Jumlah Penderita Penyakit Tulang dan Otot Terus Meningkat Setiap Tahun

Bandung Raya

Minggu, 16 Februari 2020 | 18:11 WIB

200216181528-jumla.jpg

Rio Ryzki Batee

KENDATI mulai tumbuh kesadaran di masyarakat akan penyakit tulang dan otot, namun jumlah penderita penyakit tersebut mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Direktur Klinik Utama Halmahera Medika Bandung, Hang Dimas Santosa mengatakan, kebanyakan masyarakat datang ketika penyakit tulang atau otot yang dialami sudah parah, sehingga harus dilakukan operasi, padahal dapat dicegah ketika kondisinya belum terlalu berat.

"Jadi pasien bisa datang terlebih dahulu, tidak menunggu parah. Perbulannya sekitar 1500 kunjungan," ungkapnya usai  peluncuran fasilitas Documentation Based Care (DBC) Klinik Utama Halmahera Medika, Jln. Halmahera, Kota Bandung, Minggu (16/2/2020).

Menurutnya meski lebih banyak didominasi oleh warga lanjut usia (lansia), tapi ada juga dari anak muda atau milenial yang mengeluhkan nyeri pinggang, punggung hingga leher. Hal tersebut, disebabkan oleh gaya hidup seperti penggunaan gadget maupun memaksakan dalam olahraga.

"Kasusnya seperti ingin lari 5 km setiap hari, tapi dipaksakan atau pemanasannya tidak benar, itu juga bisa kena," tuturnya.

Dikatakannya bahwa masalah yang timbul pada tulang maupun otot, tidak selalu disebabkan oleh hal yang berat seperti cedera olahraga atau cedera kerja. Namun juga lebih banyak disebabkan oleh pola hidup sehari-hari yang salah.

"Kita melihat seperti posisi duduk, posisi membaca atau mengangkat beban berat. Kasus terbanyak yang ditimbulkan oleh permasalahan pola hidup ini adalah nyeri punggung bawah," terangnya.

Dimas juga menuturkan bahwa mayoritas masyarakat di Indonesia belum menyadari mengenai pentingnya rehabilitasi medis. Dimana rehabilitasi medis sebagai upaya dini mengatasi masalah tulang, sendi maupun otot. Secara fisik maupun mental, rehabilitasi medis mengembalikan kemampuan dan kualitas hidup pasien seperti semula.

"RSKB Halmahera Siaga layanannya terus berkembang. Bukan hanya khusus bedah, juga punya non bedah. Di klinik Utama Halmahera Medika yang kami kembangkan sebagai klinik rehabilitasi medis, kini mempunyai fasilitas DBC pertama di Jawa Barat," ucapnya.

Ia menambahkan bahwa DBC dirancang dengan metode khusus berdasarkan pedoman rehabilitasi medis. Dimana hasilnya sudah terbukti di 20 negara dan 1000 klinik di seluruh dunia. 

"Melalui kerja sama dengan DBC, Halmahera Medika berharap dapat melayani masyarakat Jawa Barat dengan lebih baik, terutama masalah tulang maupun otot," tambahnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR