Ratusan Peternak Ayam Petelur di Ciamis Gulung Tikar

Daerah

Selasa, 18 Februari 2020 | 16:28 WIB

200218162838-ratus.jpg

republika.co.id

ilustrasi

SEBANYAK 160 dari 260 peternak ayam petelur di Ciamis dalan kurun waktu beberapa tahun terakhir ini gulung tikar. Ketua Paguyuban Peternak Ayam Petelur Kabupaten Ciamis, Ade Kusnadi menuturkan, hampir setengah peternak ayam petelur sudah gulung tikar. Awalnya peternak ayam petelur di Ciamis berjumlah 360, namun saat ini hanya berjumlah 160 peternak.

Menurutnya, peternak mengeluh pakan ternak yang mahal dan sulit didapat. "Pakan kami yang menjadi masalah. Dan kenapa beli jagung (impor) itu harus pakai dola," tutur Ade berdasarkan rilis Humas Jabar, Selasa (18/2/2020).

"Pada 2018 harga telur semakin ada kenaikan dan peningkatan. Sekarang harga telur mahal, tapi kenapa para peternak ayam petelur banyak yang bangkrut?" katanya.

Hal itu telah disampaikan Ade pada Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum pada pertemuan dengan para peternak ayam dari wilayah Priangan Timur, di Aula Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Ciamis, Senin (17/2/2020). Pertemuan ini digelar karena banyak peternak ayam pedaging dan petelur sulit mengembangkan usaha, bahkan banyak yang sudah gulung tikar.

Untuk mengatasinya, Uu segera mengundang tiga kementerian sekaligus yakni Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan.

"Ini permasalahannya berbagai macam kelembagaan dan memerlukan kebijakan-kebijakan berskala nasional, bukan hanya di kami tingkat pemerintah provinsi," ujar Uu yang didampingi Wakil Bupati Ciamis Yana D Putra, seperti ditulis wartawan "PR", Novianti Nurulliah.

Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jabar, saat ini tingkat konsumsi daging ayam mencapai 8,48 kg/kapita/tahun. Hal ini berdampak pada kebutuhan daging Jabar sebesar 493.437 ton atau 614.492.266 ekor. Ketersediaan daging ayam Jabar 858.313 ton atau 740.790.407 ekor, sehingga surplus 362.876 ton.

Sementara konsumsi telur di Jabar mencapai 8,46 kg/kapita/tahun, sehingga kebutuhan telur mencapai 492.274 ton dengan ketersediaan telur sebanyak 172.199 ton. Artinya terjadi defisit 320.155 ton yang selama ini dipenuhi dari Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR