Perdagangan RI-Cina Menurun Akibat Virus Corona

Nasional

Senin, 17 Februari 2020 | 15:28 WIB

200217152812-perda.jpg

tirto.id

ilustrasi

PENYEBARAN virus Corona mulai menunjukan dampak pada neraca perdagangan Indonesia dengan Cina. Kondisi ini perlu diwaspadai karena dikhawatirkan berdampak pada perlambatan kinerja industri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor Indonesia ke Cina pada Januari 2020 sebesar 2,24 miliar dolar AS atau turun 12,07 persen dibandingkan Desember 2019. Sementara jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ekspor RI ke Cina masing mengalami pertumbuhan 17,23 persen.

Penurunan juga terjadi pada impor RI dari Cina pada Januari 2020 sebesar 4 miliar dolar AS. Angka itu turun -2,71 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan juga turun -3,94 persen dibandingkan Januari 2019.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, dampak penyebaran virus Corona sebenarnya belum terlihat signifikan jika hanya ditinjau dari neraca perdagangan Januari 2020. Dia memproyeksikan dampaknya baru benar benar terasa pada neraca perdagangan Februari 2020.

Hal itu berdasarkan dari kronologi penyebaran virus Corona sejak di Wuhan, Cina. Kasus pertama Corona di negara tersebut mencuat pada 31 Desember dan teridentifikasi pada tanggal 3-5 Januari.

Pada 20 Januari 2020, beberapa negara mulai mengidentifikasi gejala virus Corona di bandara. Meskipun demikian, Organisasi Kesehatan Dunia baru menetapkan status darurat Corona pada 31 Januari 2020.

"Jadi pada dasarnya reaksinya baru terjadi pada minggu terakhir bulan Januari. Kalau dilihat pergerakannya, minggu satu sampai tiga bulan Januari masih bagus dan belum akan berdampak signifikan. Okeh karena itu kita perlu waspada, dan bagaimana efeknya bisa dilihat bulan berikutnya," ujar dia saat konferensi pers di Jakarta, seperti ditulis wartawan "PR", Tia Dwitiani Komalasari, Senin (17/2/2020).

Suhariyanto mengatakan, kelompok barang yang ekspornya mengalami kontraksi ke Cina diantaranya lemak dan minyak hewan/nabati; bijih, kerak, dan abu logam; serta bahan kimia organik. Sementara kelompok barang yang impornya dari Cina mengalami kontraksi diantaranya besi dan baja; bahan kimia organik; benda benda dari besi dan baja.

Menurut Suhariyanto, penurunan impor perlu diwaspadai jika terjadi pada kelompok bahan baku/penolong atau barang modal. Sebab hal itu bisa berdampak pada kinerja industri dalam negeri.

Sementara defisit neraca perdagangan RI terhadap Cina juga mengalami penurunan. Pada Januari 2019, Indonesia mengalami defisit perdagangan denga Cina hingga sebesar -2,4 miliar dolar AS. Sementara pada Januari 2020, defisit neraca perdagangan Indonesia terhadap Cina mengalami penurunan menjadi -1,8 miliar dolar AS.

Sementara itu secara keseluruhan, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan di Januari 2020 sebesar 0,86 miliar dolar AS. Hal itu dipicu oleh defisit sektor migas sebesar 1,18 milliar dolar AS. Sementara sektor non migas surplus 0,32 miliar dolar AS.

Nilai ekspor Indonesia Januari 2020 mencapai 13,41 miliar dolar AS atau turun 3,71 persen dibanding Januari 2019. Sementara nilai impor Indonesia Januari 2020 mencapai 14,28 miliar dolar AS atau turun 4,78 persen dibandingkan Januari 2019.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia membutuhkan waktu. Dirinya menargetkan neraca perdagangan Indonesia akan kembali surplus dalam kurin waktu tiga tahun.

"Jadi ini upaya perbaikannya memang jangka panjang. Pemerintah akan terus mengupayakan perbaikan neraca perdagangan," ujarnya.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, defisit neraca perdagangan Indonesia juga dipengaruhi oleh penyebaran virus Corona. Sebab, Cina memiliki kontribusi besar terhadal perdagangan Indonesia.

"Ekspor impor memang ada perlambatan karena Cina ini kan memiliki pengaruh yang besar terhadap Indonesia. Ketika aktivitas mereka terganggu, maka akan berpengaruh pada Indonesia," ujarnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR