Picu Spekulasi Kebocoran Senjata Biologis, Veteran Genetika Militer Ambil Alih Lab. Rahasia Wuhan

Dunia

Senin, 17 Februari 2020 | 16:31 WIB

200217161815-turun.jpg

dailymail

Cina dilaporkan telah menunjuk ahli senjata biologis militer untuk mengambil alih laboratorium virus rahasia di Wuhan, Provinsi Hubei. Dikutip dari DailyMail beberapa hari lalu, penunjukan ini kembali memicu teori konspirasi yang menyebut krisis wabah corona “terhubung” dengan militer.

Chen Wei, salah satu Jenderal Tentara Pembebasan Rakyat diterbangkan ke Wuhan oleh pemerintah pusat akhir bulan lalu sebelum secara resmi mengambil alih pimpinan Institut Virologi Wuhan. Demikian laporan yang beredar.

Penunjukan jenderal  berusia 54 tahun itu mendorong sejumlah pihak berspekulasi bahwa epidemi corona sangat mungkin bermula di dua laboratorium yang salah satunya dijalankan di bawah militer dengan komando langsung dari Beijing.

Chen Wei, veteran wabah epidemik.

Chen dikenal sebagai ahli rekayasa vaksin genetik.

Menurut laporan resmi media setempat Chen dan tim sudah mengembangkan cara yang lebih cepat untuk mengidentifikasi virus COVID-19 di pusat wabah pada 30 Januari lalu. Chen juga spesialis terkemuka di bidang vaksin rekayasa genetika juga menjadi sosok di balik pengembangan spray-medis selama wabah SARS pada tahun 2003. Temuan yang ikut mencegah 14.000 pekerja medis tertular virus.

Chen pun dikenal dengan julukan Ebola Terminator setelah memimpin tim yang  membuat vaksin guna melawan virus dengan akibat fatal tersebut. Terkait perang melawan corona, ia mengatakan, “Epidemi setara situasi militer dan  episentrum sama dengan medan perang.”

Wuhan Institute of Virology.

Sebaran corona saat ini.

Meskipun media resmi Cina hanya memiliki sedikit informasi mengenai di mana tepatnya Chen bekerja di Wuhan, Radio France Internationale Sabtu lalu mengklaim Chen telah mengambil alih kepemimpinan Institut Virologi Wuhan. Laboratorium dibuka pada November 2018 dan diklasifikasikan sebagai P4 atau level tertinggi dalam keamanan biologis (bio-safety).

Mengutip postingan berupa laporan dari forum diskusi Douban, keterlibatan Chen mengungkap kemungkinan hubungan antara lab dan militer. "Koneksi semacam ini menunjukkan bahwa [spekulasi] sebelumnya yang mengklaim militer  Cina tengah mengembangkan senjata biologis di lab P4 Wuhan bukan isapan jempol.”

Artikel  merujuk pada teori sebelumnya yang mengklaim virus COVID-19 merupakan senjata biologis yang direkayasa Cina dan bocor dari laboratorium secara tidak sengaja.

Cina sejauh ini mengerahkan 2,600 dokter militer.

Sejumlah rumah sakit kini berada di bawah komando Tentara Pembebasan Rakyat.

Klaim sebelumnya datang dari The Washington Times, mengutip keterangan  mantan perwira intelijen Israel, Dany Shoham. Ia menyebut virus corona berawal dari program biowarfare atau senjata biologis. Namun spekulasi ini dibantah Beijing.

Shi Zhengli, salah satu petinggi Institut Virologi Wuhan awal bulan lalu menegaskan, “Coronavirus 2019 ini hukuman alam atas kebiasaan hidup tak beradab manusia. Saya, Shi Zhengli, demi nyawa dan hidup saya menjamin, virus ini tidak ada hubungannya dengan lab.”

Shi mendesak pihak berwenang China untuk meluncurkan penyelidikan resmi. Kepada kanal berita Caixin ia menambahkan, “Para ahli teori konspirasi tidak percaya pada sains. Saya berharap departemen profesional negara kita dapat menyelidiki dan membuktikan bahwa kita tidak bersalah.”

Covid-19 setidaknya menewaskan 1,383 orang dan menginfeksi 64,460 lainnya.

Petugas pembersih jalanan diturunkan setiap hari di Hong Kong.

Teori konspirasi lainnya menuding virus COVID-19 diciptakan Amerika Serikat dan sengaja “dibocorkan”. Teori ini meyakini virus corona  digunakan  Washington sebagai bagian dari perang multi-bidang melawan Cina. Demikian dikatakan kolumnis South China Morning Post, mengutip influencer YouTube yang berbasis di Hong Kong, Jonathan Ho Chi-kwong.

Namun tak sedikit penulis yang mengkritik teori konspirasi. Alasannya banyak bantahan dari para ahli. “Para ahli telah menunjukkan bahwa sebagai senjata biologis, virus baru ini sangat tidak berguna. Rata-rata virus ini hanya membunuh dua persen dari korban yang menjadi sasaran dan setiap pasien menyebarkan pada rata-rata 2,2 orang.“

Staf medis memeriksa kondisi pasien corona di Jinyintan Hospital Wuhan.

Benar atau tidak, yang pasti  Cina mengonfirmasi peningkatan tajam jumlah warga  yang terinfeksi corona dengan jumlah kematian mendekati 1.400. Jumlah kasus yang dilaporkan meningkat lebih cepat setelah provinsi yang paling parah terkena wabah mengubah metode penghitungan. Kini ada hampir 64.000 kasus yang dikonfirmasi di Cina daratan dengan 1.380 di antaranya meninggal.

Editor: Mia Fahrani

  • BERITA TERKAIT

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR