Jelang 16 Besar Liga Champions, Siapa Bakal Menang Berdasar Ketinggian Stadion Kandang?

Soccer

Selasa, 18 Februari 2020 | 14:08 WIB

200218140834-alasa.jpg

dailymail

Tim sepak bola dengan lokasi stadion kandang berlokasi di tempat yang tinggi memiliki kemungkinan menang lebih besar ketika bermain melawan klub yang ketinggian stadionnya satu level dengan permukaan laut. Ini karena para pemain mereka  beradaptasi lebih baik di lokasi dengan tingkat oksigen rendah.

Setidaknya demikian hasil dari lebih dari 2.000 pertandingan di Liga Champions UEFA dan Liga Eropa antara 2008 - 2016 yang menjadi objek studi  Universitas Ghent Belgia. Hasil studi dirilis jelang bergulirnya babak 16 Besar Liga Champions 2020 akhir bulan ini.

Dikutip dari DailyMail, Selasa (18/2/2020) hasil penelitian menunjukkan tuan rumah mencatatkan kemenangan  47,1 persen dan 28,7 persen untuk tim tamu. Untuk setiap peningkatan 320 ft ketinggian antara stadion tim tuan rumah dan tandang, peluang kemenangan tim tuan rumah naik 1,1 persen.

Dengan jarak ketinggian 2.221 kaki antara Real Madrid dan Chelsea, maka  berdasarkan temuan studi Madrid bisa mengalahkan klub London dengan keunggulan 7 persen kemenangan.

Pada bulan Desember, Bayern mengalahkan Tottenham 3-1 di Allianz Arena dalam laga Liga Champions. Stadion Bayern 1,614 kaki di atas permukaan laut, 1,549 kaki lebih tinggi dari Stadion Tottenham.

Kedua tim tidak pernah bermain di Liga Champions tapi satu pertandingan Piala Super UEFA pada tahun 1998 di Stade Louis II pada musim 1998 menghasilkan kemenangan 1-0 untuk Chelsea. Meski demikian laga berlangsung  di lokasi netral, jadi hasil ini tidak berlaku bagi studi yang dilakukan.

Perbedaan moda travel dan iklim, kaya atau tidak dan faktor budaya diklaim memiliki dampak yang sangat kecil pada tingkat keberhasilan tim tuan rumah. Tapi utama studi ini adalah bahwa ketika tim tuan rumah menjamu tim lain dari kota yang lebih dekat dengan permukaan laut, keuntungan kandang jelas meningkat.

"Penjelasan yang mungkin untuk hal ini adalah oksigen yang berkurang dengan meningkatnya ketinggian," ujar co-writer Nils Van Damme. "Pemain tim tuan rumah cenderung lebih beradaptasi untuk tampil baik saat tingkat oksigen rendah."


Tak selalu tapi..

Parameter juga meliputi sejumlah variabel lainnya termasuk skor akhir, jarak antar tim, jarak di atas permukaan laut serta perbedaan suhu dan curah hujan rata-rata. Mereka juga melihat perbedaan dalam PDB antara dua tim yang bersaing, jumlah penonton dan catatan pertandingan berdasarkan data UEFA.

Rekam jejak tim juga membuat perbedaan, tetapi tidak sebanyak ketinggian stadion kandang. Data yang digunakan peneliti berasal dari laporan pertandingan untuk setiap pertandingan Liga Champions UEFA antara 2008 - 2016 dan setiap pertandingan Liga Eropa antara 2011 - 2016.

Dari total 125 pertandingan di setiap musim Liga Champions dan 205 di Liga Eropa, artinya mereka mempelajari 2025 pertandingan. Pengecualian untuk 13 pertandingan karena mereka dimainkan di lapangan netral tanpa keuntungan kandang. Mereka menganalisis  setiap pertandingan dari sudut pandang tim tuan rumah dan tim tamu.

Temuan memperlihatkan pertandingan kandang  meningkatkan peluang menang 8,3 perseng. Dan untuk setiap peningkatan ketinggian 3.200 kaki antara tim tuan rumah dan stadion tim tamu, tuan rumah akan mencetak setengah gol tambahan.

EUFA CHAMPIONS LEAGUE FINAL 16 AND THEIR ALTITUDE

•    Real Madrid - 2,257ft
•    Bayern – 1,614ft
•    Tottenham – 65ft
•    Man City – 196ft
•    Atalanta – 816ft
•    Juventus - 849ft
•    Atletico Madrid - 2175ft
•    Liverpool – 216ft
•    Napoli – 157ft
•    Barcelona – 121ft
•    Dortmund – 360ft
•    rb Leipzig - 380ft
•    Lyon – 561ft
•    Valencia– 55ft
•    Chelsea – 36ft

Perbedaan ketinggian terbesar di antara 16 klub Liga Champions musim ini adalah 2.221 kaki yaitu antara Real Madrid (2.257 kaki) dan Chelsea (36 kaki). Namun karena tidak pernah berhadapan di Liga Champions sehingga tidak bisa dikatakan apakah temuan studi berlaku untuk keduanya.

Contoh dari keuntungan kandang yang dimainkan seperti yang diperkirakan adalah kemenangan Bayern atas Tottenham ketika mereka terakhir bertemu di Liga Champions pada bulan Desember 2019.

Contoh prediksi yang meleset laga imbang 2-2 antara PSG dan Real Madrid.

Stadion Bayern 1.614 kaki di atas permukaan laut, 1.549 kaki lebih tinggi dari stadion Tottenham. Pada bulan Desember tim Jerman mengalahkan tim Inggris 3-1 di Jerman. Namun itu tidak selalu berhasil seperti yang diprediksi oleh penulis

Terakhir kali Real Madrid bermain melawan PSG di Liga Champions berakhir imbang 2-2 tetapi stadion Real Madrid lebih dari 2.100ft lebih tinggi dari Parc des Princes.

Berdasarkan temuan studi, Real Madrid seharusnya menang dengan setidaknya satu gol. Soal hasil melenceng ini penulis studi mengatakan  sepakbola bak laboratorium dengan dinamika tinggi yang tak selalu bida diprediksi juga.

"Ada banyak data produktivitas (mencetak gol dan memenangkan pertandingan).  Tapi ini bukan soal gol saja. Ketika seorang pemain sepak bola dari Afrika dan Eropa sama-sama produktif, apakah mereka mendapat gaji yang sama? Ada lebih banyak variasi yang memengaruhi produktivitas tinggi,” papar Stijn Baert.

Baert melanjutkan, lebih dari sekadar produktivitas menjebol gawang, di saat yang sama relevansi dunia sepak bola saat ini mengarah pada  diskriminasi dan organisasi yang fair bagi seluruh pelaku industri globalnya.

Hmm..

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR