Teladani Perjuangan Walisongo, Kuatkan Komitmen Islam Kebangsaan

Bandung Raya

Minggu, 16 Februari 2020 | 11:26 WIB

200216112746-telad.jpg

ist

WALISONGO adalah kumpulan para wali yang menandakan jumlahnya yang 9, atau sanga dalam bahasa Jawa. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lainnya lagi menyebut kata sana berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat.

Hal tersebut disampaikan Wakil Sekretaris Pergunu Kota Bandung yang juga Penasehat IRMA Kota Bandung Ustadz Muhammad Irfansyah Maulana pada pengajian rutin Pengurus Ikatan Remaja Masjid (IRMA) di Masjid PWNU Jabar, Ahad (16/2/2020).

"Walisongo merupakan pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan yang dibuktikan dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam yang menyebar banyak di tanah Jawa" terangnya dalam keterangan yang disampaikan Sekretaris Pergunu, Rifa Anggyana kepada galamedianews.

Lebih lanjut "Para wali memengaruhi berbagai tatanan sosial. Rakyat kecil, pedagang, saudagar, pejabat pemerintah, hingga keluarga kerajaan dapat dengan mudah menerima ajaran Islam yang diajarkan oleh para wali dengan hikmah dan mauidhoh hasanah".

Menurutnya, ajaran yang ditinggalkan oleh Walisongo juga menunjukkan cara hidup secara damai dan toleran. Bahkan dengan umat agama lain, Islam yang ditinggalkan Walisongo dicatat sangat menghargai perbedaan agama. Hal ini dipengaruhi masih ada kekerabatan antara Sriwijaya dan Majapahit dengan Demak.

"Sultan Demak adalah anak kandung Raja Majapahit dan Sunan Ampel adalah keponakan Ratu Majapahit, Dwarawati. Maka sikap para Walisongo yang sangat toleran soal perbedaan agama sudah ditunjukkan sejak abad XV" jelasnya.

Pada intinya, kata dia, ajaran yang diwariskan oleh Walisongo sangat tepat untuk dijadikan inspirasi dalam memperkuat nilai kebangsaan yang berdasarkan Pancasila. Walisongo mengajarkan cara ber Islam dengan visi perdamaian, bukan Islam yang bermusuhan. Walisongo melatih hidup berterus terang, bukan hidup berperang.

"Untuk meneladani perjuangan Walisongo, maka sudah saatnya generasi penerus bangsa ini kembali merawat nilai-nilai kebangsaan sebagaimana yang diwariskan oleh nenek moyangnya" pungkasnya

Editor: Rosyad Abdullah

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR