Sebanyak 399 Warga KBB Positif Mengidap HIV/AIDS

Bandung Raya

Jumat, 14 Februari 2020 | 18:24 WIB

200214182412-seban.jpg

ist

ilustrasi

SEPULUH warga Kabupaten Bandung Barat dinyatakan positif mengidap penyakit HIV/AIDS. Data tersebut berdasarkan hasil laporan dari sejumlah puskesmas di wilayah KBB selama tiga bulan terakhir pada tahun lalu.

Pengelola Program HIV pada Komisi Penanggulangan AIDS KBB, Anzhar Ismail mengatakan, jumlah itu merupakan data terbaru pada Oktober-Desember 2019. Secara keseluruhan, jumlah penderita HIV/AIDS di KBB bertambah menjadi 399 orang.

"Sepuluh penderita HIV AIDS itu berasal dari berbagai kalangan dan profesi yang tersebar di wilayah KBB. Mulai dari pelajar, ibu rumah tangga, hingga pekerja seks komersial," terangnya, Jumat (14/2/2020).

Menurut Anzhar, mereka terdeteksi saat melakukan pemeriksaan di puskesmas dan melakukan pengobatan di rumah sakit. Pihak puskesmas pun mendata dan melaporkan temuan ini ke Komisi Penanggulangan AIDS KBB

Dia menjelaskan, banyak pasien HIV AIDS yang berhenti mengkonsumsi obat. Hal itu menjadi kendala serius dalam menjalani masa penyembuhan pasien.

"Mungkin karena mereka sudah merasa sehat dan sembuh, jadi mereka berhenti mengkonsumsi obatnya. Padahal, jika obat itu terus dikonsumsi bisa mencegah virus HIV untuk berkembang biak dalam tubuh," tuturnya seperti ditulis wartawan "PR", Cecep Wijaya.

Secara keseluruhan, dia mengungkapkan, jumlah kasus dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Penularan kasus HIV terbanyak berdasarkan kelompok risiko, yakni pada pengguna jarum suntik 9 persen (turun 2-3 persen) dan heteroseksual 53 persen (naik 2-3 persen).

Sementara, kasus HIV pada ibu rumah tangga 14 persen, dengan penemuan kasus baru rata-rata 50 orang per tahun.

"Berdasarkan kelompok usia, penularan banyak terjadi pada kelompok umur 21-29 tahun (52 persen). Peningkatan jumlah penemuan kasus di komuitas LSL (Laki Seks Laki). Status Epidemi HIV di Bandung Barat termasuk pada wilayah dengan epidemi terkonsentrasi, artinya masih banyak ditemukan di populasi kunci," ungkapnya.

Lebih lanjut dia menambahkan, para remaja juga menjadi kelompok usia yang berpotensi tertular HIV/AIDS seiring dengan timbulnya ketertarikan terhadap lawan jenis. Sebab, sebagian besar dari mereka tidak memiliki pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, sehingga memicu pada perilaku seks bebas yang menjadi penyebab utama penularan HIV/AIDS.

Dengan kondisi itu, pihaknya tahun lalu menggelar sosialisasi Gerakan 1.000 Remaja Milenial Remaja Peduli ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) untuk mewujudkan "three zeros", yakni tidak ada kasus baru, tidak ada kematian akibat HIV, dan tidak ada stigma terhadap ODHA.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR