Warga Pesta 10 Ribu Takir Jenang di Perayaan Hari Jadi Kota Solo

Nasional

Senin, 17 Februari 2020 | 19:08 WIB

200217190836-warga.jpg

Tok Suwarto

HARI Jadi Kota Solo ke-275 yang pada tahun 2020 ini jatuh di hari Senin (17/2/2020), dirayakan dalam nuansa serba khas Jawa. Usia tersebut merujuk pada perpindahan keraton dinasti Mataram dari Kartasura ke Surakarta.

Seusai upacara peringatan Hari Jadi Kota Solo di Stadion Sriwedari yang dipimpin Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, dirangkai dengan pesta 10.000 takir jenang dalam hajadan "Semarak Jenang Sala 2020", di rumah peninggalan bangsawan Keraton Surakarta, KGPH Djojokusumo atau Dalem Djojokusuman.

Dalam upacara kali ini, seluruh peserta memakai busana tradisional, terutama para peserta pria mengenakan pakaian adat Jawa yang disebut beskap jangkep. Bahkan, bahasa pengantar upacara mulai dari master ceremony, aba-aba pemimpin upacara dan amanat pembina upacara juga menggunakan bahasa Jawa. Sehingga upacara resmi tersebut sangat kental dengan nuansa serba tradisional Jawa.

Seusai upacara, para petinggi Pemkot Solo dan para pejabat Muspida, diarak dari Stadion Sriwedari ke Dalem Djojokusuman sejauh sekitar 4 kilometer menggunakan kereta kuda. Suasana arak-arakan kereta kuda dari stadion ke lokasi pesta 10.000 takir jenang di Dalem Djojokusuman, kian melengkapi nuansa tradisional Jawa.

Setiba rombongan pejabat Pemkot Solo di pendapa Dalem Djojokusuman, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo, secara khusus ikut memasak jenang dengan mengaduk jenang di wadah berukuran besar. Selanjutnya, sebanyak 10.000 takir jenang yang disediakan 275 tenant dari berbagai komunitas warga Kota Solo, dinikmati ribuan warga memadati Ndalem Djojokusuman.

Dalam hajadan akbar "Semarak Jenang Solo" tersebut, disajikan sebanyak 17 ragam jenang dengan masing-masing makna filosofisnya. Kepala Dinas Pariwisata, Hasta Gunawan menjelaskan, bagi masyarakat Jawa jenang memiliki makna khusus dan ke-17 jenis jenang yang disajikan dalam perhelatan itu, seperti Jenang Abang-Putih, Jenang Procot, Jenang Sengkolo dan sebagainya, secara simbolis dan filosofis menggambarkan perilaku masyarakat Jawa.

"Dalem Djojokusuman sendiri kita pilih sebagai lokasi pesta jenang, karena bangunan kuna di lingkungan keraton itu sebagai pusat kegiatan budaya di Kota Solo," katanya.

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo mengatakan, budaya bangsa termasuk budaya tradisi jenang perlu diangkat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan. Dia menegaskan, Pemkot Solo berupaya mengangkat Kota Solo dengan budaya yang diwariskan para leluhur, di antaranya melalui Semarak Jenang Solo, karena jenang bagi masyarakat Jawa memiliki makna hidup sejak dari kandungan hingga meninggal dunia.

"Seperti jenang tujuh warna untuk mitoni ketika kandungan berusia tujuh bulan, dan jenang procot ketika menjelang bayi lahir, merupakan makna kehidupan manusia," jelasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR