Satgas Citarum Harum Berikan Sanksi Tegas pada PT MSU untuk Hentikan Produksi

Bandung Raya

Rabu, 19 Februari 2020 | 18:02 WIB

200219180314-satga.jpg

SATUAN Tugas (Satgas) Citarum Harum Sektor 4/Majalaya memberikan sanksi tegas, berupa penghentian produksi terhadap pabrik tekstil PT Multitex Sarana Usaha (MSU) di Jalan Balekambang Desa Sukamaju Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung, Rabu (19/2/2020).

Penghentian produksi itu sudah dilaksanakan sejak Ahad  (16/2/2020) malam, setelah sebelumnya pabrik tersebut beberapa kali ketahuan membuang limbah cair dengan warna warni berdasarkan hasil monitoring Satgas Sektor 4 dalam beberapa pekan terakhir ini. 

Komandan Sektor 4 Satgas Citarum Harum, Kolonel Inf. Asep Nurdin menegaskan, pemberian sanksi tegas penghentian produksi pabrik tekstil PT MSU itu, setelah adanya temuan anggota Satgas Sektor 4 Sub Desa Sekamaju.

"Saat itu, Satgas menemukan adanya air limbah yang mengalir dari selokan warga yang berasal dari saluran limbahnya," kata Asep didampingi Komandan Kompi (Danki) Sektor 4 Letda Arh. Dwi Iswantoro kepada wartawan di Majalaya, Rabu siang.

Asep pun turut menjelaskan kronologis ditemukannya air limbah yang mengalir pada selokan warga pertama kali pada Selasa, 21 Januari 2020 lalu. 

"Ditemukan saat patroli susur sungai dan selokan dengan indikasi warna merah jambu. Anggota Satgas Sektor 4 Sub Desa Sukamaju segera mencari sumber kebocoran untuk klarifikasi, dan memeriksa saluran-saluran yang berada di dalam pabrik PT MSU," jelasnya.

Atas temuan itu, lanjut Asep, kemudian Satgas Sektor 4 mengambil sampel air limbah yang terdapat pada inlet dan outlet titik koordinal PT MSU berada dan terdapat kecocokan warna, yakni merah jambu atau oranye. 

"Setelah dikonfirmasi ke pihak yang berwenang pengelola IPAL PT MSU tidak mengakui bahwa air limbah tersebut miliknya. Hal tersebut dikarenakan terdapat saluran outlet yang menjadi satu dengan PT Terus Maju Jaya Perkasa (TMP) yang muaranya ke selokan warga, menurut pengelola IPAL," katanya. 

Selanjutnya pada Rabu 29 Januari 2020, kata Asep, saat dilakukan patroli malam hari, kembali ditemukan air limbah berwarna merah jambu disalurkan dengan warna air limbah sama saat ditemukan pada 21 Januari.

"Pada Kamis, 6 Februari 2020 ditemukan kembali air limbah berwarna merah darah. Satgas Sektor 4 langsung mengintruksikan kembali untuk berhenti produksi. Tindakan Satgas Sektor 4 segera mengkonfirmasi kembali kepada PT. MSU dan melakukan langkah yang sama seperti pada 21 Januari dengan disertai penghentian produksi," katanya. 

Hal tersebut dilakukan, lanjut Asep, agar upaya Satgas Sektor  4 dapat mengetahui dari mana sumber aliran limbah cair itu berasal. 

"Hingga pukul 3.30 WIB menjelang subuh, air selokan yang terdapat outlet saluran limbah kembali berwarna bening," ucapnya. 

Keesokan harinya, Jumat 7 Februari 2020 kembali Satgas Sektor 4 menemukan aliran limbah di selokan, namun manajemen PT MSU kembali menolak berasal dari saluran limbah yang dimilikinya. 

"Satgas Sektor 4 memberikan instruksi kepada manajemen PT MSU untuk menguras saluran-saluran yang ada di dalam pabrik, agar dapat mengetahui sumber air limbah berasal dari mana atau adanya retakan-retakan pada saluran selokan sehingga air limbah dapat merembes ke saluran yang diakui oleh pihak manajemen juga saluran warga," paparnya.

Satgas juga menginstruksikan pemilik pabrik PT MSU untuk menghadap Komandan Sektor 4, untuk memberikan klarifikasi dan membuat surat pernyataan, tidak membuang air limbah dan menutup saluran-saluran yang mencurigakan untuk dilokalisir dan ditutup.

Saat melalsanakan patroli malam, katanya, Satgas Sekttor 4 kembali menemukan air limbah berwarna merah jambu pada Ahad 16 Februari 2020 oleh tim patroli malam. Satgas  langsung meninjau  ke lapangan untuk mengklarifikasi temuan tersebut pada jam 19.00 WIB dan produksi dihentikan selama 2 hari. 

"Hal tersebut dilakukan ternyata ada rembesan pada retakan saluran pembuangan yang berasal dari dapur cat atau tempat mengelolah warna tekstil, sehingga menjadi jawaban selama ini air limbah berwarna tersebut berasal," ungkapnya. Ia menegaskan, dari beberapa temuan-temuan Satgas Sektor 4 pada saluran air limbah PT  MSU, seharusnya menjadi tanggung jawab pemilik PT MSU untuk segera merespon cepat mencari sumber dari mana air limbah berwarna merah jambu dan merah darah tersebut. 

“Upaya manajemen PT MSU juga kurang maksimal dalam mendukung program Citarum Harum. Hal tersebut ditunjukkan dengan aksi menolak bahwa air limbah tersebut bukan dari outlet PT MSU. Karena pada temuan 16 Februari malam sudah tidak bisa menyangkal lagi bahwa air limbah tersebut bukan dari outlet PT MSU, karena pabrik lain yang berhimpitan tembok PT TMP sudah dari tidak produksi karena libur,” ungkap Kolonel Asep.

Klarifikasi berupa surat pernyataan dari RT atau RW setempat, katanya, bahwa saluran selokan yang diinformasikan oleh PT MSU adalah memang benar saluran warga yang melintasi pabriknya tidak segera diajukan. "Menurut informasi di lapangan, tepatnya di sekitar PT MSU bahwa warga sudah lama tidak menggunakan saluran tersebut,” jelas Dansektor 4.

Dari hasil uji laboratorium, tambah Kolonel Inf Asep, 2 sampel air limbah yang diambil terakhir pada 16 Februari dari oulet di luar pabrik dan outlet di dalam pabrik terdapat parameter yakni, pada outlet diluar pabrik Turbidity:153; TSS; 121; Color:+++; pH: 7,7; TDS:430; COD: 275 sedangkan parameter air baku mutu yang berasal dari outlet di dalam pabrik Turbidity: 462; TSS: 402; Color:+++; pH: 8,5; TDS:270 dan COD: 699.

“Penghentian produksi yang diinstruksikan Satgas dianggap angin lalu oleh pihak manajemen, sehingga dapat disimpulkan bahwa baik pemilik dan manajemen PT MSU tidak kooperatif dan tidak mendukung program Citarum Harum,” ungkapnya. 

Untuk diketahui, PT MSU itu dulunya adalah PT Dayung Mas yang join saham antar MSU dan Dayung Mas, sehingga pengelola sekarang tidak memahami betul alur inlet limbah dari produksi. "Sehingga menyebabkan air limbah bocor kemana-mana," pungkasnya. 

 

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR