PD Persis Garut Selenggarakan Musda VIII

Daerah

Sabtu, 15 Februari 2020 | 16:59 WIB

200215170023-pd-pe.jpg

Agus Somantri

Pimpinan Daerah Persis Kabupaten Garut saat menggelar Musyawarah Daerah (Musda) VIII di Auditoriom Kampus STAI Persis, Jalan Aruji Kartawinata, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Sabtu (15/2/2020).

PIMPINAN Daerah Persatuan Islam (PD Persis) Kabupaten Garut menggelar Musyawarah Daerah (Musda) VIII di Auditoriom Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Persis Garut, Jalan  Aruji Kartawinata, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, 15-16 Februari.

Musyawarah VIII kali ini mengusung tema 'Integrasi Jihad Jam'iyyah untuk Memperkokoh Kemandirian Jama'ah Persis Garut'. Sebelum pelaksanaan Musyawarah Daerah, terlebih dahulu dilaksanakan acara penyerta, yaitu Seminar Pemikiran Aliran Sesat dan Jalan Sehat Keluarga Besar Persis Garut.  

Dalam acara pembukaan Musda ini pun, panitia memberikan penghargaan khusus kepada tokoh perintis Persis Kabupaten Garut diantaranya adalah KH. Jamaludin, KH. Syihabudin, KH. Komarudin, dan KH. Zaenudin.

Ketua PD Persis Kabupaten Garut, H. Ena Sumpena, dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan Musyawarah Daerah ini sebagai bentuk rasa syukur juga ketaatan kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan. Ia menyebut, Musyawarah Daerah VIII ini berdasarkan hasil musyawarah, maka diusung tema "Integrasi Jihad Jam'iyyah Untuk Memperkokoh Kemandirian Jama'ah Persis Garut".
 
"Musyawarah ini adalah bentuk syukur atas kenikmatan yang diberikan Allah SWT. Musyawarah ini juga sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dengan memaksimalkan diri dalam rangka kemandirian sesuai dengan tema yang diususng. Sebagaimana yang diungkapkan Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy'ari bahwa kebahagiaan itu terletak dari adanya rasa tolong menolong dalam hidup," ujarnya, Sabtu (15/2/2020).

Ena menuturkan, sesuai dengan tema, bahwa integrasi ini memiliki makna keterpaduan, keutuhan, kesatuan dari seluruh pihak. Menurutnya, kekuatan akan muncul jika ada kesatuan seluruh pihak.

"Persis yang fokus gerakannya dalam hal pendidikan, dakwah, ekonomi sosial dalam kesempatan musyawarah ini mengundang seluruh Ormas yang ada di Kabupaten Garut sebagai upaya membangun Garut secara keseluruhan Ormas yang berfaham Ahlul Sunnah wal Jama'ah," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, KH. Sirodjul Munir, menyampaikan bahwa dalam sebuah organisasi kegiatan musyawarah daerah ini menjadi hal yang harus dilakukan.

"Musyawarah ini adalah forum musyawarah tertinggi di tingkat Kabupaten untuk menentukan bagaiman mengevaluasi kinerja pengurus dan bagaimana ke depan membangun perjuangan dakwah Islam," ujar pria yang akarab disapa Ceng Munir tersebut.

Lebih lanjut Ceng Munir menuturkan, bahwa dalam proses musyawarah itu tidak hanya sekedar memilih pengurus saja, akan tetapi ada rekomendasi pderjuangan sebagai rancangan program kerja di masa yang akan datang.  

"Kami atas nama MUI berdoa semoga dakwah Persis lebih eksis dalam rangka ijul Islam wal muslimin. Tanpa Persis di MUI, MUI akan pincang. Tanpa Muhammadiyah, MUI juga akan pincang, begitu juga dengan ormas lainnya. Kita sebagai organisasi Islam harus saling menghargai dan menghormati," katanya.

Ceng Munir menambahkan, bahwa tantangan aktivis Islam ke depan akan semakin berat. Berbagai gangguan dan goncangan akan terasa berat terhadap aqidah umat Islam. Ia pun berpesan jangan sampai ideologi ahlu sunnah waljamaah mati.  

" Selain itu, untuk senantiasa melakukan amar makruf nahyi munkar dengan jiwa independen dan merdeka kepada siapapun," ucapnya.


Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR