Disparbud Jabar Kembali Gelar Historical Railway

Pariwisata

Selasa, 18 Februari 2020 | 13:05 WIB

200218130728-dispa.jpg

Kiki Kurnia

DINAS Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat kembali menggelar Smiling West Java Historical Railway" 17-18 Februri. Berbeda dengan tahun lalu, kali ini setiap peserta historical railway dibawa untuk meninjau dan menikmati keindahan punden berundak terbesar di Asia, Situs Gunung Padang.

Yang lebih spesial lagi, historical railway tour ini diikuti Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar Dedi Taufik serta Wakil Kadops I PT KAI, Takdir, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusipda),  Sekretaris Badan Pendapatan Daerah Jabar Firman Adam serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemprov Jabar, Pemkot Bogor dan Kabupaten Cianjur.

Kegiatan historical railway ini mengajak para peserta untuk menyusuri jalur kereta api Bogor-Cianjur yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda melalui perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS) dan dioperasikan sejak tahun 1872 dan baru pada tahun 1881. Tahun 1881 dibangun stasiun baru.

Sepanjang 1881-1883 SS melanjutkan pembangunan jalur kereta api dari Bogor-Sukabumi dan hingga 1887 terhubung hingga Tugu Yogyakarta.

Sebelumnya Stasiun Bogor dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij pada tahun 1872 sebagai titik akhir jalur kereta api  Batavia-Weltevreden-Depok-Buitenzorg.

Stasiun ini dibuka untuk pertama kalinya untuk umum pada 31 Januari 1873. Tidak kurang dari 40 tahun pertama, stasiun ini dikelola oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, dan baru pada tahun 1913 dibeli oleh SS termasuk jalurnya.

Sebelum tiba ke Stasiun Lampegan (akses ke Situs Gunung Padang), seluruh peserta historical railway akan dibawa ke Pabrik Karet tertua Tjipetir di Parungkuda, Sukabumi dan berakhir di Situs  Lampegan, Cianjur

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengungkapkan, Bogor atau dulu disebut Buitenzog merupakan salah satu kota pengembangan kereta api di Indonesia. Di bangun tahun 1881, perkembangam kereta api di Jawa Barat dimulai hingga ke selatan.

"Melalui historical railway tour yang digelar Dinas Pariwisata dan Kehudayaan Jabar, histori perkeretaapian di Bogor - Cianjur mulai dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat. Jelas ini akan mengembangkan kepariwisataan dijalur yang dilewati kereta wisata ini," ujarnya.

Dedie menyebut perkembangan perkeretapian di Bogor cukup pesat terlebih dengan hadirnya commuter disambubg dengan LRT. Setiap harinya ada 280 ribu warga yang mengunakan kereta api di Bogor. Dari jumlah 280 ribu tersebut sebanyak 30 persennya adalah wisatawan yang berkunjung ke Kota Bofor, khususnya Kebun Raya.

"Inilah yang mendorong kami untuk mengembangkan kepariwisataan kereta api bekerja sama dengan PT KAI Daops I dan PT Inka," tambahnya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Dedi Taufik mengatakan, lewat event 'Smiling West Java Historical Railway Tour' yang berlangsung pada 17-18 Februari ini, Disparbud ingin mempopulerkan wisata baru.

"Tujuannya adalah mengenalkan jejak sejarah perkeretaapian di Jabar. Mengingat, perkembangan kereta api di Indonesia tak lepas dari kolonialisme, juga untuk melestarikan sejarah perkeretaapian di Jabar," kata Dedi, Selasa.

Menurut Dedi, pada zaman kolonialisme, kereta api dimanfaatkan sebagai alat transportasi pembangunan infrastruktur dan mobilisasi pejabat pemerintahan Belanda. Bahkan, hingga saat ini jalur, hingga stasiun peninggalan pemerintahan Belanda masih berfungsi.

"Kita ingin peninggalan sejarah ini tidak hanya menjadi edukasi saja tapi juga destinasi wisata ke depannya," katanya.

Dedi menuturkan, 'Smiling West Java Historical Railway Tour' menjadi cara menggambarkan dan menggali potensi yang bisa dikembangkan dari perkeretaapian. Terutama jalur kereta api Kota/Kabupaten Bogor, Kota/Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur.

Dedi mencontohkan, gambaran peninggalan zaman kolonialisme yang masih eksis di antaranya Stasiun Bogor. Menurut beberapa ahli, Stasiun Bogor terbilang mewah dengan dua tingkat karena diperuntukkan khusus untuk jenderal Belanda.

"Kita hampir tidak mengetahui masa kolonial perang dunia ke-2, ternyata Nazi Jerman masuk ke Jabar. Di antaranya ke kawasan Lido (perbatasan Bogor-Sukabumi) dan Cisaat terdapat kuburan tentara ex Nazi," ucapnya.

Dalam tur ini kata Dedi melewati terowongan Lampegan. "Tujuan akhir tur ini kita ingin mengungkap bahwa keretapi yang melewati jalur-jalur pedalaman di Jabar memiliki surga-surga yang tersembunyi," ucap dia.

Dedi mengaku, saat ini wisatawan mancanegara masih didominasi negara-negara Asia seperti Malaysia, Singapura, Jepang dan Tiongkok.

Sementara Wakil Kadaops I, Takdir menyebutkan, pihaknya sangat mendukung historical railway tour tersebut. Bahkan pihaknya pun menyiapkan sejumlah fasilitas untuk kenyamanan para wisatawan.

"Apalagi sekarang kita tengah menyiapkan double track yang diharapkan bisa mengangkut lebih banyak penumpang (wisatawan)," ujarnya.

Takdir menambahkan,  setiap harinya ada tiga rangkaian kereta yang melayani Bogor - Cianjur. Dengan hadirnya double track jumlah penumpang akan jauh lebih banyak.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR