Kapitalisasi Kampus, Ratusan Mahasiswa STAI Tasikmalaya Gelar Aksi

Daerah

Senin, 17 Februari 2020 | 14:29 WIB

200217142929-kapit.jpg

Septian Danardi

RATUSAN mahasiswa STAI Tasikmalaya menggelar aksi dengan sasaran kampus mereka sendiri, Senin (17/2/2020). Mereka menuntut dan mempertanyakan kebijakan lembaga menaikkan biaya KRS di tengah-tengah semester.

Para mahasiswa itu membawa poster kecaman sambil mengelilingi kampus sambil meneriakan yel-yel kekecewaannya. Selain itu, mereka juga berorasi.

Sekjen Dema STAI Tasikmalaya, Dion Fahruroji mengatakan, dunia kampus adalah salah satu tangga untuk naik kelas hingga meningkatkan prestise sosial dikalangan kelas menengah kebawah.

Kelas sosial bagi keluarga dan pribadi yang bergelut dikampus akan berbeda dengan yang sama sekali tidak mengecap dan menamatkan pendidikan dari perguruan tinggi.

"Pemahaman umum yang telah menjadi kesepakatan bersama ini, tentunya punya kesehatan logika falacia nalar yang butuh dibedah serius. Agar kita tidak lagi hidup dalam warisan kesesatan dari generasi ke generasi," tutur Dion di sela aksi.

"Namun nyatanya kampus yang kami cintai ini jauh dari ideal, tak ada lagi ruang perjuangan untuk kami, sedikit bergerak kami dijerat. Seakan label Kampus STAI Tasikmalaya sebagai kampus perjuangan yang banyak melahirkan aktifis hilang begitu saja," tutur Dion.

"Kami turun aksi sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan kampus yang kapitalis. Ingat, kami kuliah bukan tamasya, seharusnya kampus menjamin kebebasan bukan menjebloskan keberanian. Jika kampus berjalan dengan cara memeras dan menekan mahasiswanya itu bukan ladang belajar tapi ladang judi," sambungnya.

Menurutnya, karena yang dipertaruhkan adalah uang bukan pengetahuan, yang bermain adalah jabatan bukan kecerdasan, yang hidup adalah titel bukan karya.

"Kami dari mahasiswa STAI Tasikmalaya mempertanyakan kebijakan konversi nilai per mata kuliah dihargai Rp 30 ribu," ujarnya

Selain itu, Dion menilai pelayanan kampus dan proporsionalitas staf operator sudah kacau. Mahasiswa juga mempertanyakan pegawai kampus yang mengikuti perwisudaan tanpa mengikuti proses akademik.

"Pecat dosen yang kurang memiliki kredibilitas. Pecat dosen sekaligus pejabat kampus yang baru bergelar S1 (tidak memenuhi standar peraturan). Pecat staf operator yang tidak memenuhi standar peraturan dan tidak memiliki etika pelayanan dan Pecat pegawai perpus yang mengkapitalisasi mahasiswa," katanya.

Mahasiswa juga, kata Dion, mendorong kampus memiliki masjid. "Apabila dikemudian hari tuntutan kami tidak ditanggapi, kami akan menggelar aksi yang lebih besar bahkan akan membuat tenda berhari-hari dikampus," ujarnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR