Nyeri Punggung, Pinggang dan Leher Intai Milenial

Ragam

Sabtu, 15 Februari 2020 | 19:12 WIB

200215191429-nyeri.jpg

Novianti Nurulliah/PR

MILENIAL yang identik dengan gawai dalam kesehariannya perlu mewaspadai dengan sakit atau nyeri punggung, pinggang, leher dan bahu. Nyeri tersebut tak ayal berasal dari kebiasaan milenial yang bekerja di depan komputer maupun nongkrong di kafe dengan laptop serta bermain games di gawai maupun mengecek media sosial di telefon pintar.

Pewarta PR, Novianti Nurulliah melaporkan, sakit yang dianggap sepele tersebut ternyata jika dibiarkan akan menyebabkan kasus nyeri semakin parah sehingga harus dioperasi. Bahkan, nyeri tersebut bisa menyebabkan disabilitas bahkan disabilitas tubuh.

Direktur Klinik Halmahera Medika Hang Dimas Susanto mengatakan, dalam setahun setidaknya 20 persen dari ratusan pasien yang mengeluhkan sakit punggung dan pinggang harus menjalankan proses operasi. Selebihnya mereka melakukan terapi rutin. Sementara untuk yang mengeluhkan sakit leher hingga bahu perbulannya bisa mencapai puluhan pasien rawat jalan.

"Mereka tanpa sadar melakukan kebiasaan tersebut sehingga tiga sampai lima tahun kemudian mulai merasakan dampaknya nyeri pada punggung hingga pinggang kan kalau di kafe misalnya main laptop, posisi kursi kadang lebih tinggi ketimbang meja sehingga kita itu bakal membungkuk, kemudian main gadget itu otomatis menunduk," ujar Dimas pada peresmian Gedung DBC (Documentation Based Care) di Jalan Halmahera, Kota Bandung, Sabtu (15/2/2020).

Dimas menyarankan penggunaan gawai untuk melakukan posisi duduk yang benar dengan tegak lurus tidak membungkuk.

"Memang akan  cangkeul (pegal) tapi itu adalah isyarat bahwa kita harus berdiri atau jalan-jalan sebentar jangan terlalu lama duduk," Kata dia.

Hal itu, lanjut dia, sebagai upaya untuk meminimalisir rasa nyeri dan jangan sampai rasa nyeri tersebut semakin parah. Bahkan jika harus dioperasi, hal itu merupakan hal yang paling dihindari pasien karena kebanyakan tidak mau, selain itu pasti ada biaya yang tidak murah untuk biaya operasi tersebut.

Dimas pun meminta agar tidak mengabaikan nyeri tersebut dan membiasakan diri untuk tidak berlama-lama duduk membungkuk maupun menunduk. Jika rasa sakit mendera maka harus ditangani pada ahlinya dan alat yang sesuai peruntukkannya.

Diakui dia, pihaknya menawarkan fasilitas DBC, di dalamnya terdapat 12 alat rehabilitasi medis dari Finlandia yang disain khsusus untuk menormalkan otot-otot agar tetap terukur, terarah, hasilnya efektif dan efisien.

"Di DBC itu untuk terapi tulang punggung, leher, bahu dan lutut. Leher itu bisa sampe pundak, bahu biasanya pergelangan tangan, cedera lutut. Tujuan rehab medis ini agar tidak ada operasi," Kata dia.

Klinik DBD Pertama di Jabar
Sementara itu klinik DBC di Klinik Utama Halmahera Medika tersebut merupakan klinik pertama di Jabar setelah sebelumnya diterapkan di Jakarta dan Solo, Jawa Tengah. DBC diadopsi dari 20 negara dengan 1.000 klinik yang tersebar di seluruh dunia. Di sana terdapat berbagai macam alat rehab medik seperti alat kebugaran namun beda fungsi.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR