Apple Tak Dapat Penuhi Target Pendapatan Akibat Virus Corona

Teknologi

Selasa, 18 Februari 2020 | 09:21 WIB

200218092400-apple.jpg

APPLE mengatakan tidak dapat memenuhi target pendapatan untuk kuartal Maret karena wabah virus corona yang memperlambat produksi iPhone, dan melemahnya permintaan di Cina.

Fasilitas manufaktur Apple di Cina telah mulai dibuka kembali, namun produksi meningkat lebih lambat dari yang diharapkan, menurut Apple, dalam pernyataan kepada para investornya, lansir Reuters, Senin (17/2/2020).

Pasokan global iPhone akan terbatas. “Kekurangan pasokan iPhone ini untuk sementara waktu akan memengaruhi pendapatan di seluruh dunia," kata Apple.

Pada Januari, Apple memperkirakan pendapatan 63 miliar dolar AS hingga 67 miliar AS untuk kuartal kedua yang berakhir pada bulan Maret, lebih tinggi dari perkiraan 62,4 miliar dolar AS.

Apple mengatakan penutupan toko karena pencegahan virus corona telah memengaruhi penjualannya di Cina, dengan sebagian besar toko ritel ditutup atau pengurangan jam-jam operasi.

“Kami secara bertahap membuka kembali toko-toko ritel kami dan akan terus melakukannya dengan baik dan seaman mungkin," kata Apple.

Gangguan pendapatan itu terjadi setelah penjualan iPhone menguat pada bulan Desember, pertama kalinya dalam setahun.

Analis memperkirakan bahwa virus tersebut dapat memangkas setengah dari permintaan ponsel pintar pada kuartal pertama di Cina, pasar ponsel pintar terbesar di dunia.

“Sementara kami telah membahas dampak negatif virus corona terhadap iPhone selama beberapa minggu terakhir, besarnya dampak ini sampai membuat Apple mengakui tidak dapat memenuhi target di pertengahan Februari jelas lebih buruk daripada apa yang ditakutkan,” tulis analis Wedbush, Daniel Ives.

Meski begitu, Ives tetap optimis bahwa Apple akan dapat pulih dari dampak virus corona.

“Ketika mencoba untuk mengukur dampak menurunnya iPhone dan potensi bangkit kembali pada kuartal Juni, kami tetap yakin pada Apple untuk jangka panjang,” kata Ives.

Wabah virus corona diperkirakan akan meningkatkan tekanan pada ekonomi Cina, dengan banyak perusahaan berjuang untuk memulai kembali produksi setelah liburan Tahun Baru Imlek yang diperpanjang.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR