Asal Muasalnya Diragukan, Arca Ganesha dan Polynesia Bukan Tinggalan Sejarah Masa Lama

Seni & Budaya

Rabu, 19 Februari 2020 | 10:34 WIB

200219104344-asal-.jpg

pikiran rakyat

TEKA-teki penemuan arca Ganesha (Gajah) dan polynesia (manusia kerdil) di objek wisata Batu Mahpar, Kampung Tegalmunding, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya terjawab sudah. Hal itu setelah dilakukan identifikasi langsung oleh peneliti (arkeolog) dari Unpad Bandung Etty Saringendyanti didampingi Kepala Pengelola Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, Eddy Sunarto, di lokasi temuan pada Selasa (18/2/2020) kemarin.

Dari hasil identifikasi tersbeut, Etty menyebutkan, batu berbentuk arca Ganesha dan 21 manusia kerdil bukanlah tinggalan sejarah masa lama. "Asal muasal keberadaan batu Arca Ganesha dan 21 manusia Kerdil Cimahpar tidak jelas dan butuh penelusuran lebih lanjut," katanya seperti diwartakan wartawan pikiran rakyat, Retno Heryanto.

Peneliti sejarah dari Unpad ini mengungkapkan bahwa pihaknya tidak dapat memastikan bahwa batu berbentuk arca ganesha dan 21 manusia kerdil merupakan tinggalan sejarah. “Karena untuk memastikan bahwa suatu benda merupakan tinggalan sejarah atau bukan butuh penelitian dengan didasari bukti dan fakta sejarah yang ada,” ujar Etty.

Lebih jauh Etty menyebutkan, bukti dan dokumentasi tertulis mengenai sejarah di Jawa Barat, khususnya masyarakat Sunda sangat minim sekali. “Karenanya, agar jangan sampai menjadi polemik dikalangan akademisi maupun peneliti serta masyarakat, dibutuhkan penelusuran agar hasilnya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan,” tambahnya lagi.

Sementara Eddy Sunarto yang ikut melakukan identifikasi menambahkan, terhadap temuan benda yang diduga peninggalan pra sejarah atau tinggalan budaya masa lalu hendaknya tidak dipublikasikan begitu saja tanpa ada penjelasan yang pasti. “Karena saat ini dengan kecanggihan sarana informasi, masyarakat dengan mudahnya mendapatkan dan menyebarkan informasi meski belum jelas dan pasti kebenarannya, bahkan terkadang ditambah-tambahkan dan dihubung-hubungkan dengan hal-hal lain,” ujarnya.

Diungkapkan Eddy, kedatangan pihaknya ke Objek Wisata Batu Cimahpar Kabupaten Tasikmalaya untuk melakukan identifikasi dan membuktikan kebenaran kabar yang tersiar di media massa maupun media sosial. “Namun setelah kami lakukan penelitian, kami menduga arca berbentug ganesha maupun manusia kerdil bukan benda lama, atau tinggalan dari budaya masa lalu,” ujar Eddy.

Sementara mantan Kapolda Jawa Barat Inspektur Jenderal (Purn.) Anton Charliyan, menegaskan bahwa batuan berbentur arca ganesha maupun 21 manusia kerdil di objek wisata miliknya hanyalah berupa batu antik.

“Saya tegaskan bahwa batu tersebut batu antic bukan batu sebagaimana yang diberitakan, dan saya tegaskan juga temuan dan juga dikumpulkannya batuan tersebut bukan untuk mencari sensasi apalagi menjadi daya tarik objek wisata, karena tanpa mencari sensasi saja Cimahpar sudah dikenal,” ujar Anton.

Diterangkan Anton, bebatuan tersebut untuk pertamakali ditemukan warga bertebaran di Cimahpar pada tahun 2013. “Karena khawatir dimanfaatkan yang tidak-tidak saat itu batuan dikubur, dan saat Cimahpar ini kembali kami tata baru ingat lagi dan kembali digali,” ujar Anton.

Terhadap keberadaan batu berupa arca ganesha dan manusia kerdil, Anton berharap masyarakat tidak terlalu membesar-besarkan dan menambahkan informasi yang tidak jelas sumbernya. Pihaknya berharap temuan batu tidak merusak serta menyesatkan sejarah bagi generasi mendatang.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR