Mata Uang Euro Jatuh pada Posisi Terendah

Dunia

Jumat, 14 Februari 2020 | 08:51 WIB

200214085223-mata-.jpg

EURO jatuh ke posisi terendah lebih dari dua tahun terhadap dolar pada akhir perdagangan Kamis (13/2/2020) waktu setempat karena kekhawatiran tentang kenaikan tajam jumlah kasus baru dalam wabah virus corona di Cina yang mendorong investor mencari aset-aset Amerika Serikat.

Amerika Serikat tempat lebih baik untuk investasi ketika menghadapi dampak ekonomi dari virus dari pada zona euro.

Jumlah kematian akibat virus corona di Provinsi Hubei Cina mencatat kenaikan 242 pada Kamis menjadi 1.310, dengan peningkatan tajam dalam kasus yang dikonfirmasi setelah mengadopsi metodologi baru untuk diagnosis, kata pejabat kesehatan.

"Eropa, dan Jerman khususnya, memiliki hubungan perdagangan yang sangat kuat dengan pasar Asia, dan terutama dengan China," kata Mazen Issa, ahli strategi valas senior TD Securities di New York. “Menjelang tahun ini, diperkirakan untuk rebound pertumbuhan moderat. Meskipun itu tampak masuk akal pada saat itu, gangguan akan menunda narasi tersebut."

Euro jatuh menjadi 1,0835 dolar yang merupakan terendah sejak Mei 2017. Euro menembus dukungan teknis pada Oktober serendah 1,0877 dolar pada Rabu (12/2). Itu membuat mata uang ini rentan terhadap kerugian lebih lanjut, kata para analis.

Mata uang tunggal juga jatuh terhadap mata uang safe haven franc Swiss menjadi 1,0610 franc, level terendah sejak Agustus 2015, sementara mata uang safe haven yen Jepang menguat terhadap dolar menjadi 109,78 yen.

Greenback telah diuntungkan terhadap euro dari carry trade -- aksi mengambil keuntungan dari perbedaan tingkat suku bunga antar negara -- yang populer, di mana investor meminjam dalam mata uang dengan imbal hasil rendah seperti euro dan berinvestasi dalam dolar atau mata uang lain yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.

Harapan bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga rendah, dan dapat memberikan akomodasi lebih jika virus corona membahayakan ekonomi global, mendukung selera risiko (risk on) dan dapat mengurangi kemungkinan aksi jual yang tajam di saham.

"Perspektifnya adalah suku bunga akan tetap rendah, dan itu menutupi beberapa sisi negatif dari sisi ekuitas," kata Issa.

Saham-saham mengatasi kelemahan awal untuk mencapai rekor tertinggi Kamis. 

Data AS pada Kamis menunjukkan harga-harga pokok konsumen AS meningkat pada Januari karena rumah tangga membayar lebih banyak untuk sewa dan pakaian, yang mendukung pendapat Federal Reserve bahwa inflasi akan bertahap naik menuju target dua persen.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR