Dinilai Terburu-buru Pemindahan TPA "Molor"

Daerah

Minggu, 16 Februari 2020 | 17:56 WIB

200216180120-dinil.jpeg

Dally Kardilan

Alat berat yang ada di TPA Panembong sedang berusaha meratakan tumpukan sampah.

LANGKAH Pemkab Subang yang akan memindahkan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Panembong Kelurahan Parung Kecamatan Subang mendapat hambatan.

Selain dinilai kurang persiapan dan terburu-buru juga lokasi yang direncanakan masih belum jelas titiknya. Bahkan begitu mendekati waktu ultimatum Bupati Subang H.Ruhimat pembuangan sampah ke TPA Panembong hanya sampai awal bulan Februari, hingga kini masih belum jelas.

Malah memunculkan pro dan kontra di daerah yang disebut-sebut sebagai penggantinya di daerah Jalupang, Kecamatan Kalijati.

“Doakan saja cepat rampung, sekarang sedang digarap jalannya terlebih dulu,” jelas Ruhimat yang dihubungi, Minggu (16/2/2020).

Dirinya mengakui kalau ada penolakan warga karena belum memahaminya. Namun Ruhimat mengaku sudah memiliki solusi untuk jalan menunju pemindahan tempat pengelolahan sampah terpadu.

“Ya, kita sudah tampung semua masukan dan untuk jalan masuk semula ke area Kampung Tenjolaut, sekarang lebih ke depan, dan dua titik lokasi lainnya, yang mendekati jalur provinsi dan jauh dari pemukiman, atau juga sumber air sehingga tidak akan mengganggu warga," katanya dan hal ini sejak awal telah didukung oleh PTPN VIII.

Wakil Bupati Subang, Agus Masykur yang belum lama ini turun langsung menjelaskan pada masyarakat, guna mencegah terjadinya mis komunikasi, atau simpang siur kepastian pemindahan TPA Panembong, sehingga meresahkan masyarakat.

“Kalau pemindahan kami tunda-tunda, maka itu akan lebih gawat dan bahaya sekali karena TPA sudah tidak layak dan kalaupun dibenahi memerlukan biaya besar, “ungkapnya.

Selain lokasi TPA Panembong berada didekat kota dan pemukiman penduduk juga berada dilokasi patahan bumi dan berjarak kurang dari 50 meter dari badan sungai sehingga mudah abrasi, longsor dan sampah terbawa arus sungai, kuantitas sampah semakin meningkat dari tahun ketahun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dengan segala kegiatannya.

Dipilihnya daerah Kalijati karena merupakan kawasan perkebunan dengan dasar resistensi yang terendah, ditambah adanya pemberian tanah dari perkebunannya. Bahkan nantinya bukan hanya pembuangan akhir tetapi pengolahan sampah dengan tehnologi tinggi berbasis Catalitic Ektraction Proses (CEP), yaitu dari PT Maha Karya Sinergi hingga akan meghasilkan listrik, karbon diogsa, serta nitrogen yang bisa digunakan sebagai bahan bakar disel.

Galamedianews.com yang memantau ke lokasi TPA Panembong tampak tumpukan sampah sudah menggunung dan tidak bisa mampu lagi kalau didorong ke belakang. Sebab tidak jauh dari sana ada sungai Cileuleuy yang kerap bila hujan besar terbawa arus karena tebing di pinggir sungai longsor.

Setiap harinya sampah dari warga dan perusahaan mencapai 1000 ton dan tampak aktivitas di sana masih normal, seperti para pemulung yang mengais rizqi dengan mengumpulkan dan memilah-milah sampah plastic atau barang yang bisa dijadikan uang.

“Ya bagi kita yang dilapangan mah tergantung dari pimpinan saja, “kata petugas lapangan Amo yang ditemui di sana

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR