Cina Mulai Gunakan Ramuan Herbal 2.000 Tahun

Mendadak Lemas Saat Tengah Makan, Pasien Ungkap Bagaimana Rasanya Hidup dengan Virus Corona

Dunia

Senin, 17 Februari 2020 | 13:00 WIB

200217125949-menda.jpg

dailymail

Seorang survivor  virus corona mengungkap seperti apa rasanya menderita  penyakit mematikan yang berasal dari Cina ini. Termasuk suhu yang meninggi, nyeri, dan batuk yang sangat menyakitkan hingga warga bernama samaran Tiger Ye ini berpikir dirinya akan mati saat itu juga.

Dikutip dari DailyMail kemarin, pelajar berusia 21 tahun itu pertama kali merasakan gejala corona pada 21 Januari lalu ketika tengah berada di rumahnya di Wuhan, kota episentrum virus yang kemudian dinamai covid-19 tersebut.

Ye mengatakan saat itu tubuhnya terasa lemah hingga untuk menyelesaikan makan malam pun ia tak sanggup. Suhu tubuhnya kemudian mengalami peningkatan.

Petugas medis menangani pasien dengan hazmat lengkap. (DailyMail)

Sebagian pasien dipulangkan karena terbatasnya tempat tidur.

Di tengah berita mengenai virus baru yang berpotensi mematikan, Ye mendatangi Rumah Sakit Tongji untuk menjalani tes. Saat itu ruang tunggu sudah dipenuhi lusinan warga yang juga takut terinfeksi. Berjam-jam menunggu, akhirnya Ye ke rumah sakit lain untuk mendapatkan obat yang menurutnya bisa membantu sebelum kemudian mengarantina diri di rumah.

Berbicara mengenai empat hari pertama bersama  virus corona kepada Bloomberg dia mengatakan, “Aku demam tinggi dan merasakan nyeri yang menyiksa di setiap bagian tubuh. Aku batuk dan rasanya seperti akan mati saja."

Setelah empat hari, ia kembali ke Tongji untuk CT scan. Hasilnya  kemungkinan virus corona telah telah menyebar di paru-paru. Tapi petugas medis menolak melakukan tes yang mengonfirmasi diagnosis karena mereka kehabisan kit dan gejala Ye dinilai tidak cukup parah.

Pekerja di Cina makan dengan penghalang plastik guna mencegah sebaran corona.

Tak semua tertangani dengan menyeluruh.

Ye pun diminta mengisolasi diri untuk kedua kalinya ketika gejalanya tiba-tiba memburuk. Suhu tubuhnya naik hingga 102F (39C). Ye mengaku dirinya mengira sudah di ambang kematian.

Beruntung pihak rumah sakit akhirnya menerimanya dan memberi obat anti-virus untuk menurunkan suhu dan melakukan tes yang memastikan dirinya terkena virus. Setelah itu gejala mulai mereda. Ye pun kembali pulang dengan obat lain setelah rumah sakit kehabisan tempat tidur.

Pada 7 Februari, Ye dipindahkan ke hotel yang menjadi rumah sakit dadakan untuk karantina di bawah pengawasan medis. Karantina berlangsung ketat dengan kehadiran polisi yang ditempatkan di luar hotel guna menghentikan siapa saja yang hendak pergi.

Salah satu fasilitas medis di tengah wabah corona.

Hotel pun disulap menjadi titik perawatan.

Ye diizinkan pulang pada 12 Februari setelah gejalanya hilang dan tes menunjukkan dirinya negatif corona. Sejauh ini hampir 64.000 orang  tercatat jatuh sakit akibat corona  di Cina. Pejabat mengungkapkan 1.716 petugas kesehatan pun ikut terinfeksi. Lonjakan angka kasus corona terjadi setelah pasien mulai didiagnosis dengan CT scan.

Di luar itu dua uji klinis dilakukan untuk  menguji apakah obat HIV dan Ebola efektif mengobati gejala corona. Obat-obatan farmasi baru masuk dalam daftar bersama dengan obat-obatan tradisional berusia ribuan tahun dalam  uji klinis kali ini.

Database biomedis Chinese Clinical Trial Registry melakukan uji coba terkontrol yang berkelanjutan dengan menyertakan obat-obatan tradisional. Salah satunya shuanghanglian, obat herbal yang mengandung ekstrak Lian Qiao. Buah kering ini telah digunakan untuk mengobati infeksi lebih dari 2.000 tahun lalu.

Ye mengaku beruntung.

Sekitar 400 orang ikut ambil bagian dalam uji coba shuanghuanglian. Wang Hesheng, kepala komisi kesehatan baru di provinsi Hubei kepada Bloomberg menyebut upaya dokter menggunakan obat-obatan tradisional menunjukkan hasil yang baik.

Percobaan klinis untuk obat antivirus Remdesivir yang dibuat oleh perusahaan bioteknologi AS, Gilead Sciences juga telah disetujui awal bulan ini dan kelompok pasien pertama diperkirakan akan segera mulai menggunakannya.

Editor: Mia Fahrani

  • BERITA TERKAIT

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR