Garap Pasar Properti Milenial dengan Inovasi Digital KPR

Bandung Raya

Senin, 17 Februari 2020 | 19:25 WIB

200217192550-garap.jpg

dokumen galamedianews.com

Ilustrasi.

GENERASI milenial tidak luput menjadi target pasar properti di Indonesia. Dengan jumlah sekitar 81 juta jiwa, sangatlah beralasan generasi milenial dianggap sebagai ceruk pasar properti yang potensial. Terlebih lagi, rata-rata generasi milenial belum memiliki rumah sendiri.

Terbukti, di Jawa Barat, misalnya, pangsa pasar properti mulai didominasi generasi milenial dengan usia produksi antara 22 tahun-37 tahun.

“Sekitar 51 persen pangsa pasar properti di Jawa Barat berasal dari kalangan generasi milenial,” kata Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Barat, Joko Suranto, kepada galamedianews, Senin (17/2/2020).

Diakui Joko, pasar generasi milenial di Jawa Barat terbilang sangat menjanjikan. Terutama untuk rumah kelas menengah dengan harga kisaran Rp 300 juta-Rp 500 juta. Untuk pasar rumah sederhana bersubsidi sebenarnya juga diminati oleh generasi milenial, terutama sebagai rumah pertama yang mereka beli.

Untuk bisa masuk ceruk generasi milenial pengembang harus tahu selera generasi milenial. Biasanya, sebut Joko, generasi milenial dalam membeli rumah mempertimbangkan akses transportasi dan lokasi. Selain itu, generasi milenial biasanya menyukai rumah yang simpel dan minimalis.

Hal lainnya adalah mengenai kemudahan akses informasi. Generasi milenial yang memang akrab dengan internet biasanya tidak hanya mencari informasi tentang lokasi, akses maupun tipe rumah dari internet.

Soal pembiayaan perumahan yakni melalui kredit pemilikan rumah (KPR), informasi syarat dan prosedurnya pun informasinya dicari di dunia maya.

“Generasi milenial memang menyukai yang serba praktis. Tidak ribet. Mereka sangat memanfaatkan teknologi di era digital,” kata Joko.

Kebutuhan generasi milenial ini mampu ditangkap oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Bank BUMN ini terus melakukan inovasi digital dengan layanan KPR Gaeesss for Millenials. Layanan yang diperuntukkan bagi generasi milenial dengan rentang usia 21 tahun-35 tahun ini bisa diakses melalui aplikasi BTN Properti Mobile versi Android.

“Inovasi digital merupakan bagian strategi untuk menguasai pasar generasi milenial. Kami targetkan dengan inovasi digital itu, dapat disalurkan hingga Rp 11 triliun untuk generasi milenial,” sebut Executive Vice President Nonsubsidized Mortgage & Consumer Lending Division (NLSD) Bank BTN, Suryanti Agustinar, kepada wartawan di Jakarta baru-baru.

KPR Gaeesss for Millenials mulai diluncurkan Oktober 2018, untuk kemudian di-relaunching 8 Januari 2020. Peminat program ini sangat besar. Terbukti, hingga November 2019 lalu, melalui layanan ini telah disalurkan KPR hingga Rp9,3 triliun. Nilai penyaluran KPR setara 27.593 unit rumah bagi generasi milenial.

Pasangan muda Riefki Aildia Rahman dan Zahra N Sonia mengaku sangat terbantu adanya kemudahan akses KPR melalui aplikasi telepon pintar itu. “Kebetulan kami berencana membeli rumah. Kami mungkin memanfaatkan KPR disesuaikan dengan kondisi keuangan kami,” sebut Riefki saat dihubungi galamedianews, Sabtu (15/2/2020).

Karena belum pernah mengajukan KPR, pasangan yang baru menikah kurang dari dua tahun ini, tentunya sangat membutuhkan informasi seputar KPR. Baik itu bagaimana persyaratannya, prosedur hingga besaran bunga yang diberlakukan.

Informasi penting itu bisa diperoleh secara valid melalui layanan berbasis digital seperti yang ditawarkan BTN. Riefki berharap layanan berbasis digital itu hendaknya itu diikuti dengan kemudahan persyaratan serta prosedur pengajuan KPR.

“Persyaratannya jangan dipersulit dengan alasan supaya KPR-nya tidak macet. Jangan takut, kewajiban membayar cicilan pasti dipenuhi. Permudahlah generasi milenial seperti kami punya rumah sendiri,” imbuh Riefki yang kini masih tinggal satu atap dengan mertuanya di kawasan Caringin Kota Bandung.

Diakui Riefki, dalam menentukan pilihan KPR besaran cicilan serta bunga KPR tetap menjadi pertimbangan utamanya. Kedua hal itu harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan yang dipunyainya.

Secara terpisah pakar ekonomi sekaligus Rektor Universitas Sangga Buana YPKP Bandung, Dr Asep Effendi R.SE,.MSi,. berpendapat inovasi digital diharapkan tak hanya membuat akselerasi penyaluran KPR di kalangan generasi milenial kian kencang. Cara ini diyakini Asep bisa menekan angka kredit macet (non performing loan/NPL) KPR.

“Tentunya dengan teknologi digital, otomatis terintegrasi dengan data-data keuangan pihak yang mengajukan KPR. Rekam jejak keuangan mereka mudah dilacak, tidak bisa melakukan praktik kongkalikong. Jadi hanya mereka yang kapabel yang akhirnya memperoleh KPR,” jelas Asep kepada galamedianews, Rabu (12/2/2020).

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NPL KPR saat ini masih tinggi yakni sekitar 3,6 persen. Dengan layanan berbasis digital, Asep berkeyakinan NPL KPR tidak semakin tinggi manakala generasi milenial dibidik sebagai target pasar.

Generasi milenial disebut Asep rata-rata memiliki rekam jejak keuangan yang mumpuni. Oleh karenanya, generasi milenial berhak memiliki rumah idaman melalui fasilitas KPR.

Kurangi Backlog

Layanan digital KPR Gaeesss for Millenials tidak sekadar sebagai cara agar generasi milenial memiliki rumah sendiri. Lebih dari itu, diharapkan bisa menekan angka backlog perumahan yang saat ini masih tinggi.

“Mereka (generasi milenial) merupakan bagian dari persoalan backlog yang harus diatasi. Jadi, jelas kami berharap dengan menggarap pasar milenial, angka backlog minimal bisa dikurangi,” kata Joko.

Joko menyebutkan angka backlog perumahan di Jawa Barat berkisar antara 3,5 juta-4 juta unit. Sementara tahun lalu realisasi rumah di Jawa Barat, imbuh Joko, berkisar antara 39.000-40.000 unit untuk rumah sederhana (RSH) dan rumah komersial sebanyak 60.000 unit.

Itu artinya, masih jauh dari kebutuhan supaya bisa mengatasi persoalan backlog di Jawa Barat. Sehingga inovasi digital melalui KPR Gaeesss for Millenials diharapkan sebagai pemicu pembangunan rumah baru secara masif.

“Backlog berkurang berarti bisnis perumahan kembali menggeliat. Dan, itu memberikan dampak positif terhadap ikut bertumbuhnya 174 bisnis turunannya, seperti usaha pembuatan genteng, pabrik cat, pabrik semen dan lainnya,” pungkas Joko.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR