Virus Corona Ancam Bisnis Logistik Indonesia

Bandung Raya

Rabu, 19 Februari 2020 | 18:21 WIB

200219181956-virus.jpg

dok

ilustrasi

DAMPAK wabah virus Corona yang terjadi di Wuhan, Cina, mulai dirasakan para pelaku usaha layanan jasa pengiriman logistik Indonesia. Saat ini total pengiriman logistik diprediksi turun sekitar 20-30 persen.

Demikian diungkapkan Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) Jawa Barat (Jabar), Wayan Wardhana, pada Musyawarah Wilayah (Muswil) X Asperindo Jabar, di Intercontinental Hotel Bandung, Jln. Resor Dago Pakar, Bandung, Rabu (19/2/2020). Menurut dia, saat ini selain perlambatan ekonomi, wabah virus Corona menjadi tantangan terbesar bagi industri logistik tanah air.

"Arus ekspor/impor Cina-Indonesia menjadi lesu karena terjadi pembatasan. Kondisi ini membuat jumlah pengiriman logistik menurun," tuturnya seperti ditulis wartawan "PR", Ai Rika Rachmawati.

Pasalnya, menurut dia, banyak barang yang dikirim penyedia layanan jasa logistik Indonesia yang berasal dari Negeri Tirai Bambu. Misalnya saja: pakaian, gadget, barang rumah tangga, dan alat perlengkapan lainnya.

"Pengiriman logistik banyak yang barangnya berasal dari Cina, sehingga dampaknya langsung dirasakan Indonesia. Selain barang jadi, impor dari Cina juga meliputi barang setengah jadi yang kemudian diolah di Indonesia," jelasnya.

Oleh karena itu, menurut Wayan, saat ini para pelaku layanan jasa logistik memilih fokus mengoptimalkan jasa pengiriman di pasar domestik. Hal itu dilakukan agar bisnis mereka bisa tetap bertahan.

Melihat kondisi tersebut, ia meminta ada dukungan dari pemerintah agar para pelaku bisa tetap bertahan. Salah satunya melalui dukungan kebijakan yang berpihak kepada pengusaha dalam negeri.

Wayan juga meminta pemerintah menciptakan ekosistem bisnis logistik yang lebih sehat. Salahsatunya, dengan melarang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atatu perusahaan skala besar bermain di sektor retail.

"BUMN janganlah bermain di retail, nantinya akan timbul hukum rimba dan akan saling makan satu sama lain," katanya.

Menurut dia, keberpihakan pemerintah sangat dibutuhkan para pelaku karena bisnis logistik tergolong sektor padat karya. Sebagai gambaran, terdapat 130 perusahaan logistik di Jabar.

"Jika bisnis logistik mati maka sekitar 10 ribu sampai 20 ribu karyawan akan terancam kehilangan pekerjaan," ujarnya.

Walaupun dihadapkan pada sejumlah tantangan berat, Wayan mengatakan, para pelaku jasa pengiriman logistik, khususnya yang ada di Jabar tetap optimistis. Pasalnua, Jabar menjadi sentra kegiatan ekonomi nasional dengan kontribusi mencapai 30 persen.

Dia menilai, keberadaan Pelabuhan Patimban yang saat ini masih dibangun serta Bandara Kertajati bisa menjadi lokomotif membangun perekonomian Jabar. Hal itulah, menurut dia, yang membuay pengusaha logistik Janar tetap optimistis.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR