dari kelas 2 SMA Negeri 1 Plered.

"Anak saya yang bungsu berhenti sekolah karena saya tidak punya biaya. Apalagi saya menjanda setelah suami meninggal dunia," kata orang tua anak tersebut, Siti Khodijah (60). Biasanya, ia mendapatkan penghasilan dari panen padi di lahan seluas 1.600 meter yang kini terdampak proyek KCIC.

Menurut perhitungan warga, jumlah keluarga yang bergantung pada persawahan tersebut mencapai lebih dari 20 kepala keluarga. Namun, sebagian di antaranya telah mendapatkan uang muka untuk sewa lahan dari perusahaan pengembang.

"Ada enam orang (pemilik lahan) yang dapat uang muka itu. Lima orang masing-masing dapat Rp25 juta, seorang lagi Rp100 juta. Total lahan yang mendapatkan uang muka itu sekitar 15.000 meter," tutur seorang warga lainnya, Abu Hasim (38).

Warga berharap kehadiran Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum ke lokasi bisa memperjuangkan nasib mereka. Karena itu, mereka pun menyambutnya secara antusias di lokasi persawahan terdampak.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR